Menuju konten utama

Mapala UI: Bukti Peduli terhadap Isu-Isu Lingkungan dan Sosial

Dengan mendukung dan berpartisipasi aktif terhadap SDGs, anggota Mapala UI mendapatkan kesempatan untuk bertindak nyata mempromosikan perubahan positif.

Mapala UI: Bukti Peduli terhadap Isu-Isu Lingkungan dan Sosial
Kegiatan Carbon Offesetting - Salah satu upaya penetralan karbon dari rangkaian kegiatan Baka - Raya Project “Pendakian Netral Karbon”. Saat ini Mapala UI tengah menginisiasi kegiatan alam netral karbon. Dimana di setiap kegiatan Mapala UI akan dihitung jumlah emisi karbon yang dihasilkan yang kemudian akan dilakukan penetralan dengan salah satunya menanam pohon. foto/Universitas Indonesia

tirto.id - Pada perayaan 17 Agustus 2020, masih di masa pandemi, tim Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia (UI) dengan heroik memasang dan membentangkan ornamen merah-putih di Gedung Pusat Administrasi Universitas (Rektorat) UI.

“Sejak itu, setiap tahun ornamen merah-putih menyemarakkan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di UI,” kata Amelita Lusia, Kepala Biro Humas dan Keterbukaan Informasi Publik UI.

“Kami sangat excited ketika mendapatkan kesempatan untuk dapat memasang ornamen merah-putih raksasa di kampus,” kata Salsabila Safira, yang saat itu menjabat Ketua Umum Mapala UI periode 2020. Sebelum peristiwa itu, setiap tahun Mapala UI memiliki agenda guna memanfaatkan momentum 17 Agustus, yakni melakukan upacara dan mengibarkan bendera di berbagai tempat antimainstream.

“Sebut saja pada tahun 2019, kami mengibarkan bendera di Gua Grubug, Gunung Kidul dan Tebing Sumbing Gunung Kelud. Pada tahun 2018, kami melakukan pengibaran bendera di udara di atas Pegunungan Arfak. Kemudian, pada tahun 2017, Mapala UI mengibarkan bendera di puncak Tebing Puruk Sandukui, Kalimantan Tengah dan Gua Hatusaka, Maluku,” sambung Salsa.

Tahun 2020, karena situasi pandemi, Mapala UI terpaksa menunda bergiat di alam. Sebagai gantinya, mereka memperoleh tawaran untuk membentangkan bendera kebangsaan di dalam kampus. Dengan bersemangat, tawaran itu tidak hanya diterima, tapi juga didukung penuh oleh Mapala UI. “Kami telah berpengalaman melakukan ekspedisi ke gua vertikal di Indonesia. Saya sendiri telah menjelajahi Gua Grubug dengan ketinggian lebih kurang 90 meter, sedangkan ketinggian gedung Rektorat UI hanya berkisar 48 meter,” kata Salsa.

Bodyteks 1 Advertorial UI

Ornamen merah putih di gedung Pusat Administrasi UI. foto/Universitas Indonesia

Mapala UI merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat universitas yang berdiri sejak 12 Desember 1964. Ide pembentukan organisasi pelopor pecinta alam di kampus ini dicetuskan oleh Soe Hok Gie, mahasiswa Fakultas Sastra UI Jurusan Sejarah (1962-1969).

UKM ini mendedikasikan diri berdasarkan nilai-nilai kepedulian terhadap sosial, alam, dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan SDGs yang juga mencakup tujuan-tujuan serupa, khususnya pada pilar pembangunan sosial dan lingkungan.

SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 Target supaya negara-negara di dunia punya visi pembangunan berkelanjutan yang sama, yang diharapkan bisa tercapai pada tahun 2030. Tujuan tersebut di antaranya adalah kehidupan sehat dan sejahtera; pendidikan berkualitas; air bersih dan sanitasi layak; energi bersih dan terjangkau; berkurangnya kesenjangan; kota dan permukiman berkelanjutan; dan penanganan perubahan iklim.

Tujuan dan target SDGs tersebut mencakup beberapa target yang terkait erat dengan pelestarian alam dan keanekaragaman hayati. “Sebagai pecinta alam, kami menyadari bahwa upaya untuk menjaga ekosistem dan sumber daya alam sangat penting demi keberlanjutan planet ini dan arena bermain kami,” kata M. Shalahuddin Yahya, Ketua Mapala UI.

Selain itu, sambung Yahya, dengan mendukung dan berpartisipasi aktif terhadap SDGs para anggota Mapala UI yang notabene mahasiswa aktif mendapatkan kesempatan untuk bertindak nyata mempromosikan perubahan positif. “Melalui program-program dan kegiatan yang mendukung SDGs, para anggota Mapala UI dapat merasakan dampak langsung dari kontribusi mereka terhadap tujuan-tujuan global.”

Infografik Advertorial UI

Infografik Advertorial Giat Berdampak Ala Mapala UI. tirto.id/Gery

Saat ini, program jangka pendek Mapala UI adalah berfokus pada pendidikan berkualitas, air bersih dan sanitasi layak, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Sedangkan dalam jangka panjang, wadah bagi mahasiswa UI untuk berkegiatan di alam bebas, berkontribusi bagi masyarakat, serta peduli terhadap pelestarian lingkungan ini berfokus pada penanganan dan perubahan iklim serta ekosistem daratan.

“Hal ini tecermin dari program-program yang sudah dan saat ini sedang dijalankan oleh Mapala UI,” ujar Yahya. Ia menambahkan, setiap program atau kegiatan penjelajahan alam (ekspedisi) yang dijalankan oleh Mapala UI tidak pernah terlepas dari nilai-nilai organisasi dan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Maka dari itu, dalam setiap kegiatan Mapala UI selalu terselip kegiatan bakti sosial yang merupakan bentuk kepedulian terhadap kehidupan sosial.

Dalam dua tahun terakhir, bakti sosial yang dilakukan oleh Mapala UI berfokus pada sektor pendidikan, yaitu dengan membangun perpustakaan atau taman baca sebagai salah satu upaya menyediakan fasilitas pendidikan dan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, utamanya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Dalam setiap program dan kegiatan yang dijalankan, Mapala UI juga berupaya untuk menerapkan waste management dengan melakukan pengurangan sampah, pemilahan sampah, dan upaya daur ulang sampah guna mendorong sikap konsumsi yang bertanggung jawab dan untuk mendorong terciptanya ekonomi sirkular pada masyarakat Indonesia.

Bodyteks 2 Advertorial UI

Pemasangan ornamen merah putih di Gedung Pusat Administrasi UI oleh Mapala UI. foto/Universitas Indonesia

Satu hal lagi yang menarik dari Mapala UI adalah kampanye pendakian netral karbon sebagai salah satu upaya untuk mengatasi ancaman krisis iklim.

“Dalam setiap kegiatan, kami menghitung jumlah emisi karbon yang dihasilkan untuk selanjutnya dilakukan evaluasi serta upaya penetralan (carbon offsetting). Sejauh ini, Mapala UI juga telah mengembangkan kalkulator karbon khusus pendakian yang telah disesuaikan untuk memperkirakan emisi karbon yang dihasilkan di kegiatan-kegiatan Mapala UI. Kampanye ini juga terus dibarengi dengan kampanye-kampanye tentang pentingnya kawasan konservasi (hutan lindung dan taman nasional) sebagai penyangga kehidupan di tengah ancaman krisis iklim,” beber Yahya.

Partisipasi anak-anak muda dalam upaya membangun dan memperbaiki dunia, termasuk Tanah Air, memiliki banyak alasan.

Menurut Yahya, anak-anak muda sering kali membawa energi dan kreativitas segar. Mereka kerap memiliki perspektif yang unik dan kemampuan untuk berpikir di luar kotak, yang dapat membawa solusi inovatif terhadap berbagai masalah. Hemat Yahya, anak-anak muda memiliki semangat untuk melakukan perubahan dan sering kali memiliki keberanian untuk menantang status quo.

Bodyteks 3 Advertorial UI

Program Crash to Cash UIMN (Universitas Indonesia Membangun Nusa) - Progam edukasi ke masyarakat bagaiaman cara mengolah sampah plastik untuk selanjutnya dijadikan menjadi paving blok. Sebagai salah satu bentuk konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. foto/Universitas Indonesia

Selain itu, generasi muda saat ini umumnya memiliki kesadaran yang tinggi terhadap isu-isu lingkungan dan sosial.

“Kami merasa terpanggil untuk melakukan tindakan konkret yang dapat membantu melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Kami juga tumbuh dalam era teknologi, dan keterampilan teknologi yang dimiliki dapat digunakan untuk mengatasi masalah dan menyebarkan pesan secara efisien.”

Hal terpenting, menurut Yahya, anak-anak muda adalah pemimpin masa depan. Keterlibatan sejak dini dalam upaya keberlanjutan dan pembangunan positif dapat memberikan rasa pemberdayaan pada pada anak muda, memberikan mereka kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sebagai individu yang bertanggung jawab dan peduli terhadap dunia di sekitar mereka.

"Dengan begitu", lanjut Yahya kemudian, "anak muda merasa memiliki peran dalam membentuk masa depan dan akan membentuk pemimpin yang peduli dan bertanggung jawab di masa depan.”

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis