Macam-Macam Puasa Sunnah yang Dianjurkan Nabi, Waktu, & Manfaatnya

Kontributor: Abdul Hadi, tirto.id - 5 Jul 2022 12:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Berikut ini macam-macam puasa sunnah dan waktu yang disunahkan memperbanyak puasa.
tirto.id - Macam-macam puasa sunnah di antaranya puasa Senin-Kamis, puasa Asyura (10 Muharam), puasa Arafah (9 Zulhijah), hingga puasa 6 hari pada bulan Syawal.

Puasa adalah ibadah istimewa. Dalam hadis qudsi diterangkan, setiap amal kebaikan manusia akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat, kecuali amal puasa. Allah berfirman, "Puasa tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya".

Dalam puasa, seorang muslim belajar untuk mengendalikan hawa nafsu. Awalnya sepanjang terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu magrib). Namun, dalam tingkat lanjut, seperti yang disebutkan al-Ghazali dalam tiga level puasa, ibadah ini pada level paling khusus, akan membuat seorang muslim hanya memikirkan Allah.

Nabi Muhammad sendiri bersabda, "Tidaklah seorang hamba berpuasa di jalan Allah kecuali Allah menjauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh 70 musim (tahun)." (H.R. Muslim).

Macam-Macam Puasa Sunnah sesuai Anjuran Nabi


Puasa bukan hanya puasa wajib yang dikerjakan selama 29 atau 30 hari selama bulan Ramadan. Terdapat puasa-puasa sunah sebagai berikut.

1. Puasa Asyura

Puasa Asyura dilakukan pada 10 Muharram setiap tahun. Keutamaan puasa ini tergambar dari hadis riwayat Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad bersabda, "Puasa paling utama setelah [puasa] Ramadan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam [tahajud].” (H.R. Muslim 1982).

Puasa Asyura dapat dikerjakan berurutan dengan puasa tasu'a (puasa 9 Muharam). Nabi Muhammad tidak sempat mengerjakan puasa tasu'a karena sudah terlebih dahulu meninggal. Namun, diriwayatkan Abdullah bin 'Abbas, Rasulullah sudah bersabda pada saat puasa Arafah tahun sebelumnya, "Apabila tiba tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan." (H.R. Muslim).

Keutamaan puasa Asyura adalah, dihapusnya dosa-dosa kecil setahun sebelumnya. Diriwayatkan oleh Abu Qatadah al-Anshary, ketika Nabi ditanya soal puasa sunah ini, beliau menjawab, "Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun lampau,” (H.R. Muslim 1162).

2. Puasa 6 Hari pada Syawal

Setelah keutamaan puasa 'Asyura yang demikian besar, puasa sunah yang tak kalah agungnya adalah puasa sunah enam hari di Syawal selepas Ramadan. Ganjaran bagi orang yang berpuasa sunah pada Syawal adalah seperti orang yang berpuasa setahun penuh tanpa batal.

Dari Abu Ayyub al-Anshoriy, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian dilanjutkan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh,” (HR. Muslim).

Imam Nawawi dalam kitab Syarh Muslim menyatakan, puasa 6 hari pada bulan Syawal sebaiknya dilaksanakan berurutan. Jika tidak bisa, maka boleh saja mengerjakan puasa tersebut secara tidak berurutan (misalnya berselang beberapa hari). Seseorang akan tetap mendapatkan keutamaannya.



3. Puasa 8 (Tarwiyah) dan 9 (Arafah) Zulhijah

Puasa sunah lainnya adalah puasa 8 dan 9 Zulhijah. Puasa tanggal 8 disebut puasa Tarwiyah. Ada versi yang menyebutkan, disebut tarwiyah karena pada hari ini Nabi Ibrahim merenung dan berpikir (rawwa-yurawwi-tarwiyah) tentang mimpi perintah Allah menyembelih putranya sendiri, Ismail. Sedangkan pada hari ke-9, yang kemudian disebut hari Arafah, Ibrahim menjadi tahu ('arafa) makna mimpinya.

Keutamaan puasa Tarwiyah dan 'Arafah tergambar dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu An Najjar dan Abdullah bin 'Abbas bahwa Nabi bersabda, "Puasa pada hari Tarwiyah (Zulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari 'Arafah (9 Zulhijah) akan mengampuni dosa dua tahun,” (H.R. Tirmidzi).

4. Puasa Ayyamul Bidh (Pertengahan Bulan Tahun Hijriah)

Puasa sunah rutin yang dapat dijalankan setiap bulan adalah puasa tiga hari setiap pertengahan bulan Hijriah, atau disebut puasa hari putih (ayyamul bidh). Puasa ini dikerjakan pada ranggal 13, 14, dan 15 setiap bulannya.

Keutamaan puasa ayyamul bidh diriwayatkan oleh Abu Dzar Alghifari bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda: "Siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan maka puasa itu dengan puasa satu tahun," (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

5. Puasa Senin dan Kamis

Puasa sunah rutin lainnya dapat dilakukan dua hari dalam seminggu, yaitu pada Senin dan Kamis. Dalilnya adalah sabda Nabi Muhammad, "Berbagai amalan dihadapkan [kepada Allah] pada Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan kepada-Nya (dalam keadaan) aku sedang berpuasa," (HR. Tirmidzi).

6. Puasa Nabi Daud

Puasa ini dilakukan dengan cara selang-seling, sehari berpuasa dan sehari tidak. Puasa ini adalah puasa sunah paling disukai oleh Allah. Nabi Muhammad berkata, "Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Nabi Daud. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Bulan-bulan yang Disunahkan Memperbanyak Puasa


Selain puasa sunah di atas, terdapat bulan-bulan tertentu yang dianjurkan memperbanyak ibadah dan puasa. Bulan tersebut adalah Sya'ban dan bulan-bulan haram (asyhurul hurum), yakini Dzulqa'dah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab pada penanggalan hijriah.

Keutamaan menjalankan puasa pada Sya'ban tergambar dalam hadis riwayat Usamah bin Zaid, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Bulan Sya’ban adalah bulan ketika manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan,” (H.R. Nasa'i).

Sementara itu, Dzulqa'dah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab merupakan bulan-bulan suci ketika amalan baik dilipatgandakan pahalanya. Oleh sebab itu, ibadah puasa dianjurkan untuk diperbanyak

Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Latha'if al-Ma'arif (1989:207) menyitir Ibnu ’Abbas yang mengatakan, “Allah mengkhususkan 4 bulan tersebut (Dzulqa'dah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak."


Manfaat Puasa Bagi Kesehatan: Detoksifikasi & Sarana Benahi Mental


Mengutip Al Jazeera, saat seseorang tidak mengonsumsi makanan apa pun maka tubuh segera melakukan proses pembuangan racun (detoks). Sistem pencernaan juga diberikan waktu untuk beristirahat sejenak. Di samping itu usus turut berkonsentrasi membersihkan diri dan memperkuat lapisan yang dimilikinya.

Aktivitas pembersihan usus tersebut turut memicu sebuah proses yang dinamakan autophagy. Saat autophagy terjadi, maka sel-sel tubuh memperbaiki diri dan menyingkirkan berbagai partikel sel yang rusak dan berbahaya.

Di samping itu, selain menahan lapar dan dahaga, seorang muslim yang berpuasa diharuskan pula menahan diri dari amarah hingga hawa nafsu. Salah satu perintah menjaga emosi saat puasa ada di salah satu hadits dari Abu Hurairah, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa adalah membentengi diri, maka bila salah seorang kamu di hari dia berpuasa janganlah berkata kotor dan jangan teriak-teriak, dan jika seseorang memakinya atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan “Sesungguhnya aku sedang berpuasa." (HR. Bukhari 1904 & Muslim 1151)

Hal-hal yang berkaitan dengan masalah psikologis seperti disebutkan pada hadits tersebut, ternyata lebih mudah diterapkan ketika seseorang berpuasa. Puasa turut menjaga kesehatan mental pelakunya.

Michael Mosley dalam buku Fast Diet mengungkapkan, puasa membuat otak melepas zat kimia bernama BDNF. Zat kimia ini membantu melindungi sel-sel otak dan menurunkan depresi, kecemasan, hingga risiko terkena demensia. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila orang-orang berpuasa cenderung memiliki kejiwaan yang tenang dan lebih mampu mengendalikan emosinya.

Manfaat menjalankan puasa sebenarnya lebih luas lagi terhadap kesehatan mental. Situs Cleveland Clinic Abu Dhabi mencatat, puasa menjadi metode "supercharging" bagi otak dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak baru. Efeknya adalah respons otak menjadi lebih tajam dalam mengolah informasi dari sekitar. .

Penelitian juga menunjukkan bahwa puasa membuat otak lebih tahan stres, mudah beradaptasi terhadap perubahan, dan meningkat suasana hati. Peningkatan kemampuan mengingat dan belajar turut terdongkrak.

Manfaat lain melakukan puasa adalah memengaruhi kadar lemak dalam tubuh. Puasa membantu penurunan kolesterol darah yang pada gilirannya dapat mencegah serangan jantung, stroke, masalah kardiovaskular lainnya. Di samping itu, puasa bisa memperbaiki kualitas tidur dengan mengatasi insomnia dan menurunkan risiko beberapa jenis kanker seperti kanker payudara.


Baca juga artikel terkait MACAM PUASA SUNAH atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Fitra Firdaus
Penyelaras: Ibnu Azis & Yulaika Ramadhani
DarkLight