tirto.id - Bias sejarah adalah sesuatu yang sering terjadi dalam cara kita memandang masa lalu. Tidak semua cerita sejarah disajikan secara utuh atau tanpa pengaruh dari sudut pandang tertentu. Hal ini membuat kita perlu lebih jeli saat mempelajari kisah-kisah dari masa lalu.
Mengapa terdapat bias sejarah menjadi pertanyaan penting karena sering kali pemahaman tentang masa lalu dipengaruhi oleh banyak faktor. Kadang, fakta-fakta penting terlewatkan atau dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Akibatnya, gambaran sejarah yang kita terima bisa jadi kurang lengkap atau miring.
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui macam-macam bias sejarah dan bagaimana cara menghindarinya. Dengan pendekatan yang tepat, kita bisa mendapatkan pandangan sejarah yang lebih seimbang.
Apa itu Bias Sejarah?
Bias sejarah adalah peristiwa masa lalu yang ditulis dengan sikap subjektif, memihak salah satu pihak, atau memang dideskripsikan menyimpang (menyeleweng).
Dalam KBBI Daring, kata “bias” mempunyai arti “menyimpang”. Jika diikuti oleh kata “sejarah”, maka pengertiannya adalah sejarah yang ditulis secara menyimpang atau tidak sesuai.
Tulisan atau historiografi sejarah yang menyimpang ini biasa terjadi di dalam peristiwa masa lalu yang bersifat kontroversial (Sari Oktafiana dan kawan-kawan, Ilmu Pengetahuan Sosial, 2021, hlm. 55).
Bias dalam sejarah muncul ketika ada kecenderungan untuk tidak obyektif atau condong kepada kelompok tertentu saat menceritakan kembali peristiwa masa lalu. Fakta bahwa setiap individu bisa saja menafsirkan satu kejadian dengan cara dan makna yang berbeda-beda adalah hal yang sangat mungkin terjadi.
Ketika menelaah sejarah, pandangan pribadi atau perspektif seorang peneliti bisa memengaruhi cara mereka memahami suatu peristiwa, sehingga menciptakan persepsi yang subjektif.
Contoh bias sejarah dapat ditemukan dalam penulisan sejarah kolonial yang hanya menonjolkan peran penjajah dan mengabaikan perjuangan rakyat lokal. Narasi seperti ini sering menggambarkan penjajahan sebagai "misi pemberadaban," padahal banyak terjadi penindasan.
Penyebab dan Mengapa Terdapat Bias Sejarah?
Penyebab bias sejarah muncul karena pandangan penulis sejarah yang tidak sepenuhnya netral. Seringkali, penulis membawa latar belakang budaya dan ideologi pribadi yang memengaruhi cara mereka menceritakan peristiwa. Akibatnya, sejarah yang disajikan bisa lebih menguntungkan kelompok tertentu.
Keterbatasan sumber menjadi faktor penting lainnya. Tidak semua fakta atau kejadian tercatat secara lengkap dan ada pula dokumen yang hilang atau sengaja disembunyikan. Hal ini membuat gambaran masa lalu menjadi tidak utuh dan terkadang salah tafsir.
Selain itu, kepentingan politik sering memengaruhi penulisan sejarah. Sejarah kadang dipakai untuk mendukung kekuasaan atau memperkuat identitas nasional sehingga fakta dipilih sesuai dengan tujuan tersebut. Akibatnya, sisi lain yang kurang menguntungkan bisa diabaikan.
Untuk mengurangi bias, penting bagi pembaca dan sejarawan untuk mencari berbagai sumber dan perspektif. Membandingkan narasi yang berbeda dapat membantu mendapatkan gambaran yang lebih seimbang.
Macam-Macam Bias Sejarah
Dalam penulisan sejarah (kerap disebut historiografi), unsur-unsur penting yang harus dicantumkan adalah keterangan waktu, tempat, dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.
Selain itu, waktu tersebut juga diurutkan mulai dari pemicu, puncak, hingga penyelesaian.
Kemudian, tempat juga merupakan hal yang penting dalam tulisan sejarah. Dengan begitu, kejelasan lokasi peristiwa bisa ditemukan melalui teks.
Terakhir, tokoh yang terlibat di dalamnya juga mesti diselipkan. Hal ini dilakukan demi menjabarkan pengaruh atau keterlibatan tokoh dalam peristiwa yang terjadi di tempat dan waktu tersebut.
Untuk macam-macam bias sejarah, terdapat dari tiga poin penting di atas. Pertama, penyelewengan bisa saja terjadi pada keterangan waktu.
Kedua, bisa juga terjadi pada penjabaran lokasi. Sementara terakhir, berpotensi juga terjadi pada keterangan tokoh yang terlibat.
1. Bias Waktu Sejarah
Dalam bentuk bias ini, sejarah dituliskan dengan latar waktu yang tak sesuai dengan fakta. Padahal, terdapat data konkret tentang waktu tersebut.Terkadang, ada penulis yang menulis sejarah hanya dengan satu sumber. Kendati salah, ia tetap menuliskan lantaran tak ingin mencari bahan tulisan yang lebih baik.
2. Bias Tempat Sejarah
Jenis bias kedua berlaku pada tempat peristiwa sejarah. Pencantuman lokasi dalam teks sejarah merupakan komponen penting lantaran bisa menjabarkan kondisi di suatu lingkungan.Misal, Indonesia pernah menjadi lokasi penjajahan Eropa selama berabad-abad. Dengan begitu, jelas bahwa lokasi kejadiannya adalah Sabang sampai Merauke.
3. Bias Tokoh Sejarah
Selain dua bias di atas, sejarah yang melibatkan tokoh-tokoh tertentu juga berpotensi dibiaskan. Sebut saja ketika ada kelompok yang mencoba memberontak dari sebuah negara berdaulat.Suatu hari di masa depan, ada yang menulis bahwa pemberontakan tersebut terjadi lantaran ulah negara.
Padahal, mereka yang memberontak sudah diberikan fasilitas yang baik di masa lalu. Dengan begitu, tokoh-tokoh ini mengalami bias karakter karena diubah sesuai sudut pandang.
Cara Menghindari Bias Sejarah
Berdasarkan catatan Hansiswany (2017) dalam situs Program Studi Pendidikan Sejarah UPI, bias sejarah yang ditulis berdasarkan unsur subjektif tidak diperbolehkan. Hal ini dapat merusak sejarah yang seharusnya ditulis secara objektif.
Cara menghindari bias sejarah, seorang penulis harus mengadakan analisis terhadap sumber-sumber yang ditemukan. Bukan hanya mengacu pada satu sumber, tapi juga melihat keterangan dari sumber lain.
Setelah menemukan berbagai macam sumber yang bisa dijadikan tulisan, harus dipilah dahulu. Pemilahan ini diadakan demi mengeliminasi sumber-sumber yang dirasa tak sesuai.
Jika sudah selesai menyeleksi, penulis bisa mulai melakukan eksekusi dalam membuat historiografi. Tentunya, dengan menggunakan kosa kata netral dengan tidak memihak sisi manapun.
Jika kamu ingin membaca artikel lainnya seputar materi ajar pelajaran, kamu bisa mengunjungi tautan tirto.id di bawah ini.
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Dhita Koesno
Penyelaras: Satrio Dwi Haryono
Masuk tirto.id







































