LSI: Elektabilitas PDIP-Gerindra Tak Sesuai Jargon Kampanye Pilpres

Oleh: Felix Nathaniel - 20 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Survei LSI Denny JA menyimpulkan elektabilitas PDIP mengungguli Gerindra meski keduanya saling mengejar. Misalnya, PDIP unggul di pemilih wong cilik, sementara Gerindra di kelompok terpelajar.
tirto.id - Hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mencatat elektabilitas PDIP masih unggul atas partai-partai lain di Pemilu 2019.

Survei ini mengukur elektabilitas partai-partai peserta Pemilu 2019 pada enam kategori warga pemilik hak pilih, yakni pemilih muslim, pemilih non-muslim, pemilih millenial, pemilih wong cilik, pemilih perempuan (emak-emak) dan pemilih terpelajar.

Hasil survei itu mencatat elektabilitas PDIP menduduki tempat teratas di semua kelompok pemilih, kecuali kalangan terpelajar. Elektabilitas Gerindra membayangi PDIP dengan menempati posisi kedua di 3 kelompok dan unggul pada posisi teratas di satu jenis pemilih, yakni kaum terpelajar.

Menariknya, sebagai 2 partai pengusung utama capres-cawapres di Pilpres 2019, PDIP dan Gerindra menguasai kelompok pemilih dengan karakter bertolak belakang dari segi kemampuan ekonomi dan pendidikan.

Survei LSI Denny JA menemukan PDIP unggul di tempat teratas untuk kategori pemilih wong cilik atau warga dengan penghasilan di bawah Rp2 juta. Di kategori pemilih ini, elektabilitas PDIP di posisi pertama, yakni 22,8 persen. Sementara di tempat kedua, Gerindra dengan elektabilitas 12,9 persen.


Sedangkan Gerindra memiliki elektabilitas tertinggi di antara partai-partai lain pada kelompok pemilih terpelajar, yakni 23,9 persen. Di posisi kedua untuk kategori ini, ada PDIP dengan elektabilitas 15,9 persen. Kaum terpelajar ini berpendidikan tinggi, dari sarjana, magister hingga doktor.

Peneliti LSI Denny JA Rully Akbar menilai elektabilitas PDIP dan Gerindra pada 2 kelompok pemilih itu berkebalikan dengan jargon kampanye yang diusung tim sukses dua kandidat di Pilpres 2019.

Tim sukses (Timses) Joko Widodo seringkali mengeluarkan jargon "yang waras pilih Jokowi." Adapun Timses Prabowo Subianto kerap memainkan jargon membela rakyat miskin.

Rully menjelaskan hal ini menunjukkan bahwa timses kedua capres itu mengeluarkan jargon untuk menarik dukungan dari pemilih yang belum mereka kuasai.

"Klaim mereka memang malah bertolak belakang. Ini justru cara mereka meraih kelompok yang belum di kubu mereka," kata Rully di kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Rabu (20/2/2019).


Menurut Rully, kelompok terpelajar memilih Gerindra karena partai tersebut identik dengan Prabowo. Dia mengamati tudingan bahwa pendukung Prabowo kerap menyebar hoaks ternyata tidak berpengaruh pada pilihan politik kelompok pemilih itu. Pemilih terpelajar, kata dia, kemungkinan besar sudah punya pilihan yang sulit berubah.

"Mereka [pemilih terpelajar] punya kritik ke incumbent [petahana] dan mungkin tidak dilaksanakan sehingga mereka menjatuhkan pilihan ke lawan incumbent: Prabowo atau Partai Gerindra," ujar Rully.

Survei LSI Denny JA ini dilakukan terhadap 1.200 responden pada 18-25 Januari 2019 di 34 provinsi di Indonesia. Survei ini dilakukan dengan wawancara tatap muka dan kusioner. Margin of error dalam survei ini 2,8 persen.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Addi M Idhom