Kurma Ruthab dan Tamr yang Bikin Sehat

Ilustrasi buah kurma. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Yulaika Ramadhani - 30 Mei 2017
Dibaca Normal 2 menit
Kurma mengandung kadar gula yang tinggi, apakah aman untuk penderita diabetes?
Bulan Ramadan adalah bulan kurma. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan impor kurma ke Indonesia pada April 2017 melonjak hingga sebesar 49,26 persen. Di sisi lain, Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Muhammad Al-Shuaibi memberi donasi berupa kurma sejumlah 200 ton.

Meski permintaan tinggi, Indonesia bukanlah tempat yang tepat untuk menanam kurma. Buah ini perlu tempat dengan intensitas cahaya tinggi dan tanah berpasir. Maka, kita pun mengimpor kurma dari negara-negara di Jazirah Arab dan wilayah Magrib.

Macam-macam jenis kurma yang datang di pasar-pasar. Ada yang harganya relatif murah, ada juga yang mesti ditukar dengan ratusan ribu rupiah per kilogram. Orang belanja kurma sesuai kesukaan dan kemampuannya, yang penting kurma. Sebab, buah manis ini kerap dikonsumsi sebagai hidangan kala berbuka. Sebuah hadis, selain menganjurkan segera berbuka puasa, juga menganjurkan berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah), apabila tidak ada maka boleh dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada pula maka dengan air putih.

Namun, ada juga pertanyaan terkait kurma. Buah ini, seperti banyak orang tahu, rasanya sangat manis. Sehatkah ia bagi tubuh kita?

Kurma manis karena kandungan gula yang tinggi. Namun, tidak seperti kandungan gula dalam sumber makanan lain, kandungan gula dalam kurma dapat langsung diserap oleh tubuh. Kandungan gulanya, fruktosa namanya, berbeda dengan kandungan gula dalam makanan yang lain yang harus diuraikan terlebih dahulu sebelum diserap tubuh.

Fruktosa bisa dengan cepat dan langsung diserap oleh organ pencernaan, untuk kemudian dikirim ke seluruh tubuh, khususnya ke organ-organ inti seperti otak, saraf, sel darah merah, dan sel pembersih tulang

Kembali ke soal manisnya kurma, apakah ia tak berbahaya buat pengidap diabetes? Munadi, peserta Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran USU, Medan dalam penelitiannya mengenai Perubahan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe-2 yang Terkontrol Setelah Mengkonsumsi Kurma, menyatakan bahwa mengkonsumsi 3 biji kurma atau sekitar 15 gram tidak menaikkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes, baikpenderita yang mendapat terapi OHO maupun yang mendapat insulin.

Kurma juga punya nilai indeks glikemik yang relatif rendah. Indeks glikemik, menurut profesor Ilmu Nutrisi di University of Toronto Canada David J.A. Jenkins, digunakan sebagai dasar yang pasti dalam menentukan respons glukosa darah tubuh. Bahan makanan dikatakan rendah jika mempunyai indeks glikemik kurang dari 55, sedangkan kurma basah sendiri mempunyai indeks glikemik sebesar 46.



Kurma juga sangat dianjurkan sebagai hidangan pembuka dalam berbuka puasa. Hal ini terkait dengan kebutuhan gula dan air yang merupakan zat pertama yang dibutuhkan orang berpuasa setelah melalui masa menahan makan dan minum.

Berkurangnya glukosa (zat gula) pada tubuh dapat mengakibatkan penyempitan dada dan gangguan pada tulang-tulang. Di sisi lain, berkurangnya air dapat melemahkan dan mengurangi daya tahan tubuh. Hal ini berbeda dengan orang berpuasa yang langsung mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika berbuka. Di sisi lain, kita membutuhkan sekitar tiga jam atau lebih agar sistem pencernaan dapat menyerap zat gula tersebut.

Arshad H. Rahman, seorang peneliti dalam ulasannya, menyatakan bahwa dalam buah kurma terkandung antioksidan yang berperan penting dalam pengobatan. Dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormon oksitosin yang dapat mempercepat proses kelahiran, serta membantu pelebaran serviks saat persalinan sehingga proses persalian menjadi lancar.

Galuh Nugraheni, master kedokteran di Kebidanan UNSIKA, dalam penelitiannya mengenai pengaruh pemberian kurma kering (tamr) terhadap kemajuan proses persalinanan ibu menjelaskan bahwa 36 dari 72 ibu hamil yang mengkonsumsi kurma kering mengalami persalinan yang lebih lancar dibanding yang tidak mengkonsumsi.

Hasil penelitian tersebut sesuai dengan fungsi penting kurma dalam menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serat yang bertugas mengontrol laju gerak usus. Proses tersebut yang kemudian akan menguatkan rahim, terutama ketika melahirkan, dan dapat mencegah terjadi perdarahan bagi ibu hamil ketika melahirkan.

Kurma berperan dalam mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu kehamilan berikutnya. Para pakar diet menilai kurma sebagai makanan terbaik bagi wanita hamil dan ibu menyusui. Sebab, kurma mengandung elemen-elemen yang membantu meringankan depresi ibu serta memperkaya ASI dengan zat-zat yang mendukung kesehatan dan daya tahan bayi.

Namun, sebaiknya Anda perlu mengingat bahwa kurma yang paling baik dikonsumsi ibu hamil adalah jenis kurma basah. Sebab kandungan dalam kurma ini lebih baik dari jenis kurma yang lain. Buah kurma basah mengandung hormon oksitosin yang dapat membantu pelebaran serviks saat persalinan sehingga proses persalinan menjadi lancar. Kurma basah juga dapat mencegah terjadinya perdarahan setelah melahirkan dan mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala.

Anda sudah punya kurma untuk berbuka?

Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight