"Kita" dan "Kami" yang Gagal Dipahami Para Cagub-Cawagub DKI

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 27 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Siapa kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang paling banyak salah menggunakan kata ganti?
tirto.id - Sejak Ira Koesno membuka acara debat Pilgub DKI 2017 dengan ucapan “Selamat malam Bapak, Ibu, serta hadirin di ruang Birawa, Hotel Bidakara,” dan menutupnya dengan kalimat “Selamat Malam. Terimakasih”, total ada 11.241 kata yang diucapkan sang pembawa acara dan tiga pasangan calon sepanjang acara.

Lalu siapakah d iantara tujuh orang itu yang paling banyak berkata-kata? Jawabannya bukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bukan pula Agus Yudhoyono atau Anies Baswedan. Apalagi para calon wakil gubernur seperti Djarot Saeful Hidayat, Sandiaga Uno atau Sylviana Murni. Yang paling banyak berkata-kata adalah Ira Koesno, sang pembawa acara. 35 persen atau 4021 kata yang muncul di debat perdana keluar dari mulut Ira Koesno.

Lantas siapa calon yang paling banyak berkata-kata? Jawabnya bukan Ahok atau Anies, melainkan Agus. Putra pertama SBY ini mengucapkan 1787 kata, Anies 1719 kata dan Ahok 1640 kata.

Kalahnya Ahok disebabkan dia hanya mengambil 9 kesempatan untuk berbicara, beda dengan Anies (11 kali) dan Agus (10 kali). Ketika disodori pertanyaan terkait ambisi maju jadi capres atau cawapres di 2019, Ahok enggan menjawab dan menyerahkannya kepada Djarot.

Bagaimana dengan pasangan wakil gubernur? Lagi-lagi juaranya pasangan nomer urut satu. Di awal debat, Sylviana Murni memang tak kunjung bicara. Sylvi baru berbicara pada segmen tanya jawab. Meski hanya diberi empat kesempatan berbicara, Sylviana Murni mampu mengeluarkan 759 kata. Di bawah Sylvi ada Djarot yang berucap 710 kata dari lima kesempatan bicara. Di urutan buncit ada Sandiaga Uno. Dari tiga kesempatan berbicara, Sandi mengucapkan 517 kata. Sandiaga memang terlihat hanya diberi leluasa berbicara di segmen awal saja

Dari 11.241 kata terucap di debat perdana, terdapat 2.166 entri berbeda yang bentuknya entah itu kata benda, numeralia, preposisi, pronomina, kata kerja, konjungsi, adverbia, dll.

Tiga entri terbanyak dari total yang diucapkan adalah kata "yang", "kita", "dan", "kami" serta "Jakarta". Detailnya adalah: kata "yang" diucapkan 389 kali, "kita" 238 kali, "dan" 228 kali, "kami" 184 kali, lalu "Jakarta" 173 kali.

Jika dirincikan berdasarkan subjek si penutur, maka entri yang paling banyak muncul adalah kata ganti orang (personal pronomina) seperti "saya", "kami", "Anda", "mereka", dll.

Menarik mengkaji lebih dalam kata perihal kata ganti ini. Ira Koesno, misalnya, kata terbanyak yang diucapkannya adalah "yang" sebanyak 113 kali, "paslon" 109 kali, "dan" 78 kali, "anda" 70 kali serta "kita" 63 kali. Kata "paslon", "Anda" dan "kita" adalah kata ganti yang sering diucapkan Ira Koesno.

Gagap Laten Membedakan "Kami" dan "Kita"

Kata ganti "kita" begitu dominan diucapkan oleh Agus, Anies dan Djarot. Sialnya kemunculan pemakaian entri "kita" itu banyak dimaknai secara salah oleh Agus, Anies dan Djarot.

"Kita" adalah kata ganti (prononima) orang pertama jamak. Kata "kita" ini sering disalahtukarkan dengan "kami". "Kami" memiliki sifat eksklusif, maksudnya: lawan bicara tidak termasuk atau tidak terlibat dalam aktivitas atau keadaan yang dituturkan. Hal ini berlawanan dengan "kita" yang bersifat inklusif, artinya orang yang diajak berbicara terlibat dalam aktivitas atau keadaan yang sedang dituturkan.

Sudah jadi budaya laten di masyarakat Indonesia bahwa banyak yang tidak jeli memilah penggunaan "kami" dan "kita". Akan jadi fatal karena dua kata ganti ini tidak bisa ditukartempatkan seenaknya sebab akan mengubah informasi kalimat.

Agus, Anies dan Djarot seringkali salah memaknai kata ganti "kita" itu. Dan Anies ada di urutan pertama sering salah memakai kata "kita". Sebagai seorang akademisi, mantan Menteri Pendidikan, hal ini tentu mengejutkan.

Dari 44 kata ganti "kita" yang diucapkan Anies, 24 di antaranya atau 50 persen dimaknai secara salah. Contohnya seperti ini: “Ketika kita dihadapkan dengan ketimpangan yang luar biasa, kita menyaksikan ketimpangan yang sedang dibuat, yaitu reklamasi. Posisi kita tegas. Kita menolak reklamasi.” Makna "kita" pada kalimat “posisi kita tegas, kita menolak reklamasi” tentu salah. Mestinya diganti jadi "posisi kami tegas, kami menolak reklamasi".

Kesalahan mengindentifikasi subjek juga terjadi pada ucapan ini:

“Terkait dengan ini maka kita akan tegas, kita akan melakukan yang disebut dengan urban renewal, peremajaan kota.”

“Satu, RT/RW akan kita kembalikan perannya. RT/RW yang dipangkas sekarang untuk pengurusan KTP kita pastikan.”

Bisa saja diajukan argumentasi bahwa "kita" yang diucapkan Anies adalah "kita" di masa depan, saat dirinya terpilih dan program-program itu dilaksanakan. Alasan itu mungkin bisa diterima namun tetap saja secara kaidah bahasa itu adalah salah.

Tapi bagaimana jika disodorkan pernyataan terakhir Anies saat ditanya pelbagai masalah terkait penggusuran? Setelah 2 menit berbicara panjang Anies menutupnya dengan kalimat: “Itu jawaban kita, terimakasih." Tentu saja jawaban Anies ini salah. Mestinya "Itu jawaban kami, terimakasih”



Infografik 13 kata yang sering digunakan


Tidak hanya Anies, hal sama juga dilakukan oleh Agus. Dari 47 kata kita, hampir 19 di antaranya dimaknai secara salah. Kesalahan itu jadi fatal karena merujuk pada program-program yang akan mereka lakukan ke depan.

Misal: “Yang keenam adalah kita ingin membangun tanpa menggusur. [..] Yang kedelapan kita ingin meningkatkan rasa aman, kerukunan antarwarga Jakarta.”

“Disamping itu juga, kita memiliki bantuan atau skema bantuan dana bergulir.”

“ketiga, kita juga ingin dengan program-program infrastruktur yang kita angkat yaitu program rumah rakyat untuk mengatasi black lock 300.000 unit di Jakarta”

Dibanding Anies dan Agus, Ahok relatif bersih. Sepanjang debat dia bahkan tak mengucapkan kata ganti "kita" satupun. Kondisi berbeda dilakukan sang wakil, Djarot. Boleh dikata, secara persentase, Djarot bahkan lebih parah ketimbang Anies dan Agus.

Dari 29 kata ganti "kita" yang digunakan Djarot, hampir 68 persen atau 20 d iantaranya salah pakai.

Berikut beberapa kesalahan yang dilakukan Djarot: “Maka kami berkomitmen untuk menyediakan rusun yang layak huni ukuran 36 meter persegi, ada dua kamar, ada pipa gas, bukan itu saja, kita juga mensubsidi kehidupannya, pendidikanya kita tanggung, kesehatannya kita tanggung, transport kita tangung, biaya hidupnya kita betul-betul tanggung.”

Di akhir debat, Djarot mengucapkan kalimat pamungkas: “Jiwa raga kami, pikiran kami, kita curahkan untuk warga Jakarta,” sayang sekali kalimat bagus itu dirusak oleh satu kata ganti yang sepele.

Baca juga artikel terkait DEBAT PILKADA DKI JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Zen RS
DarkLight