Menuju konten utama

Ketika Pertamina Gencar Akuisisi Blok Migas Luar Negeri

Pertamina sedang menggencarkan akuisisi aset blok migas di luar negeri yang diperkirakan mampu menyumbang 33 persen target produksi, sehingga target perusahaan di sektor hulu tercapai.

Ketika Pertamina Gencar Akuisisi Blok Migas Luar Negeri
Aktivitas di Sumur Parang-1 yang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) Nunukan Company yang berada sekitar enam kilometer dari Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara , Senin (20/3). ANTARA FOTO/HO/Pertamina.

tirto.id - Sejak sepuluh tahun terakhir, produksi minyak mentah (crude) Indonesia terus turun. Di saat yang sama, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri trennya terus meningkat.

Berdasarkan data SKK Migas, pada tahun 2006, produksi minyak Indonesia masih mencapai 1 juta barel per hari (bph). Namun jumlah tersebut terus menurun setiap tahunnya, dari 954 ribu bph pada 2007 menjadi 860 ribu bph pada tahun 2012, bahkan pada 2015 produksi minyak Indonesia hanya sekitar 786 ribu bph.

Tahun lalu, produksi minyak Indonesia memang sempat naik, yaitu mencapai 822 ribu bph. Jumlah tersebut juga lebih tinggi dari patokan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2016, yang ditarget 820 ribu bph.

Sementara tahun 2017, pemerintah dan SKK Migas menargetkan produksi minyak nasional mencapai 825 ribu bph, lebih tinggi dari yang dipatok APBN 2017 sebesar 815 ribu bph. Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi menuturkan angka tersebut merupakan kesepakatan internal SKK Migas dengan Menteri ESDM, Ignasius Jonan.

“Jadi kami ditawari, mau menekan pengembalian biaya operasi hulu migas atau mau menaikkan lifting? Saya disuruh milih, jadi saya pilih naikkan lifting saja,” ujarnya dikutip Antara.

Meski tidak merinci upaya yang dilakukan untuk mendukung target tersebut, Amien mengaku akan melakukan segala upaya untuk mencapainya. “Tidak mudah, tapi mesti dicoba.”

Akan tetapi, target kenaikan tersebut tetap tidak akan bisa memenuhi kebutuhan konsusmsi BBM nasional, mengingat perkembangan konsumsi minyak Indonesia yang menunjukkan tren naik secara stabil. Misalnya, pada 2010 konsumsi minyak mencapai angka 1,4 juta bph, dan pada 2015 naik menjadi 1,6 juta bph.

Di tengah tingginya konsumsi minyak tersebut, produksi nasional justru terus merosot seiring dengan menipisnya cadangan minyak yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan data Kementerian ESDM, cadangan minyak terbukti yang dimiliki Indonesia hanya sekitar 3,6 miliar barel (status per 1 Januari 2013).

Kontribusi Pertamina

Kontribusi PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan minyak nasional (NOC) dinilai masih belum optimal. Untuk memperkuat perusahaan migas nasional, pemerintah menugaskan Pertamina mengelola 8 wilayah kerja (WK) migas yang akan habis masa kontraknya pada tahun 2018. Kedelapan WK migas tersebut adalah Attaka, Tuban, Ogan Komering, Sanga-Sanga, South East Sumatra, NSO/NSO Ext, Tengah Block dan East Kalimantan. Kontrak kerja sama 8 blok ini akan menggunakan skema bagi hasil gross split.

“Kita ingin perkuat national oil company. Kalau kita lihat, national oil company yang berada di luar, negara lain di mana kontribusi national oil company terhadap produksi nasional mereka, umumnya di atas 90%,” Wakil Menteri ESD, Arcandra Tahar.

Sebagai contoh, lanjut Wamen, perusahaan migas nasional Malaysia yaitu Petronas, berkontribusi 54-55 persen terhadap produksi migas Malaysia. Sedangkan Pertamina, saat ini kontribusinya hanya sekitar 24 persen terhadap produksi migas Indonesia.

Persentase Pertamina inilah yang ingin ditingkatkan oleh pemerintah dengan cara menawarkan blok-blok yang migas yang akan habis masa kontraknya kepada BUMN tersebut. Apabila Pertamina berminat, maka pemerintah akan memberikan preference kepada Pertamina untuk mengelolanya.

Meski demikian, lanjut Arcandra, bukan berarti pemerintah menutup kesempatan bagi perusahaan migas lainnya. Apabila Pertamina menyatakan tidak berminat atau ada hal lain terkait komersial dan teknologi yang belum dimiliki, maka perusahaan lain dapat mengajukan diri untuk mengelola blok-blok yang akan habis masa kontrak kerjanya.

Sementara itu, Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam mengatakan pihaknya tengah menyiapkan pengelolaan delapan blok terminasi tahun 2018 yang telah diserahkan pemerintah kepada perusahaan pelat merah tersebut.

Selain itu, Pertamina juga menggencarkan akuisisi aset blok migas di luar negeri yang diperkirakan mampu menyumbang 33 persen target produksi, sehingga target perusahaan di sektor hulu tercapai.

“Untuk merealisasikan target produksi 1,9 juta barel oil equivalen per day (BOEPD) pada 2025 dan mendukung pertumbuhan perekonomian nasional, Pertamina akan menggencarkan akusisi aset migas di dalam dan di luar negeri,” kata Direktur Hulu PT Pertamina Syamsu Alam dalam media gathering di Cirebon, seperti dikutip Antara, Senin (20/4/2017).

Syamsu mengatakan, saat ini Pertamina telah memiliki blok-blok yang berproduksi di 12 negara, tiga di antaranya yang sudah berproduksi lebih dulu, yaitu Aljazair, Irak dan Malaysia, serta tambahan tiga blok produksi di Nigeria, Tanzania dan Gabon. “Jadi sekarang kita bersyukur Pertamina ada di 12 negara,” ujarnya.

Menurut Syamsu, optimalisasi aset juga akan dilakukan di berbagai proyek domestik, seperti proyek PHE WMO Integration, Pengeboran Parang Nunukan, Pengeboran Randugunting, Optimalisasi peningkatan cadangan minyak (enhanced oil recovery/EOR) di sumur tua.

Optimalisasi aset ini untuk meningkatkan produksi migas agar target perusahaan di sektor hulu tercapai. Menurut dia, Indonesia yang kini menduduki peringkat ke 16 negara dengan produk domestik bruto (PDB) tertinggi, yakni 941 miliar dolar AS, ditargetkan menduduki peringkat keempat pada 2050 setelah Tiongkok, Amerika Serikat dan India dengan proyeksi PDB atau gross domestic product (GDP) sebesar 15,432 miliar dolar AS.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut, Syamsu menilai Indonesia membutuhkan dukungan energi secara maksimal. Sayangnya, di tengah tingginya konsumsi migas di dalam negeri, produksi migas nasional terus merosot, seiring makin menipisnya cadangan yang dimiliki.

Karena itu, langkah Pertamina mengelola blok migas di luar negeri sebagai upaya memperkuat cadangan dan produksi nasional mengingat hasil produksi migas di luar negeri itu akan dibawa pulang untuk diolah di kilang-kilang yang ada di Indonesia dan untuk memenuhi konsumsi BBM domestik.

Baca juga artikel terkait BLOK MIGAS atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Abdul Aziz