Kelahiran dan Perubahan Piala Davis

Oleh: Renalto Setiawan - 9 Februari 2019
Dibaca Normal 5 menit
Piala Davis merupakan turnamen yang unik. Tapi baru-baru ini, ITF memilih untuk "menjual" keunikan turnamen tenis mulai digelar pada tahun 1900 silam itu.
tirto.id - Dalam jagat tenis pria, nama David Nalbandian jelas kalah tenar jika dibandingkan dengan Roger Federer, Rafael Nadal, Pete Sampras, Boris Becker, atau petenis legendaris asal Inggris, Fred Perry. Nalbandian tak sekali pun memenangi Grand Slam, dan pencapaian terbaiknya hanyalah nangkring di peringkat ketiga dunia [2006]. Namun saat membicarakan sihir Piala Davis, kejuaraan tenis beregu putra antar-negara, kata-kata petenis asal Argentina itu bisa dibilang paling mengena dibandingkan dengan petenis-petenis lainnya.

“Perasaan terkuat yang pernah aku alami adalah saat bermain di Piala Davis,” kata Nalbandian. “Itu adalah sesuatu yang paling luar biasa, setiap kemenangan maupun kekalahannya. Itu bisa mengejutkan Anda dengan cara yang berbeda. Itu adalah tentang kepuasan yang berada di level berbeda – pun demikian dengan tingkat kesedihannya.”

Nalbandian, yang sudah tiga kali membawa Argentina tampil di partai puncak Piala Davis [2006, 2008, dan 2011], menekankan kata “berbeda” dalam pernyataannya itu. Ia tentu tidak sedang berjualan kecap. Kenyataannya, Piala Davis memang bisa menghadirkan perasaan istimewa, sama seperti pernyataan petenis yang gantung raket pada 2013 tersebut.

Ada banyak pertandingan monumental dalam gelaran Piala Davis. Barry Flatman, koresponden tenis di The Times, setidaknya mempunyai lima pertandingan pilihannya: John McEnroe [USA] v Mats Wilander [Sweden] pada babak perempat-final Piala Davis 1982, Boris Becker [Jerman] v Andre Agassi [USA] pada babak semifinal Piala Davis 1989, Pete Sampras [USA] v Andrei Chesnokov [Russia] pada babak final Piala Davis 1995, Mikhail Youzhny [Rusia] v Paul-Henri Mathieu [Perancis] pada babak final Piala Davis 2002, Andy Murray [Inggris] v David Goffin [Belgia] pada babak final Piala Davis 2015, dan Juan Martin del Potro [Agentina] v Martin Cilic pada babak final Piala Davis 2016.

Namun di antara semua pertandingan itu, kemenangan Andy Murray 6-3, 7-5, 6-3 atas David Goffin jelas paling membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Murray, yang pada masa mudanya gampang emosi dan rajin mengumpat itu, tampil begitu tenang. Lapangan tanah liat, yang biasanya membuat kakinya melangkah berat, juga tak mengganggu penampilannya. Pukulan forehand maupun backhand-nya pun sangat akurat. Karenanya, Murray bahkan berani bilang bahwa itu adalah salah satu penampilan terbaiknya di atas lapangan tenis.

Penampilan gemilang Murray itu kemudian menyudahi pertandingan final Piala Davis 2015: Inggris menang 3-1 atas Belgia. Penantian Inggris selama 79 tahun berakhir. Sebelumnya, Inggris terakhir kali menang Piala Davis pada tahun 1936 silam, saat Fred Perry masih jaya di atas lapangan tenis. Murray lantas mengangkat tropi Piala Davis, yang mulai diperkenalkan tepat hari ini pada tahun 1990 silam, tinggi-tinggi ke udara.

“Rasanya luar biasa,” kata Murray. “Aku tidak pernah merasa bahwa kami memiliki kesempatan untuk memenangkan Piala Davis. Aku tidak percaya kami bisa melakukannya.”


Piala Dunia dalam Tenis

Pada akhir 1890-an, Dwight Filley Davis beserta rekan-rekanya dari Universitas Harvard terbiasa berkeliling Amerika untuk mengikuti turnamen tenis. Kaget melihat antusiasme warga Amerika dalam setiap turnamen tenis yang diikutinya, Davis kemudian ingin melangkah lebih jauh: ia ingin mengadakan turnamen tenis pria level internasional.

Rencana Davis itu ternyata mendapatkan dukungan dari Asosiasi Tenis Amerika. Dari sana, ia kemudian merancang format turnamen, sekaligus merogoh kocek pribadinya untuk membikin piala. Piala itu sangat elegan: terbuat dari perak, tingginya sekitar 33 cm, dengan diameternya kira-kira mencapai 45 cm.

Sementara itu, turnamen tersebut akan dilakukan secara beregu, melangsungkan pertandingan tunggal dan ganda, dengan menggunakan format best of five sets. Dan Inggris, yang merupakan negara paling tangguh di jagat tenis saat itu, langsung dibidik Davis untuk menjadi lawan.

Amerika dan Inggris kemudian melangsungkan pertandingan di Longwood Cricket Club, Boston, Amerika Serikat, dari tanggal 8-10 Agustus 1990. Dalam turnamen yang diberi nama International Lawn Tennis Challenge itu, Davis, yang bermain di nomor tunggal maupun ganda, ternyata berhasil membawa Amerika Serikat menang 3-0.

Setelah itu, dengan ekspektasi rendah, kecuali pada tahun 1901, Inggris dan Amerika terus melangsungkan Internasional Lawn Tennis Challenge hingga tahun 1903. Namun sejak 1904, peserta turnamen bertambah: Prancis dan Belgia ikut ambil bagian. Satu tahun kemudian, Australasia [Australia dan Selandia Baru] juga ikut bergabung.

Turnamen mulai digelar di luar Amerika, gengsi semakin meningkat, hingga akhirnya menjadi buruan petenis-petenis terbaik di dunia. Kelak, setelah Dwight Davis meninggal pada tahun 1945, nama Internasional Lawn Tennis Challenge pun diganti menjadi Piala Davis.

Menurut John Grasso, dalam Historical Dictionary of Tennis [2011], popularitas Piala Davis mulai meningkat pada tahun 1920-an berbarengan dengan “The Golden Age of Sports”. Mulai diikuti oleh sekitar 20 negara secara reguler, dominasi Autralasia, Inggris, dan Amerika Serikat diusik oleh Prancis. Toto Brugnon, Jean Borotra, Henri Chocet, dan Rene Lacoste, yang dikenal sebagai “The Four Musketeers”, berhasil membawa Prancis menang Piala Davis selama 5 tahun berturut-turut, dari tahun 1927 hingga tahun 1932.

Kemudian, datanglah Fred Perry beserta kompatriotnya untuk mengembalikan kejayaan Inggris. Perry, pemain pertama yang berhasil memenangi empat Grand Slam secara berurutan, tampil gemilang kala Inggris mengalahkan Prancis di final Piala Davis 1933. Bermain di Paris pada partai puncak, ia berhasil mengalahkan dua andalan Prancis, Pheri Cochet dan Andre Merlin. Inggris menang untuk pertama kalinya sejak tahun 1912, sekaligus mengakhiri dominasi Prancis. Ketika pulang, mereka disambut meriahl

“Saat tim [Piala Davis] sampai di Dover, mereka mendapatkan telegram ucapan selamat dari Raja George V. Sekitar 10.000 orang mengerumuni kereta ketika mereka sampai di Victoria,” tulis Telegraph, dalam obituari Fred Perry.

Perang Dunia Kedua memang sempat menghentikan gelaran Piala Davis, tapi setelah perang itu rampung, secara perlahan Piala Davis justru berubah menjadi Piala Dunia dalam jagat tenis. Pada tahun 1969, Piala Davis untuk pertama kalinya diikuti oleh 50 negara. Dan pada tahun 1891, karena pesertanya mulai merangkul hampir semua negara di seluruh benua, format baru Piala Davis mulai diberlakukan: Piala Davis dibagi dalam 16 grup dunia.

Yang menarik, untuk mempertahankan ciri khasnya, beberapa format lama masih dipertahankan. Piala Davis tetap memainkan pertandingan kandang dan tandang, tidak hanya digelar di satu negara. Selain itu, pertandingan final akan tetap mempertemukan dua tim terbaik. Itu artinya, turnamen akan berlangsung dalam waktu yang lebih lama, biasanya digelar dari bulan Februari hingga November.

Sayangnya, format ikonik Piala Davis itu tidak akan lagi digunakan mulai tahun ini.


Menjual Jiwa Piala Davis


“Final atau pemakaman? [...] Ini akan menjadi akhir dari musim tenis yang terlalu panjang, tetapi yang lebih menyedihkan, ini juga akan menjadi akhir era untuk gelaran yang dimulai di Boston pada tahun 1900 lalu,” tulis Christopher Clarey di New York Times, menjelang laga final Piala Davis 2018 antara Kroasia melawan Prancis.

Tulisan Clayer tersebut bermula ketika International Tennis Federation [ITF] setuju untuk menerima investasi sebesar 3 miliar dolar Amerika dari Kosmos, sebuah perusahaan yang dikepalai oleh Gerard Pique, bek tengah Barcelona. Dari sana, ITF kemudian memutuskan, bahwa mulai tahun 2019, format Piala Davis hanya akan kembali diubah. Putaran final akan diikuti oleh 18 tim dan digelar di satu tempat. Selain itu, format Five best of sets juga diubah menjadi best of three sets.

“Ini adalah game-changer untuk ITF,” kata David Haggerty, Presiden ITF. “Piala Davis adalah properti yang telah kami miliki selama 118 tahun sehingga kami melihat ini sebagai fase baru, Piala Davis baru, dimainkan dalam satu lokasi dan 18 tim akan bermain untuk memperebutkan gelar.”

Perubahan itu merupakan perubahan paling besar yang terjadi dalam sejarah Piala Davis sejak digelar pada tahun 1900 silam. karenanya, perubahan itu langsung mendapatkan protes dari kalangan tenis.

“Piala Davis telah mati, dan bagian dari sejarah olahraga kita dijual untuk segepok uang yang menggiurkan,” cuit Nicolas Mahut, pemain ganda Prancis.

Sementara itu, Lleyton Hewitt, kapten Piala Davis Australia mengatakan, “Saya jelas melawan perubahan dalam Piala Davis. Kompetisi yang mereka [ITF] sarankan bukan Piala Davis dan Anda tidak bisa menyebutnya Piala Davis. Anda dapat bertanya kepada siapa pun yang pernah bermain di Piala Davis dalam 50 tahun terakhir ini.”

Infografik Mozaik Piala Davis
Infografik Mozaik Piala Davis


Ia lantas menambahkan pendapatnya yang paling penting menyoal Piala Davis, “Format kandang atau tandang dan pertarungan dalam lima set merupakan bagian yang membuat Piala Davis unik di dalam tenis dan membuatnya berbeda dengan tur reguler. Bermain di kandang, atau bahkan tandang, di depan kerumunan pendukung yang penuh gairah adalah salah satu alasan mengapa kami ingin bermain.”

Yang menarik, ITF beralasan bahwa format baru itu digunakan karena bisa menghindari musim tenis yang panjang, sehingga mampu menarik minat para petenis top dunia untuk ikut bermain di Piala Davis lagi. Jika melihat bagaimana berlangsungnya Piala Davis belakangan ini, alasan ITF tentu ada benarnya.

Roger Federer hanya sekali ikut bermain di Piala Davis setelah menang pada tahun 2014 lalu, Djokovic hanya bermain sebanyak empat kali dalam lima kesempatan, dan Rafael Nadal hanya tampil tiga kali sejak Spanyol menang pada tahun 2011.

Meski begitu, seperti para petenis lainnya, para petenis top itu ternyata juga ikut kecewa dengan perubahan format Piala Davis. Mereka memang sudah jarang tampil, tapi semangat lama Piala Davis akan selalu mematung di dalam ingatan mereka. Bagaimana pun, jiwa Piala Davis tidak dapat ditukarkan dengan segepok uang.

“Aku merasa sedih karena Piala Davis tidak akan berlangsung sebagaimana mestinya. Itu tidak akan sama lagi,” kata Federer.

Baca juga artikel terkait TENIS atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono