Kekerasan Seksual Itu Bernama Setrika Payudara

Oleh: Tony Firman - 12 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Para remaja putri di Afrika Barat dan Tengah menjalani tradisi setrika payudara. Dalinya untuk mencegah kejahatan seksual dan pernikahan dini.
tirto.id - Terisia Techu selalu ingat peristiwa saat ia berusia sembilan tahun. Suatu pagi sebelum berangkat sekolah, ibunya membawa alu yang sudah dipanaskan. Namun, alih-alih untuk menumbuk rempah-rempah atau aktivitas dapur lainnya, alu panas itu malah ditempelkan ke daerah payudara putrinya.

Suatu hari, alu yang dibawa ibunya terasa begitu panas dari biasanya sampai-sampai meninggalkan bekas luka sampai sekarang. Kisah itu diceritakan Terisia kepada jurnalis CNN Nkepile Mabuse pada 2011. Tahun itu usia Terisia sudah 18 tahun. Dengan air mata bercucuran, ia mengingat rasa sakitnya.

Ibunya, Grace Techu, tak melihat praktik itu sebagai kekerasan. Dengan bangganya ia justru menunjukkan bahwa yang ia lakukan selama beberapa minggu itu adalah langkah ampuh agar sang putri terhindar dari perkosaan dan kehamilan yang tak dikehendaki.

Namun, pada usia 15 tahun, Terisia hamil dan bayinya meninggal tak lama setelah lahir. Ia pun sadar apa yang dilakukan ibunya tak berguna. Ia membenci praktik tersebut dan ingin ibunya bicara soal pendidikan seks dan pencegahan kehamilan saja ketimbang memakai cara-cara yang menyakitkan.

Tapi Grace tetap ngotot. Menurutnya, jika payudara sang putri tak disetrika, ia bisa hamil di usia yang lebih muda lagi. Grace punya empat anak perempuan termasuk Terisia. Dua anak tertua menjalani setrika payudara. Dua anak terakhir tidak mendapat perlakuan tersebut karena payudaranya dianggap tumbuh pada taraf yang menurutnya "masih aman".

Setrika payudara sudah jadi tradisi di negeri asal Terisia, Kamerun. Lebih dari 200 kelompok etnis tinggal di negeri itu dengan norma dan tradisi yang berbeda. Tapi untuk urusan setrika payudara, mereka semua kompak.

Dalam studi berjudul “The Social Context of Breast Ironing in Cameroon” (2016), Ngambouk Vitalis Pemunta menyebutkan praktik setrika payudara di Kamerun bisa dilacak hingga ke tahun 1930-an. berbarengan tingginya arus urbanisasi. Saat itu, pola interaksi sosial masyarakat berubah. Ada banyak perempuan hamil di usia dini.

Alasan lain yang membuat tradisi setrika payudara bertahan adalah merebaknya HIV/AIDS. Setrika payudara dipandang sebagai langkah cepat untuk menekan hasrat seksual, menjaga kesehatan masyarakat, sekaligus mengontrol populasi.

Setengah dari keseluruhan populasi perempuan Kamerun di bawah usia sembilan tahun disetrika payudaranya. Sebanyak 38 persen gadis remaja di bawah usia sebelas tahun bernasib sama.

Dalam perkembangannya, setrika payudara tak hanya dipraktikkan di Kamerun, tapi juga di negara-negara Afrika Tengah dan Barat seperti Guinea-Bissau, Chad, Togo, Benin, Pantai Gading, Kenya, Zimbabwe, Guinea, Burkina Faso, dan Nigeria. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikutip studi Pemunta menyebutkan bahwa 3,8 juta remaja putri di seluruh dunia telah terkena dampak praktik setrika payudara ini.

Dibawa ke Inggris

Pada 2006 sebuah LSM Jerman mulai memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu Kamerun bahwa pendidikan seks dan kesehatan reproduksi lebih dibutuhkan ketimbang penyetrikaan payudara untuk mengakhiri kehamilan usia remaja. Namun, praktik setrika payudara terlanjur menyebar ke Inggris di kalangan diaspora Afrika.

Narasumber BBC, Kinaya (bukan nama sebenarnya) lahir di Inggris dari keluarga yang berasal dari Afrika barat. Ia sempat mengalami praktik setrika payudara semasa kecil.

Pada usia 10 tahun, ibu Kinaya berkata padanya bahwa laki-laki akan mengajaknya berhubungan seks jika ia tidak mau payudaranya disetrika. Payudara Kinaya akhirnya disetrika selama berbulan-bulan. Ibunya menggunakan batu atau sendok yang sudah dipanaskan.

"Waktu tidak menghapus rasa sakit ini," kata Kinaya yang kini sudah dewasa dan memiliki satu putri kepada BBC pada Maret 2019. "Kamu bahkan tidak boleh menangis. Jika kamu menangis, kamu akan bikin malu keluargamu, kamu bukan ‘gadis yang kuat'."

Ibu Kinaya pernah bilang bahwa anak perempuannya yang berusia 10 tahun sudah saatnya giliran disetrika payudaranya. Tetapi Kinaya tegas menolak. “Tidak. Anak saya akan mengalami apa yang saya alami, karena saya masih hidup dengan trauma,” ujarnya. Kinaya bahkan rela berpisah dari keluarganya karena khawatir payudara putrinya bakal disetrika.


Penelusuran yang dilakukan Guardian pada awal 2019 menemukan puluhan kasus setrika payudara di London, Leeds, Essex dan Wolverhampton. Namun otoritas Inggris, pekerja sosial, dan beberapa LSM tampaknya tidak mengetahui atau menyangkal bahwa praktik itu ada di negeri mereka. Tak ada pendekatan proaktif untuk melacak kasus-kasus tersebut. Polisi sendiri awalnya kesulitan melakukan penelusuran lantaran anak-anak korban setrika payudara kesulitan melaporkan perbuatan orangtua mereka.

Banyak pihak baru berani angkat bicara ketika setrika payudara menjadi kasak-kusuk khalayak.

Infografik Setrika Payudara
Infografik Setrika Payudara. tirto.id/Nadya


Kiri Tunks, ketua Serikat Pendidikan Nasional Inggris, meminta agar para guru di sekolah, khususnya di bidang pendidikan olahraga, dilatih untuk memahami tanda-tanda perempuan yang mengalami setrika payudara.

Politisi Partai Konservatif Nick Morgan mengatakan praktik menyetrika payudara harus "ditangani, dibicarakan, dan dihentikan". Dia menambahkan bahwa kurikulum harus selalu "ditinjau karena ada berbagai macam praktik, kebiasaan, atau pelecehan yang mulai terungkap".

Tradisi setrika payudara di kalangan remaja putri Afrika selama ini dinilai menjadi masalah yang kalah ramai ketimbang praktik sunat wanita (FGM), pernikahan paksa, dan kekerasan seksual lainnya. Tradisi ini biasanya dilakukan ketika anak perempuan menginjak usia 11 sampai 15 tahun, atau saat memasuki masa puber. Benda-benda yang digunakan antara lain adalah batu, palu, spatula, alu dan sejenisnya.


Ketika para pelaku berdalih melindungi anak dari pelecehan seksual dan pemerkosaan, setrika payudara adalah tindakan kekerasan seksual terhadap anak yang dapat menyebabkan luka fisik dan trauma psikologis, kesulitan mengeluarkan ASI, kelainan fisik, hingga kanker payudara.

"Saya adalah seorang perawat di Inggris selama lebih dari 10 tahun dan menyaksikan jumlahnya meningkat," kata Jennifer Miraj, perawat yang pernah berdinas di Essex, Glasgow, Birmingham dan London hingga 2015. Miraj mengaku telah menemukan kasus setrika payudara pada 15 orang dewasa dan delapan anak perempuan.

Menurut Tamsin Bradlye, profesor Studi Pembangunan Internasional di Universitas Portsmouth dalam tulisannya untuk Quartz, praktik setrika payudara menunjukkan budaya misoginis yang menopang praktik-praktik pelecehan seksual lainnya. Para praktisinya berangkat dari asumsi bahwa seorang gadis belum siap untuk menikah atau punya anak jika payudaranya tak berkembang.

Tapi tak cuma ibu yang melakukannya. Bradlye menyebutkan, praktik setrika payudara juga dilakukan oleh para dukun, tabib, hingga bidan setempat. Sebagaimana sunat perempuan, tradisi ini telah menjadi sumber pendapatan tersendiri buat mereka.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN ANAK atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf