Kebakaran di Hutan Amazon: Bukti Bahayanya Populisme Sayap Kanan

Infografik Ancaman Kebakaran Hutan
Hutan Amazon. foto/istockphoto
Oleh: Faisal Irfani - 24 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Amazon membara. Penyebabnya: populisme sayap kanan.
tirto.id - Hutan Amazon memanas. Api menggulung hutan hujan yang terletak di Amerika Selatan ini. Kebakaran memuncak pada Agustus, dengan persentase melonjak sampai 84 persen dibanding tahun lalu, demikian lapor BBC, dengan mengutip data satelit Institut Nasional untuk Penelitian Luar Angkasa (INPE).

Catatan Inpe memperlihatkan terdapat lebih dari 74 ribu kebakaran antara Januari sampai Agustus. Angka ini adalah rekor tertinggi semenjak 2013 (68 ribu).

Amazon adalah hutan hujan tropis terbesar di dunia. Simpanan karbon di Amazon dapat memperlambat laju pemanasan global. Selain itu, Amazon juga menjadi rumah bagi tiga juta spesies tumbuhan maupun hewan, serta satu juta penduduk adat.


Mengapa Terbakar dan Apa Dampaknya?

Pemerintah Brazil berdalih bahwa kebakaran disebabkan karena fenomena alam seperti kekeringan, angin, serta cuaca yang panas.

Namun, kenyataannya, penyebab kebakaran di Amazon tak sesederhana itu.

Menurut NASA, sebagaimana diwartakan Newsweek, hutan Amazon sebetulnya relatif tahan api mengingat kondisinya yang lembab. Akan tetapi, peningkatan frekuensi dan intensitas kekeringan—sebuah gejala yang terkait dengan perubahan iklim antropogenik—serta aktivitas manusia di hutan telah membuat jumlah kebakaran melonjak.

Para peneliti sepakat: kebakaran yang terjadi baru-baru ini kemungkinan besar adalah ulah dari manusia.

“Tidak ada yang abnormal tentang iklim maupun curah hujan di wilayah Amazon pada tahun ini yang hanya sedikit di bawah rata-rata,” terang Alberto Setzer dari INPE. “Musim kemarau telah menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk penyebaran api. Tapi, masalahnya, menyalakan api adalah pekerjaan manusia—baik disengaja atau tidak.”

Data INPE menunjukkan bahwa laju deforestasi (penggundulan hutan) telah meningkat ke titik di mana area pepohonan seluas tiga lapangan bola hilang pada tiap menitnya. Angkanya naik tajam, 300 persen, ketimbang tahun lalu.

Lahan-lahan yang gundul ini nantinya dipakai untuk ternak, perkebunan, maupun kegiatan lainnya. Dan untuk “membersihkan” pepohonan, orang-orang menggunakan api.

Thomas Lovejoy dari National Geographic menerangkan bila deforestasi di Amazon terus melaju tanpa kontrol, bisa jadi kebakaran akan berdampak pada skala global.

Melindungi Amazon sering disebut-sebut sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Ekosistem Amazon menyerap jutaan ton emisi karbon setiap tahun. Ketika ditebang atau dibakar, pohon-pohon itu tidak hanya melepaskan karbon yang mereka simpan, tetap alat untuk menyerap emisi karbon pun turut menghilang.

“Setiap hutan yang hancur adalah ancaman bagi keanekaragaman hayati dan orang-orang yang menggunakan keanekaragaman hayati itu,” ucap Lovejoy.



Campur Tangan Populisme

Pihak yang patut dimintai pertanggungjawaban atas kebakaran di Amazon adalah Jair Bolsonaro. Presiden Brasil ini berandil besar dalam musibah di Amazon lewat serangkaian kebijakan populis kanannya yang mengubah fungsi Amazon menjadi lahan korporasi.

Sama seperti pemimpin sayap kanan di negara lainnya seperti Presiden AS Donald Trump dan politisi Inggris Nigel Farage, Bolsonaro juga tak percaya dengan perubahan iklim—dan pemanasan global. Ia menganggap dua fenomena tersebut hanyalah kibul belaka.

Sejak mengambil alih tampuk kekuasaan, Bolsonaro langsung tancap gas membabat Amazon. Ia beranggapan bahwa Amazon—dengan segala kekayaan alamnya—dapat menjadi salah satu sumber modal untuk mengeluarkan Brasil dari krisis ekonomi.

Selebihnya adalah bencana. Kebijakan Bolsonaro mempersempit kepemilikan lahan bagi masyarakat adat sekaligus membuka pintu bagi para pembalak liar, penambang emas, oligark bisnis untuk mengeksploitasi habis-habisan sumber daya Amazon.

Bolsonaro bahkan tak ragu memangkas dana perlindungan hutan Amazon dan memecat Luciano de Meneses Evaristo, seorang pejabat yang berkontribusi besar menekan angka deforestasi selama sembilan tahun terakhir di Brasil.

Bagi para aktivis lingkungan, kebijakan Bolsonaro turut mengancam nyawa mereka. Laporan Global Witness menyebut Amazon sebagai tempat paling berbahaya di dunia untuk aktivis lingkungan. Dari tahun ke tahun, bromocorah yang disewa pemodal besar diperintahkan menghabisi siapapun yang menetang proses perubahan fungsi hutan. Keadaan makin memburuk manakala penegakan hukum sama sekali tak berdaya.


Dalam bidang lingkungan, kebijakan Bolsonaro mirip dengan era kediktatoran militer (1964-1985) yang menghancurkan hutan hujan untuk membangun ribuan kilometer jalan, mendorong migrasi massal, dan mendorong perusakan lingkungan untuk kepentingan bisnis pertanian. Bolsonaro sendiri berkali-kali menyatakan kerinduannya akan era kediktatoran.

Heriberto Araújo adalah seorang jurnalis yang menulis buku tentang kekerasan di Amazon. Dalam kolomnya di The New York Times berjudul “Save the Amazon from Bolsonaro” ia menyebutkan bahwa kebijakan Bolsonaro justru memperburuk lingkungan hidup Brasil, khususnya Amazon.

Pertama, upaya Bolsonaro mengeksploitasi Amazon dengan dalih “memperbaiki perekonomian”, menurut Araújo, hanya akan menggusur lebih banyak petani kecil dan nelayan ke pemukiman kumuh pinggiran kota seperti Manaus atau Belém.



Kedua, merusak Amazon juga berpotensi besar untuk menggagalkan agenda ekonomi Bolsonaro sendiri. Kebijakan ekstraktif di Amazon telah memicu kekhawatiran negara-negara Uni Eropa yang mengancam akan memblokir perjanjian perdagangan bebas dengan Mercosur—blok perdagangan Amerika Selatan. Bila hal itu terjadi, Brasil bakal berpeluang kehilangan pendapatan ekspor sebesar $100 miliar lebih dari sektor pertanian (data 2018).

Ketiga, model ekonomi yang diterapkan di Amazon terbukti tidak menimbulkan kesejahteraan dalam jangka panjang. Meskipun telah terjadi ekstraksi sumber daya selama beberapa dekade, 32 dari 50 kota dengan tingkat pembangunan terendah secara nasional ada di sekitar wilayah Amazon.

Tapi, sekali lagi, kritik yang bermunculan tak membuat Bolsonaro sadar dan merevisi kebijakannya. Ia malah mengeluarkan alasan yang cenderung konyol: kebakaran di Amazon adalah ulah LSM lingkungan untuk mempermalukan pemerintahannya.

“Mengenai kebakaran di Amazon, menurut saya ini mungkin diprakarsai oleh LSM karena mereka kehilangan uang. Apa tujuannya? Untuk membawa masalah ke Brasil,” tegasnya, mengutip The Guardian.

Tuduhan Bolsonaro tak dilengkapi bukti yang valid. Ia hanya mencari kambing hitam untuk menyelamatkan muka pemerintahannya.

Pada akhirnya, populisme sayap kanan tak sekadar berbahaya bagi demokrasi tapi juga bagi keberlanjutan lingkungan di masa mendatang.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN HUTAN atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight