Kampung Apung Puluhan Tahun Tenggelam Tanpa Penanganan

Oleh: Mohammad Bernie - 21 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kampung Apung mulai berubah sejak industri masuk, itu kira-kira tahun 1980an. Selama itu pula warga bertahan hidup tanpa menapak tanah.
tirto.id - Rudi Suwandi (49) menjabat tangan saya di Sekretariat RW 01 Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (18/10/2019) kemarin. Dia ramah, begitu kesan pertama saya kepadanya. Tapi itu tetap tidak bisa menyembunyikan air muka putus asanya, saat saya memperkenalkan diri sebagai wartawan yang hendak meliput Kampung Apung.

Kampung Apung berlokasi persis di pinggir Jalan Kapuk Raya, RT 01 RW 02 Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Rudi dipercaya warga sebagai Ketua RT.

Rudi bilang kampung itu langganan didatangi wartawan, bahkan pejabat. Sejak dulu Wali Kota Jakarta Barat selalu berkunjung tiap baru dilantik--kecuali wali kota saat ini, Rustam Effendy. Namun sampai sekarang kampungnya tak kunjung menapak tanah.

"Sekarang mah sudah bosan kalau ditanya ini itu soal kampung. Sudah sering kami ngomong. Sebelumnya juga masuk televisi, masuk media luar negeri. Tapi, ya, sama saja," kata Rudi.

Sepintas Kampung Apung mirip seperti pemukiman sungai di Kalimantan. Jalannya sempit, tak sampai 1,5 meter. Rumah-rumah yang berdiri di sini berbentuk panggung. Ada 200 keluarga yang tinggal di daerah seluas tiga hektare tersebut.

Jika melongok ke bawah, kamu akan melihat genangan air sedalam dua meter berwarna hijau akibat alga. Air itu, tentu saja, tidak bisa dipakai untuk semua kebutuhan sehari-hari. Warga mesti merogoh kocek untuk mendapatkan air bersih.

Di rumah Rudi ada sumur, tapi airnya sudah kotor dan tak layak di konsumsi. Air sumur hanya dia pakai untuk mencuci dan mandi. Rudi mengaku dalam seminggu ia dan keluarga bisa menggunakan enam jeriken air untuk memasak dan minum. Untuk satu kali pikul--dua jeriken-- Rudi harus merogoh kocek Rp5.000.

"Kalau yang cuci, mandi, [mau] pakai air jeriken, ya, harus keluar lebih."


Rudi mengaku tak ambil pusing untuk urusan kebersihan wilayah. Menurutnya warga sudah sadar mengelola sampah bersama. Sampah-sampah itu dikumpulkan di tempat pembuangan sementara di luar kampung, lalu diangkut Suku Dinas Kebersihan DKI Jakarta ke tempat pembuangan akhir di Bantargebang.

Minim Perhatian Pemerintah

Sekitar tahun 1970an, Kampung Apung adalah tempat yang asri. Saat itu masih belum ada sebutan Kampung Apung, rumah-rumah masih menapak di tanah dan warga memiliki sertifikat hak milik atas tanah itu sampai sekarang.

Nama asli permukiman itu adalah Kapuk Teko.

Lokasi yang saat ini tergenang adalah lapangan tempat warga bermain sepak bola atau badminton. Di bawah kolam itu pun dulu ada pemakaman.

Jaelani (60) bercerita saat itu Kapuk Teko hampir tak pernah kena banjir karena memang lebih tinggi dari daerah lain. Di sekeliling kampung pun masih terdapat sawah dan saluran irigasi--daerah serapan dan drainase alami.

"Orang sana yang dulu mengungsi ke sini," katanya kepada saya.

Semua berubah memasuki tahun 1980an. Seperti banyak desa lain di Indonesia, sawah dan saluran irigasi mulai ditimbun dan di atasnya dibangun pabrik. Kita mengenalnya dengan sebutan 'kemajuan' dan 'modernitas'.


Di Kampung Apung, kata Jaelani, yang pertama kali masuk adalah pergudangan. Itu terjadi kira-kira tahun 1986an.

Pada saat yang sama, pemerintah terus meninggikan Jalan Kapuk Raya. Praktis, Kapuk Teko berevolusi menjadi daerah cekungan yang menampung air di sekitarnya.

"Namanya kita ngelawan orang punya duit, yak, susah, yak. Akhirnya kanan kiri diuruk semua airnya lari ke mari," kata Jiih (55), warga lain, menjelaskan sebenarnya warga juga tidak terima kampung jadi rusak.

Jiih ingat Kapuk Teko mulai digenangi air setelah pergudangan pertama didirikan. Awalnya hanya 30 sentimeter, dan itu akan surut dalam waktu tiga sampai empat bulan. Tapi makin lama debit air bertambah, durasi untuk surut makin panjang dan akhirnya genangan ada di kawasan itu selamanya.

Warga mulai menguruk tanah di sekitarnya dan rumah-rumah mulai ditopang kayu menyerupai panggung dan Kapuk Teko perlahan berubah jadi Kampung Apung.

Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama pernah mengunjungi tempat ini saat kampanye Pemilihan Gubernur 2012. Jiih mengaku mendampingi keduanya saat itu.

"Saya salaman langsung dengan Jokowi. Demi Allah," katanya sambil memamerkan telapak tangan kanannya.


Saat itu Kampung Apung tergenang air semata kaki. Jiih meminta agar keduanya memberi solusi.

Tapi Jokowi diam, dan Ahok tak bisa berjanji.

"Wah, saya enggak bisa janji, soalnya masih kampanye," kata Jiih menirukan ucapan Ahok.

Tahun 2013, ketika Jokowi jadi Gubernur DKI Jakarta, genangan di Kampung Apung sempat dikeringkan. Warga diminta untuk pindah terlebih dulu sementara pemerintah menguruk tanah.

Penyedotan dan pembersihan itu menjadi upaya pertama dan terakhir yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

Warga bukan diam saja. Mereka membangun jalan, jembatan beton, hingga MCK bersama-sama dengan duit dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pada tahun 2007.

Dengan dana itu pula warga membangun ratusan kolam lele di genangan hingga menghasilkan 10 kilogram per kolam tiap kali panen. Kolam itu kemudian menjadi ikon hingga Kampung Apung jadi langganan kunjungan, mulai dari abang none, wali kota, sampai menteri. Namun kolam itu kini telah musnah sejak pengeringan yang dilakukan Jokowi-Ahok.


Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Juani mengaku belum tahu detail Kampung Apung. Alasannya, ia baru dilantik tiga bulan lalu.

Meski begitu dia berjanji akan berkoordinasi dengan Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Barat.

"Kalau memang di situ harus dipakai pompa atau bagaimana, nanti coba saya koordinasi dulu dengan Kasudin Jakarta Barat," kata Juani saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (18/10/2019).

Sayangnya warga tak bisa berharap banyak. Juani bilang kalaupun ada tindakan, itu tak bisa dilakukan tahun ini bahkan tahun depan, mengingat anggaran belanja DKI 2020 hampir rampung dibahas.

Baca juga artikel terkait KAMPUNG APUNG atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Rio Apinino
DarkLight