Jodoh Idaman untuk yang Sudah "30-an"

Ilustrasi pasangan kekasih. FOTO/Istock
Oleh: Arman Dhani - 14 Februari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Ketika sudah berusia 30 tahun, orang akan semakin selektif memilih pasangan hidup. Bagaimana kriteria pasangan hidup untuk orang-orang yang sudah "kepala tiga" ini?
Jatuh cinta itu mudah, merawat cinta itu susah. Tapi ketika anda telah berusia 30 tahun, memiliki pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga, jatuh cinta bisa sangat menyusahkan. Anda akan membuat prioritas, menjalani hubungan, atau mengembangkan karier. Jika Anda cukup beruntung, pilihan akan sependek dua jalan itu, tetapi jika Anda memutuskan untuk kuliah, belajar, kemudian menyusun kriteria-kriteria pasangan yang ajeg, jatuh cinta bisa sangat merepotkan. Lantas bagaimana sebenarnya pasangan idaman menurut pembaca Tirto?

Sepanjang Januari hingga pertengahan Februari 2017, tim riset Tirto melakukan suvei tentang kriteria pasangan bagi mereka yang berusia di atas 30 tahun. Mengapa tiga puluh tahun? Beberapa orang berkata, seseorang akan memilih keputusan paling penting dalam hidupnya ketika ia berusia 30 tahun, entah menikah, mengembangkan karier, atau sesederhana memulai cicilan KPR. Tapi bagi banyak yang lain, usia 30 adalah momen di mana mereka mesti memilih antara menemukan pasangan atau melaju dengan apapun yang tengah dijalani saat ini. Tentu pilihan ini jatuh pada mereka yang lajang.

Untuk itu, tim riset Tirto melakukan survei kepada lebih dari 390 responden. Tujuannya untuk melihat melihat preferensi responden dalam memilih pasangan dengan instrumen penelitian kuesioner dan jenis sampel random sampling serta memanfaatkan metode sampel Non Probability Sampling. Jenis data yang diolah adalah data kuantitatif yang berkisar dari 11 jenis pertanyaan. Ada 72 orang yang berusia di atas 30 tahun dengan rentang usia responden berkisar mulai dari 30-45 tahun dan tentu saja saat survei berlangsung dalam status lajang.

Jumlah responden pria dan wanita dalam riset ini cukup berimbang. Responden wanita sebanyak 51,4 persen dan 48,6 persen sisanya adalah laki-laki. Berdasarkan pendidikan terakhirnya mayoritas responden pada riset ini memiliki pendidikan terakhir S1 sebanyak 61,1 persen, sementara hanya 1,4 persen yang memiliki pendidikan terakhir S3. Sebanyak 62,5 persen responden menyatakan terakhir kali mereka memiliki pasangan lebih dari 12 bulan yang lalu. Sedangkan 2,8 persen responden menyatakan belum pernah memiliki pasangan.

Virginia Sweetingham, seorang makcomblang yang menjalankan biro jodoh bernama Gray & Farrar di Inggris, mengungkapkan, pengalamannya selama lebih dari dua dekade membuatnya sangat paham tentang kondisi psikologis para pencari jodoh. Mereka yang mencari bantuan Sweetingham bukan orang sembarangan, makcomblang ini menetapkan tarif yang tidak murah, untuk jasa paling sederhana ia mematok harga £10,000. Tapi uang yang banyak menurut Sweetingham tidak menjamin seseorang bisa mendapakan jodoh atau pasangan. Banyak dari kliennya, terutama perempuan mapan, susah mencari pasangan karena dianggap teralu sukses.

Ini tentu tak merepresentasikan seluruh populasi orang lajang di dunia, apalagi di Indonesia. Namun, Sweetingham mengungkap bagi mereka yang berusia matang di atas 30 tahun, penampilan fisik dan kondisi keuangan kadang bukan prioritas dalam mencari pasangan. Hal serupa juga ditemukan dalam riset Tirto. Dalam survei yang kami lakukan ditemukan bagi mereka yang berusia di atas 30 tahunan, kriteria paling utama adalah agama yang sama. Selain itu, empat kriteria utama lainnya adalah cerdas, bertanggung jawab, mapan dan berpikiran terbuka.

Bila dilihat berdasarkan gender, untuk responden perempuan, kriteria yang paling utama dalam memilih pendamping adalah memiliki sifat bertanggung jawab. Mengapa bertanggung jawab? Sweetingham, menyebut mereka yang berusia di atas 30 tahun biasanya telah mapan, materi bukan masalah, bagi mereka pasangan yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan merupakan prioritas utama. Ini tentu tak bisa dijadikan justifikasi, tetapi bisa menjadi gambaran umum alasan mengapa perempuan matang dan mapan mencari pasangan yang bertanggung jawab. Selain itu bagi mereka yang belum terlalu mapan kriteria karier yang baik, memiliki agama yang sama, cerdas dan berpikiran terbuka merupakan syarat mutlak.




Berbeda dengan responden perempuan, untuk responden laki-laki, agama yang sama merupakan kriteria paling utama dalam memilih responden. Selain itu, responden laki-laki juga memilih pasangan yang bisa mengurus rumah tangga, seperti pandai memasak, suka anak-anak dan keibuan. Tetapi tentu ini hanya sekedar pertimbangan, laki-laki yang mapan barangkali lebih membutuhkan pasangan untuk rekan merawat rumah, daripada pasangan untuk mengembangkan diri dan mencari rekan setara yang bisa diajak hidup bersama.

Tirto juga melakukan survei untuk responden yang berusia di bawah 30 tahun. Responden berjumlah 318 dengan rentang usia responden 18 sampai dengan 30 tahun, yang saat survei berlangsung sedang tidak dalam hubungan. Profil responden berdasarkan jenis kelamin diketahui mayoritas responden dengan usia di bawah 30 tahun adalah perempuan sebanyak 62,3 persen. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan 50,9 persen responden memiliki pendidikan terakhir SMA/SMK hanya 2,5 persen responden yang memiliki pendidikan terakhir S2.

Tirto juga pernah membahas tentang perilaku kelompok usia Milenial yang merasa karir adalah prioritas utama daripada sebuah hubungan romantis. ManpowerGroup melakukan riset mendalam tentang stigma terhadap para milenial. Riset kuantitatif dilakukan di 25 negara yang menyertakan 19.000 milenial, termasuk di antaranya 8.000 rekan kerja Manpower Group dan lebih dari 1.500 manajer. Peserta riset ini berusia dari 20-34 tahun. Mereka bertanya tentang apa saja yang diinginkan milenial dan bagaimana mereka memandang pekerjaan. Hasilnya mengejutkan, karena membantah berbagai stereotip yang ada pada milenial.

Kelompok usia milenial yang masuk dalam kategori usia akhir 20an dan awal 30an memang mengalami dilema. Mereka yang sejak muda fokus mengejar karier kerap kali tidak memiliki kemampuan sosial yang baik. Mereka mampu melayani klien atau rekan kerja dengan baik, tetapi tidak mampu memelihara atau memulai hubungan romantik serius. Kebanyakan kelompok usia ini tercerabut dalam urusan asmara, mapan secara finansial, namun kesepian dalam hal afeksi. Ini sama sekali berbeda dengan kelompok usia milenial di awal 20an yang sangat kaya dengan kisah asmara.


Generasi milenial sering dicap sebagai generasi galau, dan tidak setia. Padahal, tidak selalu demikian. Tentang perilaku generasi milenial ini bisa dibaca dalam laporan khusus Tirto tentang Bukan Generasi Pemalas.


Dari riset mandiri Tirto diketahui sebanyak 64,8 persen responden menyatakan terakhir kali mereka memiliki pasangan lebih dari 12 bulan yang lalu. Sedangkan 23,6 persen responden menyatakan terakhir kali memiliki pasangan 7-12 bulan yang lalu. Pasangan-pasangan muda ini memiliki prioritas kriteria yang berbeda dengan kelompok usia di atas 30 tahun. Pada kelompok usia kurang dari 30 tahun, pasangan yang cerdas adalah kriteria yang paling utama. Selain cerdas, agama, kemapanan, bisa diajak diskusi dan bertanggung jawab merupakan lima kriteria utama yang dicari dari seorang pendamping di kelompok usia ini.

Berdasarkan jenis kelamin bagi perempuan di bawah usia 30 tahun, agama tetap menjadi kriteria utama dalam memilih pendamping. Sedangkan, bagi laki-laki berusia di bawah 30 tahun, kepribadian dan tampilan menjadi kriteria utama dalam mencari pasangan. Selain itu menikah merupakan hal yang sangat dipikirkan bagi milenial, baik secara pembiayaan pernikahan maupun calon yang akan dinikahi.

Sebelumnya Tirto menulis tentang kompromi milenial Indonesia dalam hal pernikahan. Banyak kelompok milenial di bawah usia 30 di kota besar memiliki penghasilan yang cukup, meski juga tidak terlalu tinggi. Ini punya imbas pada pertimbangan terhadap keinginan menikah, misalnya biaya, kriteria pasangan, dan juga restu. Bagi milenial pernikahan semestinya tidak merepotkan. Mungkin pada 14 Februari ini barangkali waktu yang tepat untuk memikirkan prioritas. Bekerja atau mencari jodoh?

Baca juga artikel terkait BIRO JODOH atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight