Menuju konten utama

Jembatan Cisomang, si Kaki Cipularang

Jembatan Cisomang menjadi dibicarakan karena salah satu tiangnya bergeser. Jembatan ini salah satu sisi dari mega proyek pembangunan Tol Cipularang yang merupakan bagian dari Tol Purbaleunyi untuk menyambut peringatan KAA pada 2005.

Jembatan Cisomang, si Kaki Cipularang
Perbaikan jembatan Cisomang yang mengalami pergeseran 53 cm di Jalan Tol Purbaleunyi KM 100, Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (23/12). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

tirto.id - Dalam sebuah inspeksi lapangan untuk mengecek perkembangan terakhir pembangunan proyek Tol Cipularang awal April 2005, Sjarifuddin Alambai yang kala itu masih menduduki kursi nomor satu PT Jasa Marga mengungkapkan hambatan proses pembangunan Tol Cipularang.

Dari sembilan paket pengerjaan Tol Cipularang, paket III yang menghubungkan antara Purwakarta-Plered (8,55 km) dan paket IV antara Cikalong Wetan-Cikamuning (3,7 km) mempunyai karakter tanah yang mudah longsor karena labil, termasuk Paket III-3 yang kini dikenal sebagai Jembatan Cisomang.

Belakangan, informasi Sjafruddin itu menjadi sangat relevan. Jasa Marga, Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ), dan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), pada Kamis (22/12/2016) mengumumkan telah terjadi pergeseran (deformasi) pada pilar kedua (P2) Jembatan Cisomang pada Jalan Tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi), tepatnya di Km 100+700. Beban Jembatan yang dibangun oleh kontraktor PT L&M System Indonesia harus dikurangi dengan pembatasan jenis kendaraan.

Padahal, jalur penghubung Jakarta-Bandung ini begitu strategis semenjak diresmikan penuh oleh Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Juli 2005. Tol Cipularang saat itu dikebut karena akan dilintasi para pemimpin negara Asia Afrika dalam peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, April 2005.

Infografik Longsor dan Amblas Cipularang

Dikebut untuk KAA

Tol Cipularang membentang dari Cikampek-Purwakarta sampai Padalarang, jalan tol sepanjang 58,5 km ini bagian dari Jalan Tol Purbaleunyi. Jalan tol ini terdiri atas 3 simpang susun, 37 jembatan perlintasan kendaraan, 8 jembatan penyeberangan orang. Dalam sejarah pembangunan tol di Indonesia ini, Tol Cipularang merupakan yang paling cepat pengerjaannya karena dikebut.

“Ada dua titik yang sampai saat ini belum dilakukan pengecoran yakni paket II (Purwakarta Selatan-Plered) dan Paket IV (Cikalongwetan-Cikamuning) sepanjang sekitar 400 meter," kata Djoko Kirmanto yang kala itu masih jadi menteri pekerjaan umum saat inspeksi proyek Tol Cipularang pada 3 April 2005.

Lintasan jalan yang belum dicor membuat Djoko Kirmanto tidak tenang, dan datang lagi pekan berikutnya untuk memastikan pengerjaan sudah beres. Sebagai menteri yang paling bertanggung jawab, ia tentu tak mau mempermalukan muka Indonesia kepada delegasi KAA yang akan menggelar hajatan setengah Abad KAA di Bandung pada 24 April 2005, karena kondisi jalan yang masih belum mulus.

Dengan dikerjakan sistem kebut, pembangunan Tol Cipularang II telah berhasil memecahkan rekor kecepatan pembangunan jalan tol di Indonesia. Tol Cipularang I membentang 18 km diselesaikan 18 bulan atau dikerjakan 1 km per bulan. Sementara Tol Cipularang II sepanjang 40 km selesai dalam 12 bulan dari April 2004 hingga April 2005. Kecepatan pembangunannya mencapai 3,4 km per bulan, artinya 3,5 kali lebih cepat dari penyelesaian Cipularang I.

Tol ini tak lepas dari buah karya Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri yang pada pada 24 April 2004 meresmikan pembangunan ruas tol Cipularang tahap I, meliputi ruas Dawuan-Sadang 12 km dan Padalarang By Pass 6 km. Selanjutnya, Megawati juga memulai pembangunan Tol Cipularang Tahap II sepanjang 40 km yang meliputi Purwakarta-Plered-Cikalong Wetan-Cikamunig. Cipularang tahap II menelan investasi sekitar Rp1,6 Triliun.

"Saya minta pelaksanaan proyek ini bisa dilembur dengan secepat-cepatnya, agar cepat selesai," seru Megawati dikutip dari situs resmi PU.

Sayangnya, buah karya yang awalnya membanggakan hasil kerja putra putri Indonesia ini melahirkan kecacatan kondisi jalan pascapembangunan. Setidaknya, sejak Mei 2005 sudah ada enam kali peristiwa jalan longsor dan amblas. Terakhir, adanya laporan pergeseran (deformasi) pada pilar kedua (P2) Jembatan Cisomang, semacam puncak berbagai persoalan yang melanda tol ini, selain dari masalah maraknya kecelakaan.

Jembatan Cisomang membentang kurang lebih 250 meter di jalur tol. Di sisi barat jembatan tol ini berdiri Jembatan Cisomang untuk jalur kereta api. Jembatan Cisomang baru diresmikan penggunaannya oleh Megawati pada 3 Agustus 2004. Jambatan Cisomang baru ini merupakan pengganti dari jembatan Cisomang lama yang telah berusia 100 tahun, dibangun oleh Belanda pada 1894 sepanjang 230 meter.

Bila dilihat dari Google Maps, terlihat jelas jalur kereta begitu meliuk-liuk daripada jalur Tol Cipularang yang cenderung lurus melintasi kawasan dengan kondisi tanah yang labil. Menurut pengamat transportasi Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno, pembangunan Tol Cipularang—termasuk Jembatan Cisomang yang saat ini jadi buah bibir—telah melawan kondisi alam karena melewati zona merah (tanah rawan longsor).

“Kumpeni ternyata lebih pintar cari trace, biar kelok-kelok tapi lebih aman. Proyek ambisius yang tidak perhitungkan alam,” kata Djoko kepada tirto.id.

Jalur serupa juga akan dilintasi oleh rencana proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Melihat apa yang terjadi di Tol Cipularang, maka sudah sepantasnya pemerintah melakukan kajian mendalam sebelum menggarap sebuah proyek infrastruktur.

Baca juga artikel terkait TOL atau tulisan lainnya dari Suhendra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti