Jelang Hari Valentine, Omset Pedagang Bunga di Rawa Belong Merekah

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 13 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Hari valentine jadi momen bagi pedagang bunga di pasar Rawa Belong untuk memanen keuntungan.
tirto.id - Jika Anda menyambangi kios-kios pasar kembang Rawa Belong, Jakarta Barat, jelang tanggal 14 Februari, jangan heran jika aktivitas para pedagang akan lebih sibuk dari hari biasanya. Bukan karena mereka ingin merayakan hari kasih sayang alias valentine's day, tapi karena tengah menikmati masa panen cuan.

Para pedagang bunga di Rawa Belong mengaku bisa mengalami kenaikan omset hingga dua kali lipat karena kebanjiran order. Ghoida, salah satu pedagang di pasar itu, mengaku keuntungan bisa naik sampai Rp3-4 juta selama momen Valentine.

"Naiknya sekitar 50 persen, berarti kalau tahun lalu misal pas Valentine bisa jual 30 buket tahun ini bisa nyaris 50 buket dan ini masih on going kan ya. Gambarannya kira-kira gitu kalau dirupiahkan kenaikannya bisa Rp3-4 juta lebih," kata Ghaida saat ditemui Tirto di kiosnya, Selasa (11/2/2020).

Bahkan, lanjut dia, bisnis bunga ini seolah tak terdampak kabar lesunya daya beli. Ia menggambarkan, kenaikan omset bisa terjadi lantaran jumlah bunga yang dijual melonjak signifikan. Paket yang disediakan pun beragam, mulai dari parsel sampai tanaman hidup.

Buket cantik berisi 10 mawar yang dirangkai, dengan baby breath dan peacock selalu jadi favorit yang dipesan. "Valentine selalu paling ramai. dibandingkan sama peak moment lainnya kayak hari ibu, lebaran, atau natal. Paling laku itu mawar merah dan pink," kata dia.

Bunga yang dijual memang tak selalu ludes dan menyisakan stok. Tapi, dagangan yang tak laku itu tetap bisa dimanfaatkan dengan cara dikeringkan. Ghoida bilang, bunga kering itu memiliki pasar tersendiri dan tetap menghasilkan keuntungan.

"Kalau enggak laku biasanya kita ada treatment buat bunga kering atau dried flower, jadi tetap dimaintenance kualitasnya karena kadang ada juga customer yang cari dried flower, misalnya untuk tema dekorasi rustic atau vintage itu banyak yang pakai," kata dia.

Hal serupa disampaikan Wahid, pedagang lain di Rawa Belong. Ia bercerita, biasanya bunga miliknya dijual dalam bentuk buket hingga parcel yang dijual dengan harga Rp100.000 sampai Rp500.000 per paket.

"Setiap dua hari dapat 150 paket isinya 3.000 tangkai. Kalau hari valentine bisa tambah sampai 2.000 tangkai. Valentine selalu ramai, misalnya kalau hari biasa dapat 2 sampai 3 pesanan. Minggu lalu sehari sudah dapat 10 pesanan," kata dia kepada Tirto saat ditemui di Pasar Rawa Belong.

Impor Kembang Kian Mekar

Menurut Wahid, prospek penjualan bunga jelang valentine memang lebih harum dibandingkan hari-hari besar keagamaan. Bahkan mengalami tren kenaikan dari tahun ke tahun.

Meski demikian, ia mengaku tak pernah kehabisan stok lantaran suplai bunga dari Malang selalu tersedia. Karena itu, meski permintaan meningkat, kenaikan harga masih dalam batas normal.

“Biasanya bunganya dikirim dari Malang, sekarang kan musim hujan jadi kualitasnya lebih bagus. Di hari biasa itu mawar dikirim 1.500 tangkai hari masih sisa, kalau pas Valentine bisa habis terjual. Jadi untung berlipat," terangnya.


Suplai kembang di pasar Rawa Belong sendiri sebenarnya tak sepenuhnya diproduksi dari dalam negeri. Sebagai produk yang banyak digunakan dalam berbagai perayaan di Indonesia, mulai dari pernikahan hingga hari keagamaan, bunga jadi komoditas bisnis yang terus berkembang.

Untuk memenuhi permintaan pasar, para pengusaha mengandalkan produk impor dari berbagai negara. Setidaknya, berdasarkan data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), ada 23 negara yang jadi penyuplai produk flower dengan HS 0603 ke Indonesia.

Nilai total impor produk tersebut meningkat sepanjang 2014 hingga 2018, yakni 146 juta dolar AS (2014), 796 juta dolar AS (2015), 2.115 juta dolar AS (2016), 3.313 juta dolar AS (2017) dan 3.768 juta dolar AS (2018).

Yang paling besar, dan konsisten mengekspor bunga ke Indonesia dalam empat tahun terakhir, adalah Belanda dengan nilai 146 juta dolar AS (2014), 796 juta dolar AS (2015), 2.115 juta dolar AS (2016), 3.313 juta dolar AS (2017), dan 3.768 juta dolar AS (2018).

Meski terlihat menguntungkan, bisnis bunga ternyata kuga punya tantangan tersendiri. Bunga yang merupakan tumbuhan akan rusak. Ada risiko bunga-bunga yang sudah disimpan bakal rusak bila tak segera dijual.

Bila sudah begini, Wahid mengaku mengakali ya dengan cara dijual murah ke pedagang bunga di pemakaman. Dengan cara ini ia bisa menekan kerugian akibat bunga yang sisa tak terjual.

"Kalau sisa biasanya dijual untuk kebutuhan orang yang akan pergi ke makam, kan ini kelopaknya dicabut. Biar murah tapi tetep bisa untung," tandasnya.

Baca juga artikel terkait HARI VALENTINE atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Hendra Friana
DarkLight