Jangan Cuma Ikut Tren, Perhatikan Usia & Komitmen saat Pasang Behel

Oleh: Aditya Widya Putri - 15 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Apa saja faktor penyebab yang membikin perawatan behel gigi molor?
tirto.id - Perawatan ortodonti saat ini telah lazim dilakukan masyarakat Indonesia, bahkan menjurus menjadi tren. Sayang, seringkali tren ini tak diimbangi dengan kesadaran pemeriksaan dini dan menjaga perawatan gigi sehingga perawatan ortodonti menjadi lebih lama atau malah sia-sia belaka.

Umumnya kita mengenal perawatan ortodonti sebagai perawatan “behel”. Tidak salah memang, namun ortodonti selain bersifat estetika juga menangani ketidakteraturan gigi-geligi dan mengoreksi pertumbuhan, serta perkembangan tulang-tulang rahang dan kepala.

Perawatan ini ideal dilakukan sejak usia anak-anak karena perbaikan gigi jadi lebih mudah dan tentu lebih murah, dibandingkan saat dewasa,” ungkap Benny Mulyono Soegiharto, Dokter Gigi Spesialis Ortodonsia dari RS Pondok Indah (RSPI) dalam paparan virtual Selasa (12/1/2021).

Dalam prakteknya, perawatan ortodonti terbagi tiga: preventive orthodontics, interceptive orthodontics, dan comprehensive orthodontics. Preventive orthodontics bersifat pencegahan, perawatan sudah bisa diterapkan pada usia 5-10 tahun. Pada periode umur ini disharmoni rahang belum terlalu parah.

Kemudian interceptive orthodontics merupakan perawatan ortodonti pada anak umur 7-13 tahun dengan indikasi dentokraniofasial berkembang, akibat genetik atau kebiasaan seperti mengisap ibu jari. Terakhir comprehensive orthodontics, perawatan untuk usia remaja hingga dewasa. Pada tahap ini gigi sudah mencapai struktur tetap dan disharmoni dentokraniofasial sudah berada di tinggat parah.

Anak sudah bisa ke ortodonti sejak usia 7-8 tahun saat periode gigi-geligi bercampur. Kita bisa mengevaluasi dini kebiasaan buruk yang harus dihentikan,” lanjut Benny, mengutip panduan dari The British Orthodontics Society (BOS) dan American Association of Orthodontists (AAO)

Dibanding perawatan ortodonti saat dewasa yang memakan waktu tahunan, perawatan pada anak bisa dikerjakan hanya dalam hitungan bulan. Secara umum untuk mengatasi masalah gigi, ada tiga alat utama perawatan ortodonti, yakni alat lepasan (removable appliances), alat cekat (fixed appliances) dan alat fungsional (functional appliances).

Alat lepasan terbuat dari akrilik dengan kawat yang berfungsi untuk menggerakkan gigi-geligi secara terbatas dengan jangka waktu pemakaian singkat. Lalu alat cekat berasal dari keramik atau besi yang ditempel pada gigi bersama dengan kawat. Sementara alat fungsional digunakan untuk merubah pertumbuhan tulang rahang.

Faktor yang Membikin Perawatan Gigi Molor

Ketika memutuskan menjalani perawatan ortodonti, artinya kita harus siap dengan komitmen menjaga kebersihan gigi. Sebab jika masih berlaku sembarangan, maka perawatan ini bisa molor dari target perencanaan dokter.

Kesalahan paling umum pengguna behel itu malas sikat gigi. Jadi muncul plak yang memicu radang gusi atau gingivitis, dan lubang gigi,” kata dokter yang berpraktik di RSPI - Puri Indah ini. Benny melanjutkan, setidaknya dalam urusan gosok gigi dilakukan dalam dua kali sehari, terutama sebelum tidur.

Kebiasaan buruk lain yang masih sering dilakukan adalah mengunyah makanan keras. Padahal kebiasaan ini membuat gigi bekerja ekstra dan memicu copotnya biji kawat pada gigi. Sementara daya tempel pemasangan ulang biji kawat tidak akan sekuat pertama.

Semakin sering copot, semakin lama perawatannya selesai. Bisa-bisa sampai 10 tahun.”

Lanjut dengan tipe kesalahan ketiga, yakni tidak menggunakan karet perawatan. Padahal karet gigi berguna untuk mengkoordinasikan gerakan gigi supaya simultan. Selain itu penggunaan karet gigi juga bertujuan untuk mengarahkan kedudukan gigi agar berada di posisi sempurna.

Jenis kesalahan terakhir, paling umum dilakukan pengguna behel, yaitu malas kontrol rutin,” ungkap Benny.

Idealnya kontrol rutin dilakukan sebulan sekali, tapi masih banyak pasien yang absen, bahkan hingga berbulan-bulan lamanya. Padahal dokter harus memantau secara ketat pergerakan gigi selama perawatan agar dapat dikendalikan dan sesuai target waktu perawatan.


Baca juga artikel terkait KAWAT GIGI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight