ISIS-K di Afganistan dan Mengapa ISIS Sulit Mati?

Oleh: Ahmad Zaenudin - 6 September 2021
Dibaca Normal 5 menit
Pada 26 Agustus 2021, bom bunuh diri meledak di sekitaran Bandar Udara Kabul, Afganistan. ISIS-K ditunjuk sebagai biang keladinya.
tirto.id - Tepat pada 26 Agustus 2021, empat hari selepas Gedung Putih mengeluarkan peringatan tentang kemungkinan serangan teroris, bom bunuh diri meledak di sekitaran Bandar Udara Kabul, Afganistan. Setidaknya 170 warga Afganistan beserta 13 tentara AS tewas dalam ledakan tersebut.

"Kami marah dan juga patah hati," tutur Presiden Biden mengomentari serangan.

Bom bunuh diri yang dilakukan oleh dua ekstrimis siap mati, bukan dinahkodai oleh Taliban melainkan oleh Negara Islam Irak dan Syam (Islamic State of Iraq and the Levant atau Islamic State of Iraq and Syria) alias ISIS. Organisasi teror paling kejam yang diklaim Presiden Trump telah "lenyap 100 persen" pada Oktober 2019 silam.

ISIS

Di Yordania, negara modern pewaris Kerajaan Nabatea, tak ada yang lebih mengerikan dibandingkan al-Jafr. Layaknya penjara Alcatraz di Amerika Serikat, penjara Guantanamo Bay di Kuba, atau penjara Nusakambangan di Indonesia, al-Jafr merupakan tempat bagi para penjahat meratapi nasib, dikurung serta dikucilkan dari masyarakat di tengah-tengah padang pasir. Menurut David Lean, sinematografer Holywood yang sempat datang ke Al-Jafr dalam rangka pengambilan gambar film Lawrence of Arabia, pada pasir tersebut "lebih muram dibandingkan gurun mana pun yang pernah saya lihat."

Didirikan di bawah kuasa Kerajaan Inggris, penjara al-Jafr dibangun untuk mengurung penjahat kelas kakap. Tatkala Inggris akhirnya hengkang, Kerajaan Yordania menjadikan al-Jafr tempat mengurung milisi-milisi radikal, khususnya asal Palestina, tanpa proses hukum apapun. Umumnya tahanan disiksa hingga hilang kesadaran. Untunglah, seiring kencangnya desakan dunia internasional, penjara sekaligus tempat penyiksaan ini akhirnya ditutup pada 1979.

Namun, karena berkembangnya pembangkangan terhadap pemerintah di pelbagai penjara di Yordania pada dekade 1990-an, pemerintah memutuskan mengaktifkan kembali al-Jafr. Sejak 1998, pmerintah mengisolasi orang-orang yang diduga keras sebagai biang kerok demo-demo anti-pemerintah dari pelbagai penjara ke al-Jafr, termasuk seorang cendekiawan bernama Abu Muhammad al-Maqdisi yang dipandang kharismatik, religius, dan manipulatif.

Maqdisi, melalui pelbagai buku karangannya seperti Demokrasi adalah Agama menganggap bahwa dunia Islam, khususnya di kawasan Jazirah Arab, telah hancur karena penerapan sekularisme. Bagi Maqdisi, Islam hanya bisa berjaya jika sekularisme dihancurkan—mulai dengan menggulingkan pemerintah hingga membunuh para penentang Quran dan Hadis, baik penguasa ataupun rakyatnya yang dianggap "merayakan" sekularisme.

Dikurung bersama para pembenci pemerintah, Maqdisi "mengajar" untuk mentransfer ilmu yang dimilikinya di dalam jeruji al-Jafr. Pada saat bersamaan, al-Jafr juga menampung Ahmad Fadeel al-Nazal al-Khalayleh alias Abu Musab al-Zarqawi, pemuda Yordania yang sempat merantau ke Afganistan pada akhir 1980-an untuk memerangi Uni Soviet. Setelah akhirnya berlabuh menjadi seorang reporter pada harian Islamis bernama al-Bonian al-Marsous, Zarqawi ditangkap polisi Yordania usai kedapatan memiliki senjata api dan bahan peledek sekembalinya ke kampung halaman.

Di al-Jafr, Maqdisi membuat Zarqawi menjadi seorang pemuda saleh, militan, dan memusuhi siapapun yang dianggap sekuler. Di bawah bimbingan Maqdisi, sosok yang dianggap AS sebagai "pemikir utama intelektualisme jihad kontemporer", Zarqawi berevolusi menjadi orang kedua yang paling dihormati sekaligus ditakuti di seantero al-Jafr. Ia menjelma "petugas syariat," al-takfiris, yang memastikan rekan-rekannya sesama narapidana menjalankan perintah agama. Ia juga menjadi penentang utama para petugas al-Jafr yang ia tuduh sekuler. Zarqawi akhirnya menghirup udara bebas di tengah perubahan kekuasaan Yordania pada akhir 1990-an.

Sekembalinya dari penjara, sebagaimana dipaparkan Joby Warrick dalam bukunya berjudul Black Flags: The Rise of ISIS (2015), Zarqawi tak hanya lebih pintar dan kian dikagumi kawan-kawannya, tetapi juga memperoleh jaringan jihadis yang kian luas berkat Maqdisi. Tak lama usai bebas, untuk kedua kalinya Zarqawi menginjakkan kaki di Afganistan. Sebagaimana dipaparkan Michael Weiss dan Hassan Hassan dalam ISIS: Inside the Army of Terror (2016), Zarqawi bertemu dengan Osama bin Laden, kaisar teror al-Qaeda di wilayah yang dikuasai oleh Taliban, Kandahar. Sayangnya, bukannya diterima menjadi bagian al-Qaeda, Zarqawi dicampakkan Osama yang menilai anak didik Maqdisi ini telah dimonitor oleh General Intelligence Directorate (GID), intelijen Yordania, semenjak mendekam di al-Jafr. Tak ketinggalan, Osama pun menolak Zarqawi karena si anak bengal ini memiliki tato, yang dipandang haram dalam Islam.

Tak ingin malu, penolakan al-Qaeda dianggap Zarqawi sebagai berkah. Pasalnya, seandainya Zarqawi diterima, ia harus mau dibaiat (disumpah setia) pada Osama—hal yang menurutnya bertentangan dengan syariat.

Yang menarik, meskipun ditolak bergabung, Zarqawi memperoleh pelatihan militer di salah satu kamp training milik al-Qaeda di Herat, Afganistan. Tak ketinggalan, berkat dana melimpah yang dimiliki Osama, Zarqawi diberi uang senilai USD200.000 dalam bentuk "utang" guna membiayai aksi terorisme. Hutang ini akhirnya dibayar, tepat pada malam tahun baru 2000: Zarqawi mengotaki aksi bom bunuh diri di Hotel Radisson SAS, Hotel Grand Hyatt, dan Days Inn di Amman, Yordania. Sebanyak 60 warga Yordania yang tengah berpesta tewas.

Usai teror di Yordania Zarqawi lantas membentuk pasukannya sendiri, Jund-al-Sham atau "Tentara Syam". Ia pergi ke Irak untuk bergabung dengan "teroris kecil" di sana demi membentuk Ansar al-Islam dan mencoba menggulingkan Saddam Hussein.

Tak disangka, dimotori serangan ke dua menara World Trade Center di New York, kedatangan Zarqawi ke Irak pun kemudian diikuti kedatangan Paman Sam. Menariknya (atau ironisnya), kedatangan AS ke Irak dalam rangka balas dendam itu pun dibarengi dengan hoaks terburuk dalam catatan sejarah Amerika. Karena Zarqawi pernah bertemu Osama (juga dilatih al-Qaeda) dan kini berada di Irak sebagai salah satu pemimpin Ansar al-Islam, Paman Sam mengambil kesimpulan gegabah: Zarqawi adalah "the missing link" antara al-Qaeda (biang tragedi 9/11) dan pemerintah Irak. Zarqawi, dengan kata lain, menjadi salah satu dalih invasi AS terhadap Irak.


Pada 3 Februari 2003, Menteri Luar Negeri AS Colin Powell, dalam pidatonya di depan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyebut Zarqawi "teroris paling mematikan" dan "kolabolator utama Osama bin Laden". Pidato ini bukan hanya mengawali hancurnya Irak di bawah AS, tapi juga tetapi meroketkan nama Zarqawi dari kombatan medioker menjadi menjadi "selebritis teror nomor wahid dunia". Karena tak berhasil ditangkap/dibunuh Paman Sam dalam invasinya ke Irak, Zarqawi pun memperoleh dukungan melimpah. Ia bahkan menjadi idola banyak anak muda.

Dalam pidato di Kapal Induk USS Abraham Lincoln pada 1 Mei 2003, Presiden George W. Bush mengklaim misi pendudukan di Irak sudah tercapai—"Mission Acomplished". Kenyataannya, invasi ini berbuah membuahkan kekacauan yang lebih parah: Zarqawi memperoleh momentum menguasai Irak. Perlahan, ia mendekralasikan diri membentuk Negara Islam Irak dan menunjuk dirinya sendiri sebagai Emir pertama.

Melalui tangan Zarqawi, terciptalah organisasi teroris paling kejam di dunia, Negara Islam Irak dan Syam (Islamic State of Iraq and the Levant atau Islamic State of Iraq and Syria) alias ISIS atau ISIL. Organisasi ini sempat menguasai hampir semua wilayah di Irak dan Suriah di bawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi. Zarqawi sendiri keburu tewas ditembak mati pada 2006.

(Catatan: Hassan Hassan, kontributor The Atlantic sekaligus satu dari dua penulis buku ISIS: Inside the Army of Terror, tak sepakat menganggap Zarqawi sebagai pendiri ISIS. Baginya, cikal-bakal ISIS sesungguhnya dimulai oleh Abdulrahman Mustafa al-Qaduli. Namun, konsesus peneliti/ilmuwan yang mempelajari dunia terorisme sepakat bahwa ISIS diotaki Zarqawi)

Infografik ISIS-K
Infografik ISIS-K. tirto.id/Quita


Ya, meskipun sempat berkuasa di hampir semua wilayah Irak dan Suriah serta mengancam kestabilan dunia, ISIS akhirnya berhasil dihancurkan oleh kekuatan Barat pada 2019. Sayangnya, "hancur" tak selalu berkonotasi dengan "mati". Salah satu titik kekuatan ISIS yang tak berhasil tersentuh oleh AS, Suriah, Iran, dan Rusia adalah cabangnya di Afganistan, tepatnya di Provinsi Khorasan, alias ISIS-K. Sebagaimana dipaparkan Alan Cullison untuk The Wall Street Journal, ISIS-K lahir atas hubungan yang "aneh" antara Taliban dan al-Qaeda.

Jauh sebelum pasukan AS tiba di Afganistan, Taliban menganggap al-Qaeda sebagai saudara karena keikutsertaannya melawan Uni Soviet. Namun, setelah 2001, Taliban menganggap al-Qaeda sebagai biang keladi tersingkirnya Taliban dari kekuasaan. Sebab, fakta bahwa Al-Qaeda bembunyi di Afganistan selepas serangan 9/11 membuat AS menuduh Taliban berkongsi dengan al-Qaeda dan menjadi "the missing link" bagi Paman Sam untuk membenarkan invasinya ke Afganistan.


Bagi al-Qaeda, khususnya Osama bin Laden sendiri, Taliban tak pernah dianggap sebagai kawan, melainkan sebatas "bantuan" dalam usaha mereka melawan kekuatan Barat. Dan, meskipun al-Qaeda memiliki pejuang-pejuang asal (dan beroperasi) di Afganistan, Osama menerima mereka dengan setengah hati. Sebab, dengan menuduh Taliban sebagai biang keladinya, pejuang-pejuang al-Qaeda asal Afganistan mayoritas tidak bisa membaca Quran.

Pembunuhan Osama oleh AS pada 2011 diiringi dengan serangkaian kemenangan ISIS menguasai wilayah-wilayah di Irak dan Suriah sejak 2014. Al-Qaeda saat itu memilih bersembunyi, meninggalkan milisi-milisinya asal Afganistan untuk bertempur sendirian bersama Taliban. Sayangnya, Taliban tidak mau menerima mereka. Walhasil, milisi-milisi eks-al-Qaeda di Afganistan yang menganggap Taliban serakah akhirnya menyatakan bergabung bersama ISIS, membentuk ISIS-K, untuk ikut serta dalam upaya Abu Bakr al-Baghdadi dan kawan-kawannya mendirikan kekhalifahan Islam.

Uniknya, karena sel ISIS terbentuk di Afganistan, Taliban memperoleh "angin segar." Tak ingin Afganistan jatuh ke tangan ISIS, Rusia, Iran, dan Cina memberikan bala bantuan berupa persenjataan pada Taliban untuk membasmi ISIS dan merebut wilayah-wilayah lain tak lama usai AS menarik pasukan.

Nahas, bom bunuh diri di Bandar Udara Kabul menunjukkan bahwa ISIS sulit dihentikan Taliban. Seperti yang telah disaksikan sebelumnya, pertarungan faksional ini boleh jadi akan merambat ke berbagai tempat di dunia.

Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight