Ikhtiar Marichuy, Capres Perempuan Pertama Meksiko dari Suku Asli

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 5 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Pejuang hak hidup aman untuk perempuan, anti-pelanggaran HAM terhadap masyarakat adat atas nama pembangunan, anti-korupsi, dan anti-kapitalisme.
tirto.id - Warga adat Meksiko kecewa. Wakilnya di pemilihan presiden 2018 melalui jalur independen, Marichuy, tak mampu memenuhi syarat minimal dukungan. Meski demikian, sosoknya terlanjur populer sebagai simbol perjuangan. Ia diramalkan akan terus menginspirasi gerakan dari bawah tanah.

Nama aslinya Maria de Jesus Patricio Martinez. Lahir pada tanggal 23 Desember 1963 di komunitas adat Nahua di Tuxpan, Negara Bagian Jalisco, Meksiko bagian barat.

Isaín Mandujano melaporkan untuk Chiapas Support Committee bahwa cita-cita Marichuy sejak bersekolah menengah atas adalah untuk melestarikan pengobatan khas komunitasnya. Ia fokus mempelajari ragam obat-obatan yang biasa dipakai untuk menyembuhkan warga yang sakit. Usai lulus, ia benar-benar jadi tabib tradisional.

Telesur TV mencatat pada tahun 1992 ia mendirikan Calli Tecolhuacateca Tochan Clinic, berfungsi sebagai pusat kesehatan untuk mendukung keberlanjutan dan pengembangan obat tradisional suku asli Nahua. University of Guadalajara telah mendukung visi mulia tersebut selama beberapa dekade.


Namanya mulai dikenal luas sejak berpartisipasi dalam gerakan masyarakat adat Zapatista, termasuk menjadi salah satu pendiri Kongres Nasional Adat (CNI). Ia aktif menyuarakan perlindungan terhadap perempuan suku asli di seluruh dunia, agar hak-hak asasinya tidak dengan mudah dilanggar oleh negara sekalipun.

Aktivisme yang ia jalankan konsisten selama hampir dua dekade belakangan. Reputasinya pun perlahan kian moncer. Pada Mei 2015, misalnya, ia dianugerahi Penghargaan Tuxpan Merit oleh Unit Dukungan Universitas Guadalajara untuk Masyarakat Adat (UACI).

CNI terdiri dari 58 komunitas adat. Mereka dibekingi oleh Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN), kelompok revolusioner pembela masyarakat adat yang cenderung anti-pemerintah. Namun pada akhir tahun 2016 mereka mengumumkan akan memilih wakil perempuan adat untuk maju di pemilihan presiden Meksiko.

Pada 28 Mei 2017 CNI mengangkat mandat tersebut ke pundak Marichuy, sekaligus menunjuknya sebagai juru bicara. Marichuy pun menjadi calon presiden (capres) perempuan Meksiko ke-6 sepanjang sejarah, dan capres perempuan yang pertama dari golongan masyarakat adat.


Laura Dowley dari Democracy Now melaporkan bahwa kampanye Marichuy berfokus pada pokok-pokok idealisme yang sudah ia galakkan sejak lama. Ia pembela hak-hak perempuan, terutama hak atas rasa aman sebab di Meksiko perempuan masih jadi korban pembunuhan, pemerkosaan, dan penghilangan paksa.

Pemerintah Meksiko merilis data bahwa 21,5 persen dari total populasinya diidentifikasi sebagai bagian dari masyarakat adat. Representasi mereka di platform elite nasional amat sedikit, sehingga kemunculan Marichuy menjadi penting.

Akibat masih lemahnya daya tawar di tingkat pemerintah pusat, masyarakat adat kerap jadi korban kebijakan negara. Dowlet mengutip laporan UN Working Group tahun 2017 yang memaparkan beragam bentuk pelanggaran hak asasi manusia akibat proyek pertambangan, energi, konstruksi, dan pariwisata skala besar di Meksiko.

Laporan tersebut memaparkan kegagalan pemerintah Meksiko dan korporasi-korporasi dalam memenuhi kewajiban untuk melindungi ekosistem hidup warga lokal. Proyek-proyek atas nama pembangunan merugikan warga adat sebab pemerintah maupun korporasi tidak berkonsultasi, apalagi mengajak kolaborasi.


CNI dan simpatisannya muak dengan perampasan lahan untuk tempat tinggal, bercocok tanam, maupun menggembala binatang warga adat, lagi-lagi atas nama pembangunan. Jika ada yang melawan, maka ganjarannya adalah represi, kekerasan, penyiksaan, atau penjara.

Dowley mendapat cerita bagaimana Magdalena Garcia Duran, seorang anggota dewan, yang pada 2006 ditangkap bersama 207 orang di Kota San Salvador Atenco, berjarak kurang lebih satu jam dari timur laut Mexico City. Saat itu ia dan kawan-kawannya sedang memprotes kasus perampasan tanah adat.

“Mereka memukuli kami, memenjarakan kami, dan mereka mengarang tuduhan,” kata García, yang dibebaskan usai 18 bulan dipenjara, setelah pengadilan federal menyatakan bahwa tidak ada bukti untuk penahanannya.

Inter-American Commission of Human Rights kemudian melaporkan bahwa terkait kasus San Salvador Atenco, pemerintah Meksiko bertanggung jawab atas penahanan ilegal dan sewenang-wenang, kegagalan untuk menyediakan jaminan hukum, terlibat praktik penyiksaan dan sejumlah kasus pemerkosaan.


CNI menyadari akarnya adalah kapitalisme, sehingga mereka anti terhadapnya. Kapitalisme telah membuat korporasi multinasional merampok tanah, hutan, dan tambang. Mereka tidak puas dengan sistem politik dan ekonomi yang sekarang dijalankan sebab hanya menguntungkan segelintir elit.

CNI menawarkan bentuk pemerintahan yang lebih partisipatoris yang tak hanya menguntungkan untuk warga adat, namun semua warga Meksiko. CNI mempromosikan apa yang mereka lakukan dari dulu, bersama gerakan Zapatista: bergerak dari akar rumput, konsolidasi dari bawah ke atas, dalam nuansa yang kolektif.

Sikap anti-korupsi juga jadi topik utama bagi CNI. Transparency International 2017 menempatkan Meksiko sebagai negara terkorup ke-45 dari 180 negara. Skornya yang sama dengan Laos, Papua Nugini, Paraguay, dan Rusia.

Marichuy dan CNI maju memakai jalur independen. Sesuai peraturan Institute Elektoral Nasional (INE), sejak 15 Oktober 2017 keduanya mulai mengumpulkan minimal 866.593 tanda tangan sebagai dukungan minimal. Mereka harus memerolehnya di 17 negara bagian selama 120 hari.


Sebagaimana kenyataan yang harus dihadapi Marichuy, ia tak mampu menjajakinya, sehingga tak melaju ke babak berikutnya. Namun metode untuk mendapatkan tanda tangan yang diatur oleh INE juga menuai kecaman sebab harus memakai aplikasi dan ponsel dengan sistem operasi minimal Android 5.0.

Infografik Marichuy dari Meksiko


Belum dengan kendala mengunduh aplikasi penanda tangan yang makan waktu berjam-jam, pendaftarannya, dan tetek bengek teknis lain. Marichuy pun berkesimpulan bahwa sistemnya merugikan para pendukungnya dari kalangan kelas bawah, yang justru jadi kelompok terbanyak, demikian mengutip Chiapas Support Committee.

Menurutnya, sistem elektronik digital tidak dibuat untuk orang-orang Meksiko, "untuk orang miskin di negara ini, tetapi untuk yang kaya, mereka menuntut kami untuk menggunakan teknologi untuk pengumpulan tanda tangan yang di banyak komunitas kami sendiri belum dikenal."

Marichuy dan CNI tidak sepenuhnya kecewa, sebab tujuan utama mereka sebenarnya bukan jabatan elite, namun menyebarnya idealisme yang mereka usung sebagai alternatif dan “obat” bagi beragam permasalahan di Meksiko.


Sebagaimana laporan Telesur TV awal Mei lalu, usai terhentinya langkah Marichuy, CNI beserta Dewan Adat Pemerintah (CIG) mengumumkan tidak akan mendukung salah satu kandidat di Pilpres Meksiko 2018. Lagi-lagi, tak lupa untuk mengajak massa pendukung kembali ke jalur perjuangan mendasar.

Sebagaimana pesan Marichuy dalam siaran persnya:

“Baik CIG maupun juru bicara kami tidak akan mencari atau menerima ajakan aliansi dengan partai politik atau kandidat mana pun, maupun menyerukan pemungutan suara atau abstensi. Kami akan terus mencari semuanya yang ada di akar rumput, untuk membongkar kekuatan di lantai atas yang sudah basi. Apakah Anda memilih atau tidak, organisirlah diri Anda sendiri.”

Baca juga artikel terkait MEKSIKO atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf