Menuju konten utama

Harga Komoditas Pasca Lebaran Masih Tinggi, OP Diperpanjang

Harga beberapa komoditas pangan pasca-Lebaran masih tetap tinggi. Hal ini membuat Perum Bulog akan tetap melanjutkan operasi pasar (OP) sebagai upaya untuk menstabilkan harga sejumlah komoditas tersebut.

Harga Komoditas Pasca Lebaran Masih Tinggi, OP Diperpanjang
Seorang petugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) provinsi Jawa Timur menanyakan harga daging sapi yang dijual kepada seorang pedagang daging sapi di pasar Tambahrejo, Surabaya, Jawa Ttimur. Antara Foto/Moch Asim.

tirto.id - Masih tingginya sejumlah harga komoditas seperti gula, daging sapi dan bawang merah membuat Perum Bulog tetap melanjutkan kegiatan operasi pasar (OP) bahan pangan meskipun lebaran sudah lewat sebagai upaya menstabilkan harga sejumlah komoditas tersebut.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu di Jakarta, Sabtu (16/7/2016) menyatakan, OP bahan kebutuhan pokok tersebut dilakukan di seluruh pelosok Indonesia, salah satunya melalui Rumah Pangan Kita (RPK).

Wahyu mengatakan, saat ini harga beberapa komoditas pangan pasca-Lebaran masih tetap tinggi, misalnya, daging di pasaran umum masih di kisaran Rp120.000 per kg, begitu juga gula tercatat seharga Rp15.000 per kg.

"Alasan inilah yang membuat Bulog akan terus melakukan OP beberapa komoditas pangan di pasaran agar harga bisa turun," kata Wahyu.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk menahan laju kenaikan harga daging di pasaran, Bulog tetap menjual komoditas hasil ternak tersebut Rp80.000 per kg, sedangkan gula juga dijual di bawah harga pasaran, apalagi pemerintah menginginkan agar harga gula bisa turun di kisaran Rp12.500 per kg.

Wahyu menjelaskan, pihaknya masih mendatangkan daging sapi dari Australia untuk OP daging dan akan segera dijual ke pasar guna menurunkan harganya yang masih tinggi.

Setidaknya, menurut dia, ada sekitar 15 kontainer daging sapi yang bakal masuk setelah Lebaran, selain itu sampai akhir tahun ini, Bulog juga akan mendatangkan 2.000 ton jeroan dalam bentuk jantung dan hati.

Sebagian jeroan tersebut, sudah didatangkan selama Ramadhan lalu, dan sebagian akan didatangkan pada akhir Juli dan Agustus mendatang.

Menjelang Lebaran lalu harga beberapa komoditas pangan strategis mengalami peningkatan drastis, sehingga Presiden RI kemudian memerintahkan Perum Bulog untuk menstabilkan harga sejak minggu ke dua Mei lalu.

Komoditi pangan yang harus dijaga stabilitas harganya yakni beras medium, beras premium, gula, minyak goreng, daging sapi dan bawang merah.

Ada 82 kota seluruh Indonesia yang merupakan kota-kota pencatat inflasi, terdiri dari 232 titik pasar. Oleh karena itu untuk menjaga stabilitas harga pangan tersebut Bulog melakukan operasi pasar.

Pasar murah dan penjualan komersial melalui pedagang, di titik pasar dan bazaar di perumahan, serta melalui jalur distribusi komersial antara lain RPK.

Dalam operasi pasar, Bulog menjual beras medium dengan harga Rp7.900/kg, beras komersial Rp8.500/kg, gula pasir Rp13.000/kg, minyak goreng Rp12.000/kg, daging Rp80.000/kg dan bawang merah Rp25.000/kg.

Data Perum Bulog hingga 27 Juni lalu, distribusi komoditas beras medium sudah sebanyak 215.201 ton, beras premium/komersial 78.262 ton, bawang merah Rp1.398 ton, daging sapi 2.969 ton, gula 4.426 ton dan minyak goreng 432.395 liter.

Menanggapi Bulog yang tetap menggelar OP, Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) Pusat, Sutarto Alimoeso mengatakan, sebagai lembaga pemerintah, Bulog berfungsi untuk melakukan stabilisasi harga pangan di pasaran.

Apalagi sebagai negara besar, produksi pangan di Indonesia haruslah dikelola dengan baik dan merata di seluruh Indonesia.

Sutarto menyatakan, stabilitas harga pangan menjadi tugas Bulog, selain itu, BUMN Pangan ini harus memastikan kalau stok pangan baik itu beras, daging, gula merata di seluruh Indonesia.

"Kalau mengandalkan pihak swasta itu tidak mungkin, pemerintah harus turun tangan melalui Bulog," ujarnya.

Oleh karena itu mantan Dirut Perum Bulog tersebut berpesan, Bulog wajib membuat stok dan menjaga keseimbangan pangan di pasaran, sehingga kalau ada kegagalan pasar, maka perusahaan itu harus segera mengeluarkan stok yang dimiliki.

"Artinya, Bulog harus menjadi pelaksana dan perpanjangan tangan pemerintah untuk menjaga stabilisasi harga pangan nasional," katanya.

Baca juga artikel terkait EKONOMI

tirto.id - Ekonomi
Sumber: Antara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara