GP1996 di Indonesia, Saat Sentul Jadi Saksi Menangnya Doohan

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 24 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Indonesia pertama kali jadi tuan rumah Grand Prix motor pada 1996. Sirkuit Sentul menjadi saksi Michael Doohan mengincar gelar juara dunia ketiga saat itu.
tirto.id - "Mungkin saja ada sirkuit perkotaan di MotoGP. Ada proyek yang solid di kota yang hangat," kata CEO Dorna Sport SL Carmelo Ezpeleta pada 19 Januari 2018, sebagaimana disiarkan laman Detik Sport.

Ezpeleta sedang tidak merujuk pada Sirkuit Marina Bay, Singapura, yang telah sohor sebagai sirkuit jalan raya. Setahun lalu memang belum terang sirkuit mana yang ia maksud, tetapi Kamis lalu semuanya jelas sudah. Petunjuk pertamanya: Indonesia akan menjadi salah satu tuan rumah gelaran MotoGP mulai 2021.

Indonesia yang diwakili oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) ternyata telah meneken kontrak penyelenggaraan MotoGP dengan Dorna Sport SL sejak 29 Januari 2019 di Madrid, Spanyol.

"Kontraknya tiga tahun, mulai (menggelar MotoGP Indonesia) pada 2021. Nama kontraknya Promoter's Agreement. Saat itu, kami memang belum mengumumkan, karena mencari waktu yang tepat," ungkap Direktur Utama ITDC Abdulbar M. Mansoer sebagaimana dikutip laman Motorsport Indonesia, Kamis (21/2/2019) lalu.

Tentunya, sirkuit jalan raya yang dimaksud Ezpeleta itu ada di Indonesia. Konsepnya, trek balap akan berada di jalan raya dan paddock-nya akan terintegrasi dengan pusat ekshibisi. Ketika tidak dipakai balapan, sirkuit akan jadi jalan raya biasa.

Melihat hal itu sudah pasti Sirkuit Sentul, Bogor, dan Jaka Baring, Palembang, tak jadi tak masuk hitungan. Dan memang ITDC tidak mengajukan keduanya, melainkan Sirkuit Mandalika di Lombok yang rupa-rupanya baru akan dibangun September tahun ini.



"Kami sudah desain sirkuitnya. Kami sudah ajukan ke Franco Uncini dan Loris Capirossi (dari FIM Grand Prix Safety Officer). Street circuit ini akan kami bangun dari awal. Tidak seperti yang ada di Singapura dan Monako. Di MotoGP juga belum pernah ada. Jadi, konsep kami street circuit,” terang Abdulbar.

Ezpelata sendiri sudah menilik lokasi calon sirkuit itu akhir tahun lalu. Nantinya VINCI Construction Grands Projets, perusahaan konstruksi dari Perancis, akan jadi kontraktornya. Rencananya, trek balapnya akan sepanjang 4,32 km dengan 18 tikungan.

Ini tentu kabar gembira bagi publik Indonesia. Ini karena Indonesia sudah mengusahakan penyelenggaraan MotoGP sejak 2015 silam. Tiadanya sirkuit yang memadai menjadi pengganjal. Kini, setelah lebih dua dekade akhirnya gelaran MotoGP akan kembali dihelat di Indonesia.

Sirkuit Sentul


Indonesia pertama kali dipercaya jadi tuan rumah ajang balap motor paling prestisius di dunia ini pada 1996. Kala itu kompetisi ini masih bernama Grand Prix (GP). Venue-nya tak lain adalah Sirkuit Sentul, Bogor.

Untuk urusan ini bolehlah orang berterimakasih kepada Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Berkat dia setidaknya Indonesia jadi punya sirkuit balap bertaraf internasional. Di masa itu Tommy memang sedang gandrung pada olah raga balap-balapan. Ia juga ketua umum PB Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Tapi, sudah barang tentu ia tak merealisasikannya sendirian. Ada nama Tunky Ariwibowo dan juga pebalap senior Tinton Soeprapto. Harian Kompas menyebut mereka sebagai Triple T yang membidani lahirnya Sirkuit Sentul.

Laman warta sejarah Historia menyebut bahwa peletakan batu pertama pembangunan sirkut sebenarnya sudah dilakukan pada 1986. Tapi, tersebab satu dan lain hal pembangunannya baru berjalan 1990.

Mulanya, sirkuit direncanakan sepanjang 4,2 kilometer, tapi realisasinya hanya jadi 3,9 kilometer. Triple T mendatangkan desainer dari Federation Internationale de l’Automobile (FIA). Ya, Sirkuit Sentul memang sedari awal direncanakan untuk balap Formula One.

Pembangunan sudah rampung pada 1992 dan kemudian diresmikan pada 22 Agustus 1992 oleh bapaknya Tommy. Tunky yang sedari mula mengawal pembangunan sirkuit yakin benar bahwa sirkuit baru itu akan membuat kagum publik. Konon, di masa itu, Sirkuit Sentul adalah arena balap termegah di Asia Tenggara.

Tinton yang mantan pebalap pun berpendapat serupa. "Saya serasa mimpi Indonesia punya sirkuit semegah ini," kata Tinton saat peresmian sirkuit, sebagaimana dikutip Kompas (7/4/1996).



Tapi, dasar sial balap mobil F1 malah gagal digelar. Pemotongan panjang sirkuit jadi pertimbangan FIA menolaknya. Penyelenggara balap F1 itu juga menilai fasilitas di Sirkuit Sentul belum memadai.

Balap mobil batal, balap motor jadilah. Pada 19 Oktober 1995 Tinton selaku Direktur Utama PT Sarana Sirkuitindo Utama—pengelola Sirkuit Sentul—mengumumkan kabar yang bikin girang publik Indonesia. Indonesia disetujui Federation Internationale de Motocyclisme (FIM) sebagai salah satu dari 16 negara tuan rumah seri GP dan Superbike.

"Yang lebih menguntungkan adalah Indonesia kebagian putaran kedua sehingga pertarungannya dipastikan akan berjalan seru," kata Tinton sebagaimana dikutip harian Kompas (20/10/1995).

Detailnya, Sirkuit Sentul akan jadi ajang balap GP untuk kelas 125cc, 250cc, dan 500cc. Jadwal pun telah ditetapkan: 5-9 Februari 1996 sebagai latihan resmi dan balap utamanya pada 7 April.

Infografi Moto GP Sirkuit Sentul 1996
Infografi Moto GP Sirkuit Sentul 1996. tirto.id/Fuad



Michael Doohan Juara


Sebagaimana lazimnya, balapan GP dimulai dari kelas 125cc dan dipuncaki kelas 500cc sebagai balapan utama. Di kelas 125cc, pebalap Jepang dari tim Dittler Plastic Masaki Tokudome keluar sebagai juara. Ia menyelesaikan 26 putaran penuh dalam waktu 41 menit 38 detik. Posisi kedua ditempati pebalap tim Rheos Molenaar Haruchica Aoki dan pebalap Jerman dari tim Marlboro Aprilia Peter Ottl di posisi ketiga.

Di kelas ini pebalap Indonesia pertama kali ikut berlaga di level GP. Mereka adalah Achmad Jayadi dan Petrus Canisius yang tergabung dalam tim Tamaha Indonesia. Masing-masing mereka menyelesaikan lomba di posisi ke-20 dan 21 dari 31 pebalap yang berlaga.

Sementara itu di kelas 250cc, Tetsuya Harada berhasil naik podium pertama. Ia disusul pebalap Italia Max Biaggi di posisi kedua dan pebalap Jerman Ralf Weldman. Balapan kedua ini berlangsung cukup seru karena aksi kejar-kejaran antara Tetsuya dan Biaggi.

Akan tetapi, balapan paling seru tentu saja berlangsung di kelas tertinggi 500cc. GP Indonesia menjadi saksi ketangguhan pebalap Australia Michael Doohan, sang juara bertahan dua seri berturut-turut. Pebalap yang tergabung di tim Repsol Honda itu melibas 30 putaran dalam waktu 43 menit 50 detik.

Selama balapan Doohan ditempel ketat pebalap Brasil Alexandre Barros. Kedua pebalap ini mamang sedang bersaing memperebutkan poin untuk bisa memuncaki klasemen. Doohan dan Barros benar-benar adu kecepatan sepanjang sepuluh putaran terakhir.

Sejak awal Doohan sudah menang kecepatan dengan lawan-lawan di belakangnya. Ia pun mengaku sudah hafal kelokan dan karakteristik Sirkuit Sentul berkat latihan intensif dua hari sebelumnya. Mesin motornya pun sedang dalam kondisi sangat prima.

Kondisi sebaliknya dialami Barros. Meski mampu menempel ketat Doohan, kondisi motornya tak bisa diajak kerja sama. Ia sempat mengalami selip sehingga harus mengurangi kecepatan.

"Saya berusaha menyelamatkan ban saya di lima putaran terakhir. Kelelahan yang saya alami cukup mengganggu saya dan juga ada problem kecil pada motor saya," kata Barros usai balapan, sebagaimana dikutip Kompas (8/4/1996).

Selain balapan yang seru, Sirkuit Sentul juga mencatat rekor dalam gelaran kala itu. Sekitar 100.000 membludak di sirkuit, selama balapan. Itu adalah catatan jumlah penonton terbanyak selama penyelenggaraan GP dua tahun belakangan. Gara-gara itu pula kawasan Sentul mengalami macet sepanjang 10 kilometer.

Baca juga artikel terkait MOTO GP atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live