Gedung Joang 45: Benteng Pemuda Radikal Jelang Proklamasi

- 11 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Jelang Pilpres 2014, Jokowi mengumumkan pencalonannya di Rumah Si Pitung. Kini ia berjalan ke KPU dari Gedung Joang 45, markas pada pemuda pemberontak jelang Proklamasi 1945.
tirto.id - Sebelum mendaftar sebagai pasangan capres-cawapres ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (10/8/2018), pasangan capres dan cawapres Joko Widodo dan Ma'ruf beserta pendukung berkumpul di Gedung Joang 45 di Jalan Menteng Raya Jakarta.

Sehari sebelumnya, Joko Widodo resmi menunjuk Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden yang bakal mendampinginya pada pilpres 2019.

Jokowi dikenal sebagai politikus yang gemar bermain simbol ketika membuat pernyataan publik. Pidato kemenangannya pasca-Pilpres 2014, misalnya, disampaikan di atas Kapal Hati Buana Setia yang diparkir di Pelabuhan Sunda Kelapa, seolah ingin menegaskan komitmen pemerintahannya untuk bidang kemaritiman selama lima tahun ke depan.

Menjelang Pilpres 2014, Jokowi menggelar deklarasi sebagai capres di Rumah Si Pitung yang terletak di Marunda, Jakarta Utara. Pitung punya makna simbolik sebagai pejuang Betawi yang bertarung melawan kolonialisme.


Kali ini, Jokowi memilih Gedung Joang 45.

Sebelum dikenal sebagai Asrama Menteng 31 yang diisi anak-anak muda radikal era perjuangan nasional, di zaman Hindia Belanda Gedung Joang 45 bernama Hotel Schomper.

Pans Schomper lahir di Santo Carolus, sebuah rumah sakit di Salemba yang kelak diabadikan sebagai lagu evergreen. Bsar di Batavia, Pans adalah putra dari AM Bruyn dan LC Schomper, yang tak lain adalah pemilik dua hotel Schomper. Sebagaimana dicatat dalam memoar Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur (1996), masa kecil Pans yang manis dihabiskan di hotel sang ayah.

Hotel Schomper, catat Anak Marhaen Hanafi dalam Menteng 31: Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45: Membangun Jembatan Dua Angkatan (1996:9), “satu berada lebih dekat ke simpang-empat menuju Cikini/Gondangdia dan Van Heutz-boulevard, dan satu lagi di simpang Jalan Asam Lama yang terus ke Kwitang.”

Keluarga Schomper membeli tanah lapang di daerah dekat Cikini, yang waktu itu banyak dimiliki oleh peranakan Arab. Bangunan Cagar Budaya di Wilayah DKI Jakarta (1995:34), menuturkan bahwa pada 1939, LC Schompers membangun hotel yang kemudian dinamainya sebagai Hotel Schomper. “Hotel ini semula merupakan tempat persinggahan sementara bagi para pejabat Belanda dan para pejabat pribumi yang datang ke Jakarta.”


Kebahagiaan keluarga Schomper bersama hotelnya berakhir ketika Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada balatentara Nippon. Namun, sebetulnya, bisnis hotel mereka sudah limbung ketika Jepang datang. Lantaran berstatus orang Belanda, keluarga Schomper pun akhirnya masuk kamp interniran dan menderita luar biasa akibat aset-asetnya disita bani Nippon.

Ketika butuh tempat untuk asrama, AM Hanafi dan kawan-kawannya mendapat izin dari militer Jepang untuk memanfaatkan gedung bekas bekas hotel milik keluarga Schomper. “Gedung ini kemudian jatuh ke tangan kami dan kami jadikan asrama. Pimpinan asrama kami tetapkan hanya terdiri dari Sukarni menjadi ketua, Chaerul Saleh sebagai wakil ketua, dan A.M. Hanafi menjabat sekretaris umum,” tulis AM Hanafi (1996:9-10).

Diketahui kemudian bahwa si pemberi izin, catat Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir, True Democrat, Fighter for Humanity, 1909-1966 (2010:49), adalah Sendenbu alias Badan Propaganda Jepang.

“Asrama Menteng 31 lebih mempunyai orientasi politik daripada Mahasiswa Kedokteran penghuni Asrama Prapatan 10,” aku mantan mahasiswa kedokteran Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2010:430). Meski begitu, pernah suatu ketika mahasiswa kedokteran membangkang: mereka menolak digunduli rambutnya oleh militer Jepang.


Disertasi Ben Anderson yang kelak dibukukan dengan judul Revoloesi Pemoeda (2018:43-46) mencatat bahwa Asrama Menteng 31 diisi orang-orang gerakan bawah tanah. Beberapa tokoh pergerakan seperti Mr Muhammad Yamin, Mr Amir Sjafruffin juga Mr Sunario pernah memberi ceramah di sana.

Adapun Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional; Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan (Jilid 2) (hal. 28-29) mengatakan bahwa asrama tersebut menjadi pusat dari Angkatan Baru Indonesia. Tak hanya itu, “sejak tahun 1943, Pemuda Menteng 31 mengorganisir Barisan Pelopor, yang intinya dijadikan pengawal Sukarno sebagai Ketua Poetera (Poesat Tenaga Rakjat),” tulis Muljana. Di Asrama Menteng 31 ini, pernah terbentuk kelompok antifasis bernama Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom), yang salah satu anggotanya adalah DN Aidit.

Di Menteng 31, Aidit bergiat di Barisan Pelopor yang kelak berubah nama jadi Barisan Banteng. Selain Hanafi, Chaerul Saleh, Sukarni dan Aidit, ada juga MH Lukman, Subadio Sastrotomo, Adam Malik dan BM Diah. Meski Aidit, Lukman, dan Hanafi dicap komunis, menurut Slamet Muljana “mereka bergerak demi kepentingan nasional.” Setelah muncul berita Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, sejumlah penghuni Menteng 31 ini mengambil peran penting untuk mendorong agar kemerdekaan Indonesia sesegera mungkin diproklamasikan.


Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Asrama Menteng 31 masih menjadi sarang pemuda pejuang, sampai-sampai pernah dikepung militer Jepang yang saat itu masih merasa berwenang menjaga ketertiban.

Komite van Aksi pernah bermarkas di Menteng 31. Selain itu, menurut catatan buku Pemuda Indonesia Dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa (1984:166), Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang didirikan untuk menjaga kemerdekaan Indonesia juga lahir di Menteng 31. “Rapat raksasa 19 September di lapangan Ikada (Monas) dihadiri sekitar 200 ribu orang, diorganisir konon terutama oleh pemuda Asrama Menteng 31,” tulis Rosihan Anwar.

Infografik Riwayat Gedung Joang


Setelah Militer Belanda kembali masuk Jakarta, banyak penghuni Asrama Menteng 31 yang pro-Republik ikut hijrah ke Yogyakarta.

Bekas Hotel Schomper sekaligus bekas Asrama Menteng 31 kelak disulap jadi Museum Gedung Joang 45. Pada 19 Agustus 1974, Presiden Soeharto meresmikan tempat bersejarah yang menyimpan mobil-mobil kepresidenan di awal kemerdekaan Indonesia itu.


Bagaimana dengan keluarga Schomper?

Rupanya mereka tak pernah kembali ke hotelnya. Pans Schomper sendiri malah bekerja sebagai supir untuk mobil miliknya yang kerap disewakan. Setelah tentara Belanda angkat kaki, Pans mengucapkan selamat tinggal pada Hindia dan memilih hidup di Negeri Belanda.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Politik)


Penulis:
Editor: Petrik Matanasi