Dirut Pertamina: Industri Migas Indonesia Kalah Jauh dari Malaysia

Oleh: Shintaloka Pradita Sicca - 12 Maret 2018
Elia Massa Manik menilai industri migas Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia dan Vietnam, baik dari segi kapasitas produksi maupun penguasaan teknologi.
tirto.id - Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Elia Massa Manik mengeluhkan industri minyak dan gas (migas) Indonesia saat ini telah kalah jauh dari Malaysia dan Vietnam. Dia mengilustrasikan industri migas Malaysia dan Vietnam kini lebih maju empat kali dibandingkan Indonesia.

"Mungkin karena mereka punya uang. Mereka 5 tahun bisa berinvestasi 80 miliar dolar AS. Kita cuma 20 miliar dolar AS, ini ukuran seperempat yang pertama. Lalu, risetnya 70 persen di luar, dan mereka sudah mencapai 13 miliar barel oil, bagaimana kita enggak seperempatnya," kata Elia dalam acara Annual Pertamina Quality, di Jakarta pada Senin (12/3/2018).

Elia menambahkan kedua negara ASEAN itu kini telah mampu menguasai teknologi shale oil dan shale gas. Karena itu, dia menyimpulkan, dari segi kualitas teknologi, industri migas Indonesia juga tertinggal oleh Malaysia dan Vietnam.

Elia berpendapat industri migas Indonesia jauh tertinggal dari 2 negara tetangga di ASEAN itu karena terlalu sering berkutat pada teori dan diskusi, tapi kurang aksi dalam merealisasikannya.

Untuk Pertamina, Elia menjelaskan perubahan pola pikir perlu menjadi perhatian agar perusahaan migas plat merah itu naik level di kancah internasional. Peningkatan kualitas teknologi dan inovasi, terutama yang meningkatkan efisiensi kerja, perlu menjadi perhatian Pertamina.

Elia memprediksi, ke depan, untuk pengembangan teknologi yang cepat, Pertamina perlu memperluas jangkauan kemitraan. Sebab, kini sulit menemukan pihak yang mau berbagi teknologi secara cuma-cuma.

Dalam acara Annual Pertamina Quality, Pertamina menampilkan 27 inovasi yang diciptakan oleh para pegawai BUMN tersebut. Contohnya, adalah inovasi alat pendeteksi kebocoran kondensat yang dapat mengirimkan laporan berupa pesan singkat via gadget. Alat ini bisa mendeteksi kebocoran akibat ilegal tapping atau pun kebocoran alami.

"Inovasi-inovasi itu harus kita ukur, kalau sudah bagus, kita terapkan di seluruh operasinal Pertamina. Pencitraan boleh, tapi realisasi paling penting,” kata Elia.


Baca juga artikel terkait INDUSTRI MIGAS atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Addi M Idhom
DarkLight