26 April 1986

Chernobyl Meledak: Senjata Mematikan Manusia Memangsa Muka Sendiri

Ilustrasi Mozaik Chernobyl. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Felix Nathaniel - 26 April 2020
Dibaca Normal 7 menit
Meledaknya reaktor Chernobyl adalah perwujudan ambisi nuklir Soviet yang sia-sia. Selama 20.000 tahun ke depan, tempat tak bisa ditinggali.
Setidaknya 210 ribu orang meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya menjadi hibakusha, sebutan bagi penyintas bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Begitu banyak orang ketakutan. Tapi little boy dan fat man bukanlah senjata mengerikan terakhir buatan manusia. Ledakan reaktor nuklir di Chernobyl, Ukraina, semasa masih bersama Uni Soviet, ikut menyertai daftar bencana paling parah di muka bumi.

Reaktor nuklir nomor 1 Chernobyl berdiri pada 1977 dengan target reaktor mencapai daya 6.000 megawatt. Di Ukraina, Chernobyl adalah batu pijak ambisi Uni Soviet di bidang nuklir. Setelah Chernobyl, ada tiga reaktor nuklir yang kemudian ikut berdiri dan lima sedang dalam pembangunan. Ada satu lagi yang sedang dalam tahap perencanaan.

Selain sebagai fondasi tenaga nuklir di Ukraina, Chernobyl adalah simbol pencapaian bagi Kementerian Energi dan Kelistrikan Soviet. Selama ini mereka tidak pernah membuat reaktor nuklir benar-benar dari nol. Maka pada akhir 1960-an Kementerian Energi dan Kelistrikan memanggil Viktor Bryukhanov ke Moskow untuk sebuah penugasan penting—sesuatu yang tak pernah ia sangka akan menjadi puncak sekaligus akhir kariernya. Bryukhanov diperintahkan membangun reaktor di Chernobyl.

Bryukhanov kala itu belum punya banyak bekal pengetahuan soal nuklir. Semasa muda, dia mengenyam pendidikan teknik elektro dan bekerja menjalankan turbin di pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Uzbekistan. Tapi bagi pemerintah Soviet, tidak ada yang lebih penting daripada kesetiaan dan kemampuan Bryukhanov dalam merampungkan proyek berdana 400 juta rubel itu.

Seperti dikisahkan Adam Higginbotham dalam Midnight in Chernobyl: The Untold Story of the World's Greatest Nuclear Disaster (2019), Bryukhanov menginap di Chernobyl pada musim dingin 1970. Sebelumnya Volodymyr Shcherbytsky, pemimpin Partai Komunis Ukraina, memutuskan agar reaktor nuklir diberi nama dengan kota tempatnya berada. Kedatangan Bryukhanov kelak akan mengubah kehidupan di Chernobyl, daerah yang sejak abad ke-12 menjadi lokasi perburuan.

Bryukhanov mulai mendata setiap material yang ia perlukan kemudian mengirimkan rinciannya ke bank negara agar dikirimkan uang. Hampir setiap hari ia pergi ke kota dengan bus untuk membeli bahan dan memulai pendirian Chernobyl. Jika bus tidak ada, dia harus menumpang kendaraan yang lewat. Perlahan, Bryukhanov juga mengumpulkan alat-alat berat dan pekerja.

Untuk mempercepat pekerjaan, Bryukhanov menyulap hutan sekitar menjadi tempat tinggal untuk pekerjanya dan menjadikan lokasi itu sebagai desa kecil untuk sementara waktu. Pada Agustus Bryukhanov turut membawa istrinya, Valentina, serta dua anaknya, Lilia dan Oleg, menginap di kawasan yang ia bangun dan diberi nama Lesnoy.

Keseriusan Bryukhanov ditangkap oleh pemerintah pusat. Kendati jarak Ukraina dan Moskow mencapai ratusan kilometer, pemerintah Soviet mengirimkan para seniman untuk melakukan pertunjukan di Chernobyl. Upaya ini untuk memberi semangat bagi para pekerja agar tidak bosan. Masih pada 1970, Bryukhanov memutuskan membangun kota lain bernama Pripyat.

Kota itu dibuat untuk menjadi rumah bagi ribuan pekerja Chernobyl, termasuk keluarga mereka. Kelak, penduduknya akan mencapai lebih dari empat puluh ribu orang. Cepatnya pembangunan adalah andil dari para tenaga muda yang bekerja di Chernobyl.

Pada 1972 Pripyat menjadi kota yang sudah layak untuk ditempati. Apartemen untuk tempat tinggal sudah siap. Bryukhanov dan Valentina adalah salah satu yang paling cepat menempati apartemen dengan tiga kamar tidur itu.

Di tahun 1977 reaktor pertama Chernobyl sukses berdiri. Menyusul lagi tiga unit lagi pada 1978, 1981, dan 1983 berjenis Reaktor Bolshoy Moshchnosti Kanalnyy (RBMK) yang masing-masing bermuatan 1.000 megawatt. Tinggal dua reaktor lagi, maka perencanaan Chernobyl akan komplit sesuai target.

Kehidupan di Pripyat, kota paling dekat dengan Chernobyl, hampir sempurna. Sekitar 1985, Pripyat sudah mempunyai lima sekolah, tiga kolam renang umum, dan 35 taman bermain. Sebagai kota kecil, hidup dekat reaktor nuklir kala itu lebih seperti keistimewaan, bukan bahaya. Pripyat mempunyai pasokan makanan yang banyak, bahkan melebihi makanan di Kiev, ibu kota Ukraina sekarang, dan mendapatkan sokongan dana langsung dari Moskow.

“Pripyat adalah kota yang menyenangkan. Kehidupan sangat baik di sana, tapi bagus juga hidup di Slavutych. Seperti kata orang Rusia, tidak ada hal-hal baik tanpa yang buruk menyertainya,” kata Sergei Matolevich Shedrakov, yang pernah bertempat tinggal di Pripyat seperti diceritakan kepada Guardian.


Meledaknya Ambisi Uni Soviet

Kendati sudah lewat empat tahun, uji reaktor nuklir nomor 4 masih belum selesai dilakukan. Pengujian dilakukan untuk mengetahui bagaimana reaktor merespons ketika ada kekurangan daya.

Reaktor jenis RBMK, seperti dicatat Terra Pitta dalam Catastrophe: A Guide to World’s Worst Industrial Disasters (2015), terus mengeluarkan residu panas kendati sudah mati. Saat mati mendadak, misalnya menggunakan tombol SCRAM pada reaktor Chernobyl, maka air dalam reaktor berusaha keras mendinginkan agar inti reaktor tidak rusak.

Chernobyl punya tiga generator cadangan yang berfungsi untuk memompa air tersebut, tapi dibutuhkan tenaga dari mesin turbin sebelum generator berfungsi sekitar 60-75 detik. Ketahanan mesin turbin untuk terus berputar inilah yang ingin dicapai Chernobyl.

Pada 1982 uji coba sempat dilakukan pada reaktor yang lain, tetapi kekuatan dari generator tidak cukup untuk mendorong pompa beraktivitas. Dua tahun kemudian percobaan kembali dilakukan dan tidak mencapai hasil yang diinginkan. Di tahun 1985 hasil tes juga tidak memuaskan. Tes keempat akhirnya diputuskan pada 25 April 1986.

Masih dalam catatan Pitta, pada hari yang ditentukan, semua sudah siap. Namun sayangnya salah satu penyalur tenaga listrik di Soviet tiba-tiba mati. Uji coba akhirnya harus diundur ke tanggal 26 April 1986. Kendati Bryukhanov selaku Direktur Chernobyl menyetujui, dia tidak ada di lokasi dan menyerahkan tanggung jawab tes tersebut pada Deputi Kepala Teknisi Anatoly Stepanovich Dyatlov dan Kepala Teknisi Nicholai Fomin.

Chernobyl menerapkan sistem kerja per bagian; siang, sore, dan malam. Ketika itu pekerja malam yang masuk kebanyakan tidak memiliki pengetahuan banyak di bidang nuklir dan tak berpengalaman melakukan tes tersebut. Tenaga reaktor saat itu hanya 200 megawatt—jauh dari angka minimal 700 megawatt untuk menjalankan tes—tetapi Fomin tetap percaya diri meneruskan tes. Satu hal yang akan ia sesali di kemudian hari.


Teknisi senior, Leonid Toptunov, dan Kepala Piket Pekerja, Alexander Akimov, yang juga menangani reaktor, menolak untuk melakukan tes. Namun Dyatlov naik pitam. Jika tidak menurut, Dyatlov mengancam akan mencari orang lain yang akan menaati perintahnya. Pria berusia 55 tahun itu merupakan lulusan Universitas Penelitian Nuklir Nasional Moskow dan pernah memasang reaktor nuklir di kapal selam Rusia. Penundaan, bagi Dyatlov, hanya akan memberi kesan buruk bagi kariernya.

Akimov dan Toptunov tak punya pilihan selain menurut. Di masa-masa itu, karier sebagai teknisi nuklir sangat menjanjikan ketimbang dipaksa menjadi tentara dan dikirim ke Afganistan. Kehilangan pekerjaan di reaktor nuklir bisa berpengaruh pada kehidupan mereka ke depan, apalagi Dyatlov adalah salah satu teknisi nuklir yang paling andal di Chernobyl. Baik Fomin maupun Brukhanov tak punya pengetahuan banyak soal nuklir.

Pada pukul 01:22:30, Toptunov menyadari komputer ingin reaktor agar dimatikan dengan segera. Salah satu kesaksian dari pekerja di Chernobyl, Razim Davletbaev, menyatakan kekhawatiran Toptunov lagi-lagi tak digubris Dyatlov. Ia segera memerintahkan Akimov memulai tes. Tidak ada lagi yang mampu menghentikan Dyatlov termasuk bencana yang menyusul setelahnya.

“Jangan menunda-nunda,” tegas Dyatlov pada Akimov.

Kurang dari semenit kemudian, pukul 01:23:04, awal dari neraka Chernobyl dimulai. Tes dilakukan dan tenaga di dalam reaktor turun sangat drastis menjadi 30 megawatt termal. Tenaga sejumlah itu tak mampu memompa air ke dalam reaktor dan berisiko membuat reaktor menjadi panas dan meleleh.

Akimov yang menyadari hal itu kemudian panik dan mengambil keputusan besar dalam hidupnya: menekan tombol AZ-5 atau SCRAM yang mematikan reaktor. Bagian ini terus menjadi perdebatan dalam sejarah karena versi lain mengatakan SCRAM ditekan sebagai pertanda tes telah berjalan seperti seharusnya. Harapannya, turbin akan bergerak dan memompa air. Nyatanya tidak.

Batang pengontrol di dalam reaktor yang terbuat dari grafit juga bergerak secara tidak beraturan sampai akhirnya berhenti. Batang ini dibutuhkan agar peningkatan reaksi reaktor nuklir bisa dikendalikan. Absennya fungsi batang ini akhirnya menyebabkan panas berlebih dalam reaktor nuklir nomor 4 Chernobyl.

Daya reaktor tiba-tiba melonjak hingga 33 ribu megawatt termal, 11 kali lipat lebih kuat daripada biasanya. Panas yang berlebih akhirnya membuat saluran bahan bakar di dalam reaktor pecah, termasuk juga pipa air di sana. Uap panas di dalam reaktor sudah tak terbendung. Suhu saat itu mencapai 3.000 derajat Celcius dan tepat pada 01:23:58 uap panas tidak mampu lagi dibendung oleh reaktor nomor 4.

Atap reaktor seberat 1.000 ton meledak dan menunjukkan penampakan inti reaktor. Sebagian adalah batang grafit dari reaktor. Sebagian lagi adalah material yang sudah terpapar radioaktif. Material itu semua tersebar di atap. Satu ledakan belum cukup. Dua atau tiga detik kemudian, ledakan kedua menyusul dengan 700 ton material grafit dengan kandungan radioaktif. Bukan hanya asap hitam yang keluar, tapi cahaya biru juga memancar ke udara. Saat itu Dyatlov, Akimov, serta beberapa orang di Chernobyl mungkin sadar betapa kacaunya perbuatan mereka.

Ketika teknisi Chernobyl mengonfirmasi pada Dyatlov dan Akimov bahwa reaktor sudah hancur, Dyatlov tidak percaya begitu saja. Dia bersikeras menganggap ledakan hanya berasal dari oksigen atau hidrogen.

Bagi Andre Leatherbarrow, seperti dicatatnya dalam Chernobyl : 01:23:40 (2014), denialisme Dyatlov hanyalah tanda keputusasaan terhadap kenyataan yang terjadi pada 26 April 1986, tepat hari ini 34 tahun lalu.

“Dyatlov menunjukan tanda-tanda kuat fenomena psikologi yang dikaitkan dengan bencana, dikenal sebagai groupthink. Artinya adalah hasrat untuk menciptakan harmoni atau konformitas dalam grup yang akhirnya malah menghasilkan keputusan irasonal atau disfungsional,” tegas Leatherbarrow.


Fakta yang Samar

Bagi seluruh penduduk Soviet, juga masyarakat dunia, Chernobyl adalah kejadian luar biasa yang menghantui mereka. Setelah dua ledakan itu, bukan berarti masalah selesai. Radiasi yang parah menguar ke segala penjuru. Alat pengukur radiasi saat itu hanya mampu mengukur hingga 1.000 mikrorontgen dan ketika salah seorang teknisi di sana mengukur tingkat radiasi Chernobyl, alat itu tak mampu memperkirakannya.

Kebocoran dan radiasi itu tak diketahui Dyatlov, Akimov, dan kawan-kawan. Sambil dibayangi ledakan susulan, radiasi menjalar menuju kota terdekat, Pripyat. Akimov malah menyuruh dua orang anak muda yang saat itu magang pergi ke reaktor untuk menggerakkan batang pengontrol secara manual. Hari-hari berikutnya, dua orang itu meninggal karena terpapar radiasi.

“Dia [Akimov] mengirim dua orang itu kepada kematian,” tulis Leatherbarrow.

Vladimir Shashenok, salah satu korban ledakan Chernobyl, menderita luka parah. Setelah terkena ledakan, dia tidak pernah lagi membuka matanya selama 4,5 jam sampai mengembuskan napas terakhir. Shashenok adalah korban kedua yang meninggal di hari pertama ledakan. Saking parahnya luka akibat ledakan Chernobyl, istrinya tidak mengenali lagi jenazah Shashenok. Dia tidak percaya suaminya telah meninggal.

"Itu bukan suami saya yang dulu, mayat itu hanya badan bengkak yang melepuh," kata istrinya seperti dicatat Leatherbarrow.

Dyatlov mencari jalan lain. Dia meminta bantuan pemadam kebakaran untuk memadamkan api. Dia juga mempekerjakan orang-orang ke atap, membereskan batang grafit yang rentan terbakar kapan saja. Saat membereskan reruntuhan di atap, mereka sadar bahaya yang menempel ke tubuh mereka hingga puluhan tahun ke depan. Namun salah seorang penyintas, Jaan Krinal, mengatakan mereka tak punya banyak pilihan demi keluarga mereka. Jika dibiarkan begitu saja, kondisi reaktor nuklir yang terbuka akan lebih parah.

Beberapa orang teknisi tingkat atas di Chernobyl dan berada di lokasi kejadian seperti Dyatlov, Akimov, dan Toptunov semuanya sudah meninggal dunia, kecuali Fomin. Ledakan nuklir di Chernobyl mengakibatkan 31 orang meninggal dunia dalam tiga bulan pertama dan kemungkinan 4.000-90.000 orang akan meninggal karena efek jangka panjang radioaktif. BBC mencatat orang yang kemungkinan terpapar radiasi mencapai 600.000. Sumber lain menyatakan 893.000 orang. Mereka dikenal dengan sebutan liquidators dan sampai sekarang mendapat bantuan dana dari pemerintah.

Ada 350.000 orang yang diungsikan akibat bencana Chernobyl. World Health Organization (WHO) memprediksi radiasi mencapai jarak 200.000 kilometer persegi, menjangkau Belarusia, Rusia, dan Eropa. Prediksi lainnya, daerah Chernobyl tidak layak ditinggali sampai dengan 20.000 tahun ke depan karena radiasi.




Akimov dan Toptunov meninggal dua minggu setelah ledakan karena terpapar radiasi. Dyatlov meninggal 9 tahun kemudian karena sebab yang sama. Hanya Fomin dan Dyatlov yang sempat disidang dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Keduanya dianggap lalai menjalankan tugas. Bryukhanov selaku Direktur juga dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

Kendati dianggap lalai, kejadian sesungguhnya terkait Chernobyl memiliki versi yang berbeda-beda. Sampai akhir hayat, Akimov bersikeras dia tak melakukan kesalahan. Dalam persidangan, Dyatlov juga mengaku pengetesan berjalan dengan lancar tanpa menyalahi prosedur keamanan. Versi lain, skema reaktor RBMK milik Soviet memang bermasalah.

Bagaimanapun, fakta itu mungkin akan terlampau samar. Ketua tim investigasi Chernobyl, Valery Legasov, berkata Chernobyl adalah bentuk “pendewaan dari semua yang salah dalam manajemen ekonomi nasional dan sudah berakar berpuluh-puluh tahun.” Rekaman suaranya ditemukan pada 27 April 1988, tepat 1 hari setelah peringatan dua tahun Chernobyl. Dia memutuskan mengakhiri nyawanya dengan gantung diri.

Kematiannya pun misterius. Soviet tidak membuka kejadian ini kepada publik setelah berminggu-minggu. Ada yang menganggap Legasov bunuh diri karena pemberitaan Chernobyl yang masif. Ada juga yang menyimpulkan Legasov tidak tahan dikuntit agen-agen KGB. Lainnya memperkirakan Legasov depresi karena terpapar radiasi.

Memang, banyak korban Chernobyl yang mungkin akan bertambah di kemudian hari, mengingat rata-rata penduduk Pripyat saat itu berusia 26 tahun. Tapi Ukraina tidak mau menyerah begitu saja dengan Chernobyl. Kini Chernobyl justru menjadi lokasi wisata dengan batas aman 30 kilometer dari daerah bekas reaktor nuklir.

Fomin yang selamat dari kejadian itu sempat menjadi pemandu wisata Chernobyl sejak 2009 dan sudah mengantar lebih dari 500 perjalanan. Bagi Fomin, Chernobyl adalah kenangan pahit. Dia mencoba bunuh diri sampai 2 kali. Satu sebelum persidangan, satu setelah vonis hukuman ia terima. Baginya kehidupan harus terus berjalan, meski Chernobyl dan Pripyat kini sudah mati.

“Kita harus berpikir tentang Chernobyl, tentang (kebocoran reaktor) di Fukushima. Kita harus mengingat itu semua dan kita harus ingat bahwa kekuatan nuklir bukan tanpa konsekuensi,” kata Fomin seperti dikutip Bankwatch.org.

Baca juga artikel terkait NUKLIR atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight