Menuju konten utama

Dana Riset Indonesia Paling Rendah di Asia Tenggara

Anggaran penelitian di Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Dana Riset Indonesia Paling Rendah di Asia Tenggara
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2017 di Kampus Universitas Gadjah Mada (30/01). [Tirto.ID/Aya]

tirto.id - Anggaran penelitian di Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tingggi Malaysia mengeluarkan dana belanja R&D (penelitian dan pengembangan) sebesar 1,13 persen (2014), Thailand 0,39 persen (2014), bahkan Singapura sudah 3,174 persen (2014), sedangkan di Indonesia hingga tahun 2016 anggaran belanja R&D hanya menghabiskan 0,2 persen dari dana pemerintah.

Dengan demikian, tidak mengherankan jika daya saing Indonesia sedang menurun dari peringkat 34 pada tahun 2014 menjadi 37 pada tahun 2015, dan menurun kembali ke peringkat 41 pada tahun 2016. Penurunan ini sejalan dengan kecilnya belanja penelitian yang baru mencapai 0,2 persen tersebut.

Oleh karena itu, untuk mendorong kultur publikasi serta upaya mewujudkan kemandirian anak negeri, Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi membangun Science and Tchnology Index yang diberi nama Sinta.

Sinta merupakan portal yang akan berisi tentang pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang meliputi antara lain kinerja peneliti/penulis/author, kinerja jurnal, kinerja institusi Iptek.

“Sistem ini ke depan akan menjadi bagian untuk mendorong kenaikan jabatan fungsional dosen dan juga peneliti,” papar Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ristekdikti 2017 yang dilaksanakan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Senin (30/1/2017).

Dalam Rakernas yang mengusung tema “Perkuat Sinergi Ristek dan Dikti untuk Meningktkan Daya Saing Bangsa” ini disampaikan pula bahwa Sinta diperlukan karena selama ini terjadi inkonsistensi dukungan. “Kurang dikenalnya penelitian anak negeri di tingkat global antara lain diakibatkan rendahnya publikasi global mereka,” ungkap Menteri dalam pemaparannya.

Ia pun mengungkapkan mekanisme pengelolaan data yang belum sinergis dengan instansi ikut menyebabkan tingkat keseriusan peneliti menjadi kurang karena tidak menjadi bagian kinerja organisasi. Di samping itu, sistem input data belum digital menyulitkan perkembangan secara signifikan.

“Padahal mulai April 2016 Akreditasi Jurnal Indonesia sudah diterapkan berbasis digital,” kata Menteri.

Ia pun mengingatkan kepada peneliti meskipun mengalami keterbatasan, peneliti harus tetap melakukan penelitian.

“Dengan berbagai keterbatasan dan kelebihan yang ada, para peneliti terus tetap melakukan penelitian,” kata Menteri.

Menurutnya, setiap hari peneliti harus meneliti dan meneliti untuk mempersembahkan inovasi bagi

kesejahteraan bangsanya.

Baca juga artikel terkait PENELITIAN atau tulisan lainnya dari Mutaya Saroh

tirto.id - Pendidikan
Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh