Menuju konten utama

Cerita di Balik Hotel Ambarrukmo Tempat Nikahan Kaesang & Erina

Hotel Ambarrukmo tempat pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono memiliki cerita menarik di balik sejarah pembangunannya.

Cerita di Balik Hotel Ambarrukmo Tempat Nikahan Kaesang & Erina
Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. foto/https://www.royalambarrukmo.com/

tirto.id - Kaesang Pangarep dan Erina Gudono telah resmi melangsungkan akad nikah di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo, Yogyakarta pada Sabtu (10/12/2022). Bangunan tersebut diketahui berlokasi di kompleks Hotel Ambarrukmo, Jalan Laksa Adisucipto, Yogyakarta.

Baik bangunan Pendopo Agung maupun Hotel Ambarrukmo memiliki cerita menarik di balik sejarah pembangunannya. Hal ini tentu menjadi salah satu alasan mengapa pernikahan putra bungsu Presiden Joko Widodo itu berlangsung di sana.

Selanjutnya, resepsi acara pernikahan Kaesang dan Erina akan berlangsung di Solo. Acara dibuka akan dengan kirab dari Loji Gandrung di Jalan Slamet Riyadi menuju Pura Mangkunegaran Solo yang menjadi lokasi resepsi.

Cerita di Balik Hotel Ambarrukmo

Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo yang dijadikan tempat akad nikah Kaesang dan Erina ini merupakan bagian dari Hotel Royal Ambarrukmo yang ternyata memiliki kisah dan sejarah yang cukup panjang. Berikut beberapa fakta dan cerita di balik Hotel Ambarrukmo:

1. Bekas kediaman keluarga Kesultanan Yogyakarta

Dilansir dari laman Royal Ambarrukmo, sebelum menjadi hotel lokasi ini sempat menjadi kediaman keluarga Kesultanan Yogyakarta.

Sebagai bekas kediaman keluarga Kasultanan Yogyakarta, Royal Ambarrukmo adalah hotel warisan hidup yang menampilkan koleksi luar biasa karya arsitektur Jawa otentik dari abad ke-18, termasuk karya seni dari 1964.

Pendopo Agung Kedaton di area Hotel Royal Ambarrukmo sendiri, bila ditilik ke belakang, dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada 1865. Dan sejak pertama kali dibangun pada 1857 oleh Sultan Hamengku Buwono VI, Pendopo Agung tidak mengalami perubahan bentuk hingga saat ini. Perubahan hanya terjadi pada lebarnya saja.

2. Diubah menjadi hotel atas kesepakatan Sultan Jogja dan Presiden Pertama

Mengutip Antara, setelah sempat menjadi tempat kediaman Kasultanan Yogyakarta, Hotel Royal Ambarrukmo akhirnya dibangun kembali menjadi hotel. Keputusan ini dicetuskan atas kesepakatan antara Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Presiden Soekarno.

Namun, Hotel Ambarrukmo sempat tidak beroperasi dalam waktu lama. Hotel ini pun hampir mangkrak. Akhirnya, pada 2012 Hotel Ambarrukmo kembali hadir di bawah manajemen Hotel Santika Group dan Kompas-Gramedia. Hotel legendaris ini akhirnya berganti nama menjadi Royal Ambarrukmo.

3. Bentuk bangunan asli masih dipertahankan

Kini, Hotel Royal Ambarrukmo masih tetap mempertahankan keasliannya, terutama pada bangunan Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo.

Masih menurut situs Royal Ambarrukmo, kompleks Kedhaton Ambarrukmo terdiri dari tujuh kawasan yang bisa disebut sebagai Cagar Budaya, yaitu Pendopo Agung, Ndalem Ageng, Bale Kambang, Gandhok, Pacaosan dan Alun-Alun.

Masing-masing kawasan ini dibangun berdasarkan filosofi dan tradisi Jawa yang kuat. Tiap-tiap bagiannya memiliki fungsi, dan mengandung dasar-dasar filosofis serta doa-doa yang menyimbolkan nilai-nilai religius, kepercayaan, juga norma-norma kebudayaan Jawa yang kuat.

4. Hotel dengan fasilitas mewah

Tamu hotel Ambarrukmo bisa menikmati berbagai fasilitas mewah yang tersedia di hotel ini. Beberapa fasilitas unggulan bisa diperoleh sesuai dengan jenis kamar yang dipilih.

Berdasarkan kelasnya, Hotel Ambarrukmo memiliki tipe kamar Deluxe Double, Premiere Double, Studio Room, Junior Suite, Executive Suite, dan Ambarrukmo Suite.

Selain itu, para tamu yang menginap juga bisa menikmati berbagai fasilitas seperti Royal Restaurant, Merapi Executive Lounge, Royal Garden, Karaton Ballroom, ruang rapat, ruang konferensi, kolam renang, arena bermain anak-anak, serta memanfaatkan spa dan gym yang tersedia di hotel ini.

Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN KAESANG DAN ERINA atau tulisan lainnya dari Lucia Dianawuri

tirto.id - Gaya hidup
Kontributor: Lucia Dianawuri
Penulis: Lucia Dianawuri
Editor: Yonada Nancy