Cara Tes HIV/AIDS dan Jenis-Jenisnya, Apakah Bisa Anonim?

Kontributor: Olivia Rianjani, tirto.id - 15 Sep 2022 08:05 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Cara melakukan tes HIV/AIDS mulai dari pendaftaran, anamese, pengambilan sampel darah, hingga uji laboratorium.
tirto.id - Melakukan tes HIV/AIDS sangat disarankan bagi orang-orang yang berisiko tertular HIV/AIDS. Mereka yang berisiko termasuk pengguna narkoba suntik, memiliki pasangan dengan HIV/AIDS, atau orang-orang yang melakukan hubungan seksual tidak aman.

Saat ini tes HIV/AIDS sudah tersedia di berbagai penyedia layanan kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, hingga puskesmas. Cara melakukan tes HIV/AIDS di setiap tempat bisa berbeda-beda, meski secara umum tahapannya sama mulai dari pendaftaran, screening, pengambilan sampel darah, hingga uji laboratorium.

Tes HIV/AIDS sebaiknya dilakukan segera setelah seseorang melakukan kegiatan berisiko atau sebelum gejala muncul. Idealnya tes HIV dilakukan 2-8 minggu setelah melakukan hubungan seksual berisiko atau penggunaan jarum suntik narkoba.

Hal ini agar penderita dapat mengetahui status HIV, sehingga dapat mengambil langkah-langkah penanganan yang tepat.

HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika tidak ditangani dengan tepat, infeksi HIV dapat memburuk dan mengembangkan gejala AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). AIDS adalah kondisi kronis yang berpotensi mengancam jiwa yang disebabkan oleh HIV.


Jenis-Jenis Tes HIV/AIDS


Jenis-jenis tes HIV berkaitan dengan penanganan kerahasiaannya, baik secara rahasia hingga secara anonim. Ini disesuaikan dengan izin orang yang dites sebelum tes dilakukan.

Mengutip dari KPA Kota Denpasar berikut dua jenis tes HIV/AIDS yang ada di Indonesia:

1. Tes HIV Rahasia


Para ahli kesehatan yang menangani tes HIV, tidak bisa dibagi dengan orang lain tanpa izin tertulis dari orang yang dites.

2. Tes HIV Anonim


Tes HIV anonim melibatkan sebuah nomor kode diterakan dalam tes, yang memungkinkan seseorang pengidap HIV/AIDS yang dites menerima hasil tes. Tidak ada dokumen tersimpan yang dapat mengaitkan orang dengan tesnya.

Telah banyak tempat tes HIV, diantaranya yakni kantor praktik dokter swasta, departemen kesehatan setempat, rumah sakit, klinik keluarga berencana, dan tempat-tempat yang secara khusus dibangun untuk pengetesan HIV.

Cara Tes HIV/AIDS di Puskesmas


Setiap penyedia layanan kesehatan dapat memiliki prosedur yang berbeda-beda dalam menerapkan tes HIV/AIDS. Kendati demikian, umumnya tes dilakukan dengan cara yang sama, yaitu pengambilan sampel darah.

Nantinya, sampel tersebut akan melalui uji laboratorium untuk mendeteksi materi genetik virus yang menunjukkan apakah orang yang dites terinfeksi HIV atau tidak.

Bagi pemegang BPJS Kesehatan dapat melakukan tes secara gratis sesuai dengan faskes rujukannya. Oleh karena itu, pastikan membawa kartu BPJS dan KTP sebelum melakukan tes.

Mengutip dari laman Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), berikut cara melakukan tes HIV/AIDS di puskesmas:

  • Pasien datang ke puskesmas terdekat dan melakukan pendaftaran di loket;
  • Petugas pendaftaran akan melakukan verifikasi data dan membuat status pasien kepada petugas pendaftaran;
  • Pasien melakukan pemeriksaan di poli umum dan dilakukan anamese oleh petugas poli umum;
  • Petugas akan melakukan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.
  • Hasil uji akan dibacakan hasilnya di depan pasien;
  • Jika hasilnya positif/reaktif, maka pasien akan dirujuk untuk melakukan penangann lebih lanjut dan mengambil obat HIV;
  • Jika hasilnya negatif/non-reaktif, namun pasien melakukan tindakan berisiko, maka pasien akan direkomendasikan melakukan tes ulang dalam waktu yang ditentukan.

Melansir PPH UNKA Atmajaya saat ini sudah ada tes HIV Mandiri. Tes ini dapat dilakukan sebagai diagnosis awal setelah melakukan perilaku berisiko.Selain itu, tes mandiri bisa menjadi deteksi dini dan cepat sebelum melakukan tindakan medis di penyedia layanan kesehatan.

Perlu diketahui bahwa hasil dari tes HIV mandiri tidak dapat dijadikan sebagai diagnosis yang past. Baik hasil hasil positif/negatif maupun reaktif/non-reaktif perlu dikonsultasikan lagi kepada penyedia layanan kesehatan.

Tahapan Infeksi HIV dan Gejala AIDS


Gejala penderita HIV/AIDS umumnya muncul secara bertahap sejak penderita pertama kali terpapar virus. Penyakit ini juga dapat menyebar melalui kontak dengan darah yang terinfeksi dan dari penggunaan narkoba suntikan atau berbagi jarum suntik.

Seseorang yang terinfeksi HIV dapat mengembangkan serangkaian gejala dalam tiga tahap, yaitu:

Tahap 1: Infeksi HIV Akut


Dalam hal ini, terjadi pada 2 sampai 4 minggu setelah terinfeksi HIV, sekitar dua pertiga orang akan mengalami penyakit seperti flu. Ini adalah respons alami tubuh terhadap infeksi HIV.

Meski begitu, jangan berasumsi bahwa Anda mengidap HIV hanya karena Anda memiliki salah satu dari gejala-gejala ini, sebab gejalanya bisa mirip dengan yang disebabkan oleh penyakit lain. Maka, lakukanlah tes HIV.

Tahap 2: Latensi Klinis


Seseorang dalam tahap ini, kemungkinan tidak merasa sakit atau tidak memiliki gejala apa pun. Tahap ini juga disebut infeksi HIV kronis. Tanpa pengobatan HIV, orang dapat bertahan dalam tahap ini selama 10 atau 15 tahun, namun beberapa melewati tahap ini lebih cepat.

Apabila meminum obat HIV persis seperti yang ditentukan dan mempertahankan viral load yang tidak terdeteksi, maka akan dapat hidup dan panjang umur serta sehat dan tidak akan menularkan HIV ke pasangan HIV-negatif melalui hubungan seks.

Tetapi jika viral load terdeteksi, dapat menularkan HIV selama tahap tersebut, bahkan ketika tidak memiliki gejala. Penting selalu mengunjungi penyedia layanan kesehatan secara teratur.

Tahap 3: AIDS


Apabila mengidap HIV, namun tidak sedang menjalani pengobatan, kemungkinan virus akan melemahkan sistem kekebalan tubuh, kemudian akan berkembang menjadi AIDS, hal ini merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.

Gejala AIDS dapat meliputi :
  • Penurunan berat badan yang cepat
  • Nyeri otot
  • Muncul ruam dikullit
  • Demam berulang atau keringat malam yang banyak
  • Kelelahan yang ekstrem
  • Pembengkakan kelenjar getah bening yang berkepanjangan di ketiak, selangkangan, atau leher
  • Diare lebih dari seminggu
  • Luka pada mulut, anus, atau alat kelamin
  • Radang paru-paru
  • Bercak merah, coklat, merah muda, atau keunguan pada atau di bawah kulit atau di dalam mulut, hidung, dan kelopak mata
  • Kehilangan memori, depresi, dan gangguan neurologis lainnya

Masing-masing gejala ini juga dapat dikaitkan dengan penyakit lain. Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti apakah Anda mengidap HIV adalah dengan melakukan tes.



Baca juga artikel terkait HIV AIDS atau tulisan menarik lainnya Olivia Rianjani
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Olivia Rianjani
Penulis: Olivia Rianjani
Editor: Yonada Nancy

DarkLight