Menuju konten utama

Bisakah Kereta Gantung jadi Solusi Mengurangi Kriminalitas di Kota?

Kereta gantung di Kolombia terbukti mengurangi tingkat kriminalitas di dalam transportasi umum.

Bisakah Kereta Gantung jadi Solusi Mengurangi Kriminalitas di Kota?
Ilustrasi. Kereta gantung yang mengangkut pengunjung melintasi kawasan Taman Mini Indonesia Indah setelah hujan lebat pada hari Minggu (11/11/18). tirto.id/Hafitz Maulana

tirto.id - Kemacetan dan tingkat kejahatan di transportasi umum seperti copet, pelecehan seksual, masih kerap terjadi di Jakarta.

Berbagai upaya diterapkan untuk mencegah kriminalitas, salah satunya yaitu dengan menciptakan gerbong kereta dan Trans Jakarta khusus perempuan.

Salah satu solusi yang mungkin efektif untuk mengurangi tingkat kejahatan di transportasi umum, yaitu dengan membuat kereta gantung, seperti yang dilakukan Kolombia. Apakah Jakarta memerlukannya?

Sebuah penelitian berjudul Reducing Violence by Transforming Neighborhoods: A Natural Experiment in Medellín, Colombia menunjukkan bahwa, setelah dibangun kereta gantung, kekerasan berkurang secara signifikan.

Dulu selama hampir satu dekade, salah satu kota di Kolombia telah lama identik dengan kekekerasan.

Hal itu terjadi karena di kota itu selain berada di sepanjang lembah yang curam, juga memiliki masyarakat yang lebih miskin yang jauh dari pusat kota.

Banyak penduduk secara efektif dikeluarkan dari pekerjaan karena waktu dan upaya yang diperlukan untuk melakukan perjalanan ke tempat kerja terlalu lama.

Namun, sejak 2004, kota ini dibangun transportasi kereta gantung untuk menghubungkan masyarakat miskin ke lingkungan-lingkungan kelas atas di seluruh kota.

Melalui sistem MetroCable yang inovatif ini secara luas menjadi investasi yang dapat membantu mengurangi angka kejahatan kota.

Selain itu, kereta gantung juga telah menarik para wisatawan untuk merasakan sensasi transportasi tersebut.

Di kota-kota seperti Medellin dan La Paz, naik kereta gantung dinilai sebagai salah satu atraksi utama yang disewakan oleh pemerintah.

Sistem kereta kabel perkotaan terpanjang di dunia berada di La Paz, Bolivia yang panjangnya lebih dari 16 km.

Transportasi bernama Mi Teleférico ini berfungsi sebagai sistem transportasi umum utama La Paz dan saat ini memiliki 25 stasiun dan enam jalur terpisah yang melintasi kota.

Empat jalur tambahan direncanakan akan dibuka pada tahun 2019 ini.

Dilansir dari BBC, kereta gantung ini juga merupakan salah satu solusi kemacetan. Keadaanya tenang, tidak memancarkan polusi udara langsung dan secara signifikan lebih murah untuk dibangun.

Sebagian besar kendaraan ini di perkotaan menggantung di kabel yang dihubungkan oleh tiang-tiang besar, meskipun beberapa juga ditarik lewat bawah.

Dasar-dasar pembangunannya menggunakan teknologi yang kira-kira hampir sama. Sederhananya, satu kabel baja panjang berputar di antara katrol di kedua ujung rute.

Kereta gantung ini menempel pada kabel melalui alat perekat yang bisa dilepas. Alat ini secara otomatis terlepas ketika tiba di stasiun, lalu memasang sendiri kembali begitu penumpang meninggalkan kereta.

Namun, tidak semua mobil kabel perkotaan telah berhasil dengan sukses besar. Di Brazil, sistem Rio de Janeiro mendapat kritik karena tingginya biaya konstruksi ketika selesai pada 2012. Biayanya sekitar 210 juta real atau 54 juta dolar Amerika.

Pembuatan gondola di Kota Rio ini dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada masyarakat yang terpinggirkan di Favela, daerah yang berada lereng bukit.

Transportasi umum ini cocok untuk kota-kota yang kurang berkembang secara ekonomi yang tidak mampu membeli dan dibuat sistem kereta api.

Mengingat, kendaraan ini menawarkan metode perjalanan jarak jauh yang lebih cepat dan lebih nyaman daripada bus. Dan yang paling penting dapat membantu mengurangi kemacetan.

Penelitian berjudul Innovation in The Air: using cable cars for urban transport menunjukkan bahwa kereta gantung yang berjalan di kabel ini panjang perjalanannya rata-rata untuk saat ini bisa mencapai 2,7 km dengan stasiun setiap 800 meter atau lebih.

Mereka biasanya mencapai kecepatan antara 10-20km per jam (6,2 hingga 12,4 mph) dan dapat membawa hingga 2.000 orang per jam ke setiap arah.

Tergantung pada kota dan lingkungan yang dilayani, jalur kereta gantung tunggal dapat mengangkut 20.000 penumpang setiap hari. Satu baris di ibukota Bolivia, La Paz, melayani hingga 65.000 orang setiap 24 jam.

Pada tahun 2004, kota Medellin di Kolombia menjadi tempat pertama di dunia yang mengintegrasikan sepenuhnya kereta gantung ke dalam sistem transportasi mereka.

Sejak saat itu, semakin banyak daerah perkotaan di seluruh dunia telah mulai memasang sistem kereta gantung mereka sendiri, menawarkan metode yang bersih, relatif murah dan inovatif untuk menggerakkan orang di sekitar.

Kota-kota seperti Caracas di Venezuela dan Constantine di Aljazair, New York di AS dan Nizhny Novgorod Rusia, mulai ke transportassi ini sebagai cara mengatasi tantangan dan masalah transportasi umum yang mereka hadapi.

Sistem Gondola, juga menawarkan perencanaan kota yang harus mampu dipikirkan bagaimana melintasi topografi yang menantang seperti bukit curam dan sungai.

Baca juga artikel terkait TRANSPORTASI UMUM atau tulisan lainnya dari Febriansyah

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Febriansyah
Editor: Yandri Daniel Damaledo