Menuju konten utama

Bikin Potret Makanan Ciamik dengan Ponsel Anda

Tak bisa asal jepret jika mau foto makanan tampak bagus.

Bikin Potret Makanan Ciamik dengan Ponsel Anda
Ilustrasi memotret makanan dengan ponsel. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Zanna Van Dijk, seorang blogger makanan dan kebugaran, pernah membuat akun Instagram @londonbrunchguide bersama sang kekasih. Mereka kerap mengunggah foto kudapan manis hingga sajian utama gurih yang disantap kala brunch di Instagram feed.

Kepada Independent, Zanna mengaku dirinya tak asal memotret makanan yang ia santap. Ada sejumlah hal yang diperhatikan agar foto makanan enak dipandang mata.

“Cahaya adalah kunci! Kami selalu meminta duduk di dekat jendela untuk membiarkan cahaya alami masuk sehingga memperjelas foto makanan. Selain itu, pilihlah sudut pandang dan terus gunakan angle tersebut! Bisa dengan flat-lays (foto dari atas) atau fokus pada satu makanan saja,” katanya.

Zanna berkata adanya sajian lain bisa menambah nilai lebih pada foto makanan. “Ketika memotret, jangan lupa memesan hidangan pendamping atau minuman. Keduanya bisa menambah peristiwa dan dimensi berbeda pada foto,” jelas Zanna.

Sama halnya dengan Zanna, Joanne Pai tak sembarangan kala memotret makanan. Fotografer perjalanan dan makanan tersebut berkata dirinya menggunakan kamera dan ponsel pintar ketika mengambil foto.

Kepada Vogue, Joanne berkata bahwa ia suka memotret menggunakan telepon genggam jika cahaya di sekitar objek foto melimpah. Dirinya pun suka duduk di samping jendela seperti Zanna untuk mendapatkan cahaya alami.

“Ketika saya makan di luar, saya suka duduk di samping jendela di mana terdapat cahaya alami dan jauh dari cahaya buatan di restoran. Saya juga menyadari bahwa sudut pandang top-downs (foto dari atas) lebih bagus sebab mengurangi distorsi lensa kamera ponsel,” katanya.

Tak hanya soal pencahayaan, komposisi dan kisah dalam foto perlu dipikirkan agar visual yang dihasilkan menarik perhatian. “Pikirkan soal kisah yang ingin disampaikan sembari kalian mengatur komposisi foto. Bermainlah dengan komposisi dan perlengkapan yang berbeda sampai menemukan foto yang diinginkan,” ujar Joanne.

Memotret Makanan dengan Ponsel Pintar

Food photography menggunakan berbagai jenis kamera tak terkecuali kamera ponsel kini jamak dipraktikkan, termasuk oleh penggila makanan atau foodie. Adha Togi, seorang fotografer makanan, mengatakan bahwa kepopuleran food photography di Indonesia muncul seiring kepopuleran Instagram.

Namun, kebanyakan orang tak cukup mempunyai pengetahuan tentang kamera ponsel yang dimiliki. Di samping itu, mereka juga hanya menjepret makanan tanpa memikirkan komposisi. Padahal, dua hal tersebut adalah syarat untuk menghasilkan foto makanan apik menggunakan kamera telepon genggam.

Ika Rahma, fotografer makanan dan produk asal Bandung, mengatakan pengetahuan tentang kamera pada ponsel merupakan hal pertama yang perlu diperhatikan ketika memotret makanan.

“Enggak harus bagus, tapi mesti mengenal baik tombol di ponsel itu bisa buat apa saja. Kebanyakan kan kamera dibuka, jepret, sudah selesai. Nah, tapi sebenarnya banyak yang bisa dipakai. Ada yang bisa pakai manual, seperti kamera profesional,” katanya ketika dihubungi Tirto.

Ika mengatakan penggunaan cara manual pada kamera ponsel memungkinkan pengguna mengatur shutter speed, International Organization for Standardization (ISO), dan White Balance (WB). “Selama memotret pakai automode bagus, ya sudah enggak apa-apa pakai itu saja. Tapi bila kurang bagus, kita bisa atur dengan pengaturan manual. Kalau di ponsel, macam-macam namanya, ada manual mode, ada yang professional mode,” katanya.

Menurut Helene Dujardin dalam Plate to Pixel: Digital Food Photography and Styling (2011), shutter speed merujuk pada panjangnya waktu sensor kamera terbuka dan menerima cahaya. Lama tidaknya kerja shutter speed ditentukan oleh banyak sedikitnya angka pada kamera. Semakin banyak angkanya (misal 1/125), maka semakin sedikit cahaya yang masuk pada sensor. Sebaliknya, angka shutter speed yang kecil (misal 1/20) membuat sensor terbuka lama sehingga banyak cahaya yang diterima.

Sementara itu, ISO merupakan indikator yang menunjukkan seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya. Semakin kecil atau besar angka ISO akan berbanding lurus dengan tingkat sensitivitas sensor sebuah kamera.

Terakhir, pengguna kamera juga perlu mengatur White Balance (WB) saat memotret. Pengaturan WB berguna untuk mengakomodasi perubahan warna yang berpengaruh pada tone atau suasana (mood) pada foto. Ika berkata bahwa kecenderungan food photography lebih banyak menggunakan tone hangat agar orang lebih tertarik untuk makan.

infografik memotret makanan dengan ponsel pintar

Di samping pengetahuan akan kamera ponsel, komposisi foto pun berperan besar menghasilkan foto makanan. Ika Rahma berkata bahwa poin pertama yang mesti diperhatikan saat memotret adalah tekstur makanan. “Apapun yang terjadi kalau warnanya bagus tapi datar enggak menarik. Kan banyak makanan yang berwarna-warni misalnya rainbow cake tapi orang kadang mau lihat ini lembut atau ada crumble-nya atau tipe cake berat,” katanya.

Selain itu, pengguna kamera juga disarankan menggunakan aturan sepertiga (rules of third) di foto makanan. Aturan segitiga membagi bidang foto menjadi sembilan bagian dan pertemuan antar-garis menghasilkan empat titik yang disebut “Golden Section”. Adanya garis-garis tersebut memudahkan pemotret untuk mendapatkan komposisi yang menarik.

Aturan sepertiga pada foto makanan, menurut Ika Rahma, memudahkan pemotret makanan pemula mengatur perlengkapan untuk dekorasi. Selain itu, aturan ini juga memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menjelajah bagian lain dari sebuah foto makanan.

Terkait sudut pandang, Ika berkata bahwa ada empat angle yang biasa digunakan pada fotografi makanan.

“Kalau angle foto biasanya yang paling bisa mengekspos makanan dengan bagus itu 45 derajat. Terus ada setelah tren Instagram itu angle 90 derajat atau bird eye view. Makanannya teksturnya enggak kelihatan, yang berperan dalam angle bird eye view itu pengaturannya jadi mainnya di bentuknya, ada piring bulat, piring kotak, ada sendok,” katanya.

Ika Rahma menuturkan sudut pandang eye level dan angle mata kodok juga dipraktikkan oleh para pemotret makanan.

“[Sudut pandang] sejajar mata atau eye level jarang dipakai karena meski tekstur makanannya tetap kelihatan cuma bagian belakangnya jadi ketutup ya. Ada satu angle namanya below eye level jadi angle mata kodok. Itu di foto makanan banyak dipakai terutama setelah banyak muncul coffee shop. Kopi dengan latte art, kopi dalam botol, dan smoothies difoto pakai angle mata kodok,” katanya.

Namun, elemen komposisi yang utama dalam foto makanan adalah pencahayaan. “Untuk [kamera] ponsel sebisa mungkin memotret makanan itu enggak pakai flash karena nanti tekstur makanannya hilang. Karena cahayanya dari arah depan makanannya. Jadi lighting itu sebaiknya dari samping atau dari belakang makanan. Pilihannya cuma dua itu,” ujarnya.

Menurutnya, pencahayaan dari samping memungkinkan tekstur sebuah makanan lebih menonjol pada foto. Sementara itu, pemotret lebih mudah menunjukkan bentuk makanan jika pencahayaan saat memotret datang dari belakang.

Baca juga artikel terkait FOTOGRAFI atau tulisan lainnya dari Nindias Nur Khalika

tirto.id - Teknologi
Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani