Berkas Panama dalam Angka

Ilustrasi. FOTO/SHUTTERSTOCK
- 8 April 2016
Dibaca Normal 3 menit
Berkas Panama membuat heboh dunia. Angka-angkanya fantastis, melebihi bocoran-bocoran yang pernah ada. Hasilnya, tak kurang dari 12 pemimpin dunia yang namanya terekspos, 61 orang dekat atau famili dari para pemimpin dunia itu, 128 politisi dan pejabat publik, dan 29 orang kaya dunia yang masuk dalam daftar Forbes. Nama-nama yang terekspos Berkas Panama adalah para klien Mosfon yang memiliki perusahaan cangkang atau perusahaan tanpa aktivitas.
tirto.id - Berkas Panama membuat heboh dunia. Angka-angkanya fantastis, melebihi bocoran-bocoran yang pernah ada.




"Mau data? Saya akan dengan senang hati membaginya."

Pada awal 2015, Bastian Obermayer, wartawan Suddeutsche Zeitung, dihubungi seseorang yang mengaku bernama John Doe melalui saluran terenkripsi. Orang itu menawarkan data milik firma hukum Mossack Fonseca yang berbasis di Panama.

Nama asli John Doe tentu saja bukan John Doe. Nama ini biasa dipakai di Amerika Serikat oleh orang-orang yang berbagi informasi rahasia dan tidak ingin identitasnya diketahui umum.

"Ya, kami sangat mau," balas Bastian.

"Tapi ada beberapa persyaratan. Hidup saya dalam bahaya. Kita hanya akan berkomunikasi melalui saluran terenkripsi. Tidak ada pertemuan, jangan pernah. Pilihan untuk menulis cerita yang mana sepenuhnya terserah Anda."

"Kenapa Anda melakukan ini?"

"Saya ingin kejahatan-kejahatan ini dibongkar."

Tidak main-main, si sumber anonim kemudian mengirimi Suddeutsche Zeitung data dalam jumlah yang belum pernah dibayangkan Bastian sebelumnya: fail 2,6 terabita atau 2.600 gigabita. Ini bocoran data terbesar yang pernah diterima jurnalis mana pun.

Bocoran ini mereka beri nama Panama Papers atau Berkas Panama.

Dari penelusuran awal Bastian dan kawan-kawan, diketahui bahwa data ini menyajikan petunjuk-petunjuk penting untuk mengungkap dunia yang selama ini gelap dan tak tersentuh. Data yang tersedia bisa membuktikan bagaimana orang-orang kaya dan terkenal dan berkuasa memanfaatkan wilayah-wilayah bebas bajak (tax haven) untuk menyembunyikan kekayaan mereka: mulai dari para kriminal, penyelundup obat-obatan terlarang, politisi, selebriti, hingga atlet profesional. Bukan hanya menyembunyikan, mereka juga melakukan pencucian uang dan berbagai kejahatan lainnya.

"Dengan ini, salah satu bab paling menantang dan tidak biasa sepanjang sejarah Süddeutsche Zeitung dimulai," tulis Wolfgang Krach, Pemimpin Redaksi koran yang berbasis di Munich, Jerman itu.

Membongkar Data


Süddeutsche Zeitung kemudian memutuskan untuk bekerja sama dengan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) untuk mengolah data Berkas Panama. Sebelumnya, ICIJ juga pernah mengkoordinasi penelitian yang melibatkan SZ, antara lain Offshore Leaks, Lux Leaks, dan Swiss Leaks.

Karena besarnya jumlah dokumen yang harus ditelusuri, ICIJ kemudian mengundang para jurnalis dari berbagai negara untuk ikut menggarapnya. Dibandingkan data-data bocoran sebelumnya yang menggemparkan dunia seperti Wikileaks dan dari Edward Snowden, Berkas Panama adalah raksasa.

Selama setahun terakhir, sekitar 400 wartawan 109 media dari 76 negara terlibat dalam penelitian lebih lanjut Berkas Panama. Di antaranya adalah The Guardian dan BBC dari Inggris, Le Monde dari Perancis, La Nacion dari Argentina, dan Tempo dari Indonesia. Mereka memeriksa dengan seksama 11,5 juta dokumen dari tahun 1977 hingga 2015, terdiri dari surel, fail pdf, gambar kontrak, salinan sertifikat, dan lain sebagainya.

Hasilnya, tak kurang dari 12 pemimpin dunia yang namanya terekspos, 61 orang dekat atau famili dari para pemimpin dunia itu, 128 politisi dan pejabat publik, dan 29 orang kaya dunia yang masuk dalam daftar Forbes. Data ini juga menghubungkan berbagai aktivitas Mossack Fonseca (Mosfon) di 202 negara.

Apakah nama-nama itu sudah pasti melakukan kejahatan? Memang belum tentu, mereka hanya orang-orang yang mengamankan aset mereka sendiri. Pusat dari semua ini adalah Mosfon, firma hukum yang melayani pembuatan shell company alias perusahaan cangkang. Nama-nama yang terekspos Berkas Panama adalah para klien Mosfon yang memiliki perusahaan cangkang atau perusahaan tanpa aktivitas. Praktik ini sesungguhnya tidak ilegal. Faktanya, mendirikan perusahaan cangkang merupakan langkah logis bagi orang-orang yang harus menangani sekian transaksi bisnis dalam jumlah besar. Di sinilah, Mosfon menarik hati para kliennya.

Tapi Mosfon bukan hanya menjual perusahaan cangkang. Mereka juga menyediakan layanan untuk menyembunyikan nama pemilik asli sehingga orang luar tidak akan pernah tahu siapa pemilik sebenarnya. Selama 40 tahun beroperasi, Mosfon telah mendirikan, menjual, sekaligus mengelola puluhan ribu perusahaan cangkang. Menurut data ICIJ, Mosfon telah menangani lebih dari 210.000 perusahaan cangkang di berbagai wilayah bebas pajak.

Nah, Berkas Panama memaparkan detail bagaimana Mosfon secara rutin terlibat dalam aktivitas bisnis kliennya yang punya potensi penggelapkan pajak, pencucian uang dan menghindari sanksi hukum. Tim ICIJ menginvestigasi setiap nama klien yang muncul: apa saja perannya, dari mana uangnya didapat, dan dikemanakan.

Sejauh ini, yang menggemparkan dari temuan Berkas Panama antara lain: dugaan pencucian uang miliaran dolar yang dilakukan orang dekat Presiden Rusia Vladimir Putin; saudara tiri Presiden Cina Xi Jinping, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, Presiden Argentina Mauricio Macri, dan Perdana Menteri Islandia Sigmundur Gunnlaugsson.

Segera setelah laporan Süddeutsche Zeitung dan ICIJ mengenai Berkas Panama dirilis, diikuti hampir semua media di dunia, ribuan demonstran melempari gedung parlemen Islandia dengan yogurt dan menuntut Sigmundur Gunnlaugsson mundur dari jabatannya.

Kasus Sigmundur di Berkas Panama ini terbilang unik. Dia tidak terbukti, atau setidaknya belum, terlibat dalam pencucian uang. Tapi fakta bahwa ia tercatat memiliki sebuah perusahaan cangkang bikinan Mosfon cukup menggoyang kredibilitas politiknya. Pasalnya, Sigmundur terlibat dalam pendirian perusahaan cangkang bernama Wintris Inc sejak tahun 2007, setahun sebelum krisis ekonomi menghajar Islandia yang memaksa pemerintah melakukan reformasi ekonomi dan menasionalisasi tiga bank. Selanjutnya, dalam perjalanan politiknya hingga terpilih menjadi Perdana Menteri 2013, Sigmundur dikenal luas dengan retorika reformasi ekonomi yang mensyaratkan transparansi.

Ada satu hal menarik—kalau bukan konyol—yang diungkap Berkas Panama terkait Wintris Inc. Pada 2007, kepemilikan perusahaan cangkang ini dibagi dua antara Sigmundur dengan istrinya, Anna Sigurlaug Palsdottir. Pada Desember 2009, Sigmundur menjual sahamnya—yang bernilai jutaan dolar Amerika—kepada Anna hanya dengan harga 1 dolar. Mantap, kan?



Selain dari kalangan negarawan, Berkas Panama juga menyentuh korupsi di tubuh federasi sepakbola dunia FIFA, dugaan pengelakan pajak bintang sepakbola Lionel Messi dan aktor terkenal Jackie Chan.

Menanggapi ramainya pemberitaan media, Ramón Fonseca, co-founder Mosfon, mengatakan, perusahaannya tidak bertanggung jawab atas apa yang klien lakukan dengan perusahaan cangkang mereka. Ramon menekankan, perusahaannya seperti pabrik mobil yang tanggung jawabnya selesai setelah mobil diproduksi. "Menyalahkan Mossack Fonseca atas apa yang dilakukan orang dengan perusahaan cangkang mereka sama dengan menyalahkan produsen mobil jika mobil itu digunakan untuk merampok," kata Ramon.


Baca juga artikel terkait BERKAS PANAMA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Arlian Buana
Penulis:

DarkLight