Berbicara Bahasa Arab, Pelajar AS Diusir dari Pesawat

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 19 April 2016
Dibaca Normal 2 menit
Khairuldeen Makhzoomi mengalami peristiwa buruk pada 6 April 2016. Sehari setelah bercakap-cakap dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Ban Ki-moon, ia didepak dari pesawat yang dinaikinya. Federal Bureau of Investigation (FBI) menginterogasinya. Ia diperlakukan seperti teroris. Semua itu hanya karena ia berbicara Bahasa Arab ketika berbincang dengan pamannya melalui telepon genggam.
tirto.id - Khairuldeen Makhzoomi mengalami peristiwa buruk pada 6 April 2016. Sehari setelah bercakap-cakap dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Ban Ki-moon, ia didepak dari pesawat yang dinaikinya. Federal Bureau of Investigation (FBI) menginterogasinya. Ia diperlakukan seperti teroris. Semua itu hanya karena ia berbicara Bahasa Arab ketika berbincang dengan pamannya melalui telepon genggam.

Peristiwa yang menimpa mahasiswa University of California, Berkeley, Amerika Serikat berusia 26 tahun itu berlangsung sangat cepat dan mengejutkan. Makhzoomi pun mendesak maskapai penerbangan yang mendepaknya, Southwest, untuk meminta maaf. Ia menyebut peristiwa itu sebagai sebuah bentuk nyata dari Islamofobia.

Diinterogasi Southwest dan Diperiksa oleh FBI

Kejadian itu bermula ketika Makhzoomi memutuskan untuk menelepon pamannya sebelum pesawatnya lepas landas dari Los Angeles ke Oakland, California. "Insha Allah Insha Allah, Aku akan meneleponmu ketika tiba nanti," jawabnya ketika diminta oleh pamannya untuk menelponnya kembali jika telah sampai di Oakland.

Makhzoomi mengatakan, sesaat setelah ia berbicara dalam bahasa Arab tersebut, seorang wanita menatapnya dan tiba-tiba meninggalkan pesawat tersebut.

Situasi tiba-tiba dengan cepat berubah. "Seseorang datang dengan polisi dalam waktu dua menit - Aku tidak percaya seberapa cepat mereka - dan mengatakan kepada saya untuk turun dari pesawat," katanya.

Bagi Makhzoomi kemudian, keadaannya hanya menjadi semakin buruk. Ia kemudian dicecar oleh seseorang yang ia yakini merupakan seorang pegawai Southwest.

Makhzoomi pun menjelaskan bahwa dirinya hanya berbicara kepada pamannya mengenai makan malamnya dengan Ban Ki-moon. Atas penjelasan tersebut, si pegawai malah memperingatkannya. "Mengapa kau bicara dalam bahasa Arab? Anda tahu sekeliling [Anda] sangat berbahaya," ujar pegawai tersebut.

Sesaat kemudian, seekor anjing pelacak mengendusnya. Ia digeledah, dompetnya diambil. Beberapa pegawai FBI kemudian membawanya pergi dan salah satunya, seorang perempuan, mengajukan pertanyaan yang menurutnya sangat mengejutkan: "Anda harus sangat jujur dengan kami dengan apa yang Anda katakan tentang para martir. Beritahu kami segala sesuatu yang Anda ketahui tentang martir."

"Ketika ia mengatakan hal itu, saya bilang bahwa saya tidak pernah mengatakan perkataan tersebut, saya hanya mengatakan Insha Allah," jelas Makhzoomi. Sesi interogasi itu kemudian segera berakhir.

Juru bicara FBI mengatakan, "tidak ada tindakan lebih lanjut" yang diambil setelah menginterogasi Makhzoomi.

Desak Permintaan Maaf

Sejauh ini Makhzoomi mengaku belum menerima permintaan maaf dari Southwest setelah insiden tersebut.

"Yang saya inginkan adalah permintaan maaf hari ini juga," kata Makhzoomi. "Kami sebagai seorang manusia, Irak, Amerika, Iran, kita berbagi satu hal yang sama, dan itu adalah martabat kita. Jika seseorang mencoba untuk mengambilnya dari kita, kita harus berjuang, tidak dengan agresi, tetapi dengan pengetahuan dan pendidikan. Seseorang harus tegas berdiri untuk prinsipnya."

Southwest hanya memberikannya refund atas tiketnya. Maskapai tersebut mengaku, fokus utamanya adalah keamanan. Kendati demikian, Southwest mengaku tidak memberikan toleransi terhadap diskriminasi. Sayangnya, perusahaan tidak memberikan detail mengenai apa yang terjadi dengan Makhzoomi.

"Kami tidak akan mengeluarkan penumpang dari penerbangan tanpa keputusan kolaboratif yang berakar pada prosedur yang telah ditetapkan," kata perusahaan penerbangan itu.

"Southwest tidak membenarkan atau mentolerir diskriminasi apapun," tambah perusahaan.

Sementara itu, Council on American-Islamic Relations (CAIR) lembaga yang dihubungi oleh Makhzoomi setelah kejadian tersebut mengatakan bahwa apa yang dialami oleh pemuda tersebut merupakan sebuah tanda dari tren yang mengkhawatirkan.

"Pada tingkat individu, hal ini sangat menakutkan. Cerita ini menjadi menakutkan ketika hal itu merupakan insiden tunggal," jelas perwakilan CAIR Zahra Billoo.

"Dan merupakan suatu masalah bahwa ada banyak keluhan terhadap Southwest dan [maskapai] yang lain tahun ini. Ini hanya merupakan suatu 'keadaan normal yang baru' bagi umat Islam dalam dunia penerbangan," demikian dikutip dari CNN.

Baca juga artikel terkait AMERIKA SERIKAT atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara

DarkLight