Periksa Fakta

Benarkah Anosmia Menjadi Penanda Gejala COVID Ringan?

Oleh: Irma Garnesia - 21 Agustus 2021
Dibaca Normal 4 menit
Anosmia mungkin menjadi salah satu prediktor prognosis positif untuk pasien COVID-19, namun penelitian lebih lanjut mengenai ini masih diperlukan.
tirto.id - Masih hangat, Hotline Periksa Fakta Tirto (kontak) mendapat laporan mengenai gejala yang kerap dialami saat terinfeksi COVID-19, yakni kehilangan indra penciuman (anosmia). Pesan tersebut menyebut bahwa anosmia adalah salah satu gejala COVID-19 yang patut disyukuri, sebab apabila pasien terkena anosmia, berarti gejala COVID yang dialami tidak akan parah.

Pesan ini mereferensikan informasinya pada dr. Findrilia Sanvira. Menurut penjelasan dr. Findrilia melalui akun Tiktok pribadinya, anosmia menjadi tanda bahwa prognosis COVID pasien baik, dan dapat dengan mudah disembuhkan. Dokter Findrilia juga menyebutkan bahwa pasien yang mengalami anosmia tidak perlu dirujuk ke rumah sakit.

Periksa Fakta Benarkah Anosmia Menjadi Penanda Gejala Covid Ringan
Periksa Fakta Benarkah Anosmia Menjadi Penanda Gejala Covid Ringan. foto/Kompas.com/Hotline Periksa Fakta Tirto


Selanjutnya, pesan ini merekomendasikan beberapa cara mengatasi anosmia, seperti Latihan mencium bau, mengonsumsi bawang putih, lemon, jahe, dan daun mint.

Lantas, bagaimana fakta dari pesan ini?

Penelusuran Fakta

Pertama-tama, tim Tirto menelusuri akun TikTok dr. Findrilia. Kami kemudian menemukan akun Tiktok dokter kulit dan kecantikan tersebut dengan nama @dr.findriliasanvira. Ia sering membagikan tips-tips merawat tubuh melalui akun tersebut.

Informasi yang tersebar mengenai anosmia didasarkan pada sebuah unggahan dari dr. Findrilia pada 4 Juli 2021 lalu. Dokter Findrilia mereferensikan pernyataannya melalui informasi yang diklaim berasal dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Menurut dr. Findrilia pula, anosmia terjadi karena virus penyebab COVID-19 bisa menyebabkan reaksi inflamasi/peradangan pada tubuh. Virus SARS-CoV-2 yang menjangkiti tubuh akan membuat sel imun melepaskan sitokin ke dalam darah. Sitokin sendiri membantu sistem imun tubuh berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Ketika tubuh melepaskan sitokin, terjadilah peradangan dan kehilangan indra penciuman. Namun, menurut dr. Findrilia, ini merupakan mekanisme tubuh tubuh untuk melindungi diri sendiri.

Seperti yang dijelaskan juga oleh dr. Findrilia, sebagian besar pasien yang mengalami anosmia tidak memiliki gejala COVID-19 yang parah. Begitu juga sebaliknya, pasien COVID-19 yang harus dirawat di rumah sakit, tidak mengalami anosmia.

Perlu dicatat bahwa WHO sendiri belum mengeluarkan pernyataan apapun mengenai anosmia sebagai tanda prognosis baik untuk penderita COVID-19. WHO hanya menyebut anosmia, atau kehilangan kemampuan mencium bau, sebagai salah satu gejala COVID-19.

Tirto juga meminta pendapat dr. Nadha Aulia, dokter umum di RS Jantung Jakarta dan juga interactive medical advisor di situs kesehatan Alodokter, mengenai hal ini. Mengenai isu ini, dr. Nadha sependapat dengan dr. Findrilia.

“Anosmia/kehilangan penciuman merupakan salah satu gejala infeksi COVID yang umum ditemukan,” jelas dr. Nadha pada Tirto melalui pesan singkat (17/8/2021).

Ia melanjutkan, anosmia ini merupakan gejala penting yang menjadi penanda awalnya infeksi, sehingga dokter dapat mendiagnosa COVID-19.

“Dengan semakin berkembangnya penelitian mengenai respon imunitas tubuh terhadap COVID, sekarang gejala anosmia dapat membantu dokter untuk mengelompokkan pasien dan menentukan terapi berikutnya,” jelas dr. Nadha.

Dengan kata lain, gejala anosmia bisa menjadi karakteristik suatu penyakit atau pasien (faktor prognostik independen) yang membantu dokter memprediksi gejala hingga tingkat kesembuhan pasien. Nadha mendasari pendapatnya ini dari penelitian berjudul “Olfactory dysfunction in COVID-19: a marker of good prognosis?” atau yang artinya kira-kira "Apakah disfungsi indra penciuman pada COVID-19 adalah pertanda prognosis yang baik?".

Penelitian yang dipublikasikan pada Januari 2021 ini menganalisis sebanyak 261 pasien COVID-19 dengan gejala flu ringan, flu sedang, dan pasien kritis. Penelitian menemukan bahwa ada sebanyak 66,28 persen pasien yang mengalami gangguan penciuman. Kemudian, pada 56,58 persen pasien, gangguan penciuman ini berlangsung antara 9 hari hingga 2 bulan. Penelitian yang sama juga menemukan bahwa kelompok yang kehilangan indra penciuman termasuk kelompok yang terkena flu ringan.

Dari temuan tersebut, peneliti juga menyimpulkan bahwa disfungsi indra penciuman secara signifikan lebih umum terjadi pada pasien COVID-19 dengan flu ringan. Peneliti juga menyimpulkan bahwa mungkin saja anosmia merupakan prediktor dari prognosis yang baik untuk infeksi COVID-19.

Sementara itu, dr. Nadha juga menjelaskan bahwa anosmia berkaitan dengan sistem imunitas dan perjalanan masuknya virus COVID-19 ke dalam saluran napas.

“Virus penyebab COVID masuk ke saluran napas melalui hidung, dan ‘berkontak’ dengan lapisan terluar yang terdiri dari saraf penghidu (nervus olfactorius) dan sel-sel imun. Virus pun dapat menstimulasi munculnya respon imun, datangnya bala tentara berupa sel-sel pertahanan tubuh/imunitas untuk melawan virus," katanya.

“Sederhanya, bayangkan tubuh sedang berperang melawan virus, sehingga tentu ada sel-sel saraf penghidu yang mati," tambahnya.

Kemudian, dr. Nadha juga menjelaskan bahwa respon tersebut diyakini menjadi respon pertama pertahanan tubuh kita dan merupakan faktor proteksi/pelindung, sehingga dengan adanya anosmia menjadi penanda respon imunitas tubuh yang baik.

Dokter Nadha menjelaskan bahwa hal ini didukung dengan temuan bahwa pasien yang imunitasnya rendah tidak mengalami gejala anosmia. Menurut penelitian berjudul “COVID-19 anosmia and gustatory symptoms as a prognosis factor: a subanalysis of the HOPE COVID-19 (Health Outcome Predictive Evaluation for COVID-19) registry”, yang meneliti soal gejala anosmia dan indra pengecap pada penderita COVID-19, dari 5.868 pasien terdiagnosis COVID-19, ditemukan bahwa pasien dengan anosmia memiliki penurunan risiko kematian akibat infeksi COVID sebanyak 5 kali lipat dibanding yang tidak mengalami anosmia. Hal ini tak dipengaruhi faktor-faktor lainnya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa anosmia menjadi faktor prognostik independen yang menandakan prognosis baik.

Selain itu, menurut Nadha, anosmia juga secara signifikan berkaitan dengan penurunan hospitalisasi, admisi ke ruang ICU, intubasi/pemasangan ventilator, dan kejadian gagal napas (acute respiratory distress syndrome) dibandingkan dengan yang tidak mengalami anosmia. Hal ini merupakan kesimpulan dalam penelitian berjudul “Smell loss is a prognostic factor for lower severity of coronavirus disease 2019” dari Katharine J Foster dkk yang dipublikasikan pada Oktober 2020.

“Maka, berangkat dari penelitian-penelitian tersebut, anosmia merupakan gejala awal yang penting dan menjadi penanda bahwa pertahanan/imunitas tubuh yang baik sehingga infeksi COVID-19 yang dialami akan bersifat ringan/sedang dengan risiko kematian rendah,” tutur dr. Nadha.

Dokter Nadha juga memberi penjelasan bahwa mekanisme bagaimana COVID menyebabkan anosmia juga masih belum jelas. Namun, satu hal yang perlu diketahui adalah hal tersebut berkaitan dengan prognosis yang baik dan relevan untuk menentukan terapi Covid yang tepat untuk pasien.

“Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi hasil studi sebelumnya. Namun, mengalami anosmia bisa dikatakan sebagai blessing, karena secara statistik penelitian menandakan bahwa infeksi COVID yang dialami tidak akan parah,” kata Nadha.

Namun, perlu dicatat pula bahwa ada penelitian-penelitian yang menghasilkan temuan yang berbeda soal kaitan anosmia dengan keparahan gejala COVID-19, misalnya, penelitian Moein dan rekan-rekan serta Vaira dan rekan-rekan.

Dr. Jonathan Overdevest, asisten profesor rinologi dan bedah dasar tengkorak di Universitas Columbia, Amerika Serikat, menyatakan bahwa jawaban yang definitif mengenai mekanisme anosmia masih belum ditemukan, seperti dilansir dari artikel Healthline yang dipublikasikan pada Januari 2021.

Overdevest menyatakan bahwa banyaknya kasus kehilangan indra penciuman di antara kasus ringan pada COVID-19 dibandingkan dengan kasus berat, mungkin juga dipengaruhi oleh besarnya jumlah kasus ringan.

"Kejelasan dari hubungan ini terbatas oleh beberapa faktor yang campur aduk. Tapi, keterbatasan utama untuk mengambil kesimpulan ini adalah bias dan statistik, ketika jumlah kasus COVID-19 ringan dibandingkan dengan kasus berat jauh lebih besar, sehingga lebih banyak individu yang mengalami perubahan dalam indra penciuman," katanya.



Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa data yang tersedia mungkin mengindikasikan bahwa anosmia merupakan salah satu prediktor prognosis baik untuk penderita COVID-19. Hal ini disimpulkan dari penelitian-penelitian yang menemukan bahwa anosmia lebih banyak ditemukan pada pasien COVID-19 bergejala ringan dan kaitan anosmia dengan penurunan hospitalisasi, admisi ke ruang ICU, intubasi/pemasangan ventilator, dan kejadian gagal napas. Namun, penelitian mengenai hal ini masih terus berlanjut dan belum ada jawaban definitif mengenai hal ini. Dengan demikian informasi ini perlu konteks yang lebih jelas (missing context).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6288223870202. Apabila terdapat sanggahan ataupun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty
DarkLight