Menuju konten utama
Lapsus Wawas Lingkungan

Bank Sampah: Ikhtiar Peduli Lingkungan yang Berbuah Cuan

Melalui jargon "Ubah sampah jadi rupiah" ini secara perlahan nasabah mulai berdatangan.

Bank Sampah: Ikhtiar Peduli Lingkungan yang Berbuah Cuan
Bank Sampah Bumi Lestari yang dikelola oleh Dela di Jakarta Barat. tirto.id/Hanif

tirto.id - Dela (57) tampak sibuk pada Senin pagi, 9 Januari 2023. Saya tiba sekitar pukul 10.00 WIB di sebuah bangunan kecil berwarna hijau. Di atas bangunan tersebut bertuliskan spanduk “Bank Sampah Bumi Lestari,” yang dikelola Dela.

Bank Sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan. Namun, yang ditabung bukan uang, melainkan sampah. Warga –disebut nasabah-- memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam.

Bank Sampah Bumi Lestari terletak di Kebon Jeruk Indah Utama 6, Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Alamat tersebut tidak jauh dari rumah saya dan dapat dijangkau hanya dalam 5 menit kalau tidak macet.

“Ayuk silakan masuk sini,” Dela menyambut saat saya sampai di lokasi. Pagi itu, ia tengah melayani kegiatan rutin posyandu. Di bagian ujung bangunan sudah terlihat tumpukan sampah hasil setoran dari masyarakat yang ditampung di area tersebut.

Sambil menunggu, saya memperhatikan aktivitas ibu-ibu di Bank Sampah Bumi Lestari itu. Tak lama kemudian, kami mulai berbincang banyak hal terkait bank sampah yang telah dikelola Dela selama delapan tahun belakangan ini.

Menurut Dela, Bank Sampah Bumi Lestari didirikan pada 15 Februari 2015. Gagasan ini muncul berawal dari keresahannya melihat banyaknya sampah yang berserakan di sekitar tempat tinggalnya. Kenangan masa kecilnya tentang lingkungan yang sehat dan asri seakan terancam oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab yang suka buang sampah sembarangan.

Keresahan itulah yang mendorong Dela kemudian berinisiatif mendirikan bank sampah. Ia berpikir, perlu ada perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. Jika selama ini dibuang, ditimbun atau dibakar, maka hadirnya bank sampah “Bumi Lestari” sejatinya adalah sarana untuk melakukan perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah tersebut.

Dela juga menjelaskan bahwa pengelolaan sampah menjadi titik simpul penting guna mengurangi timbunan sampah. Hal ini dikarenakan bank sampah akan menjadi mesin penggerak dari mekanisme reduce, reuse, dan recycle yang sudah jamak diketahui masyarakat.

Keputusan Dela bergelut dengan sampah tidak datang dari idealisme yang muluk-muluk. Alasannya sederhana saja: tidak ingin kenangan masa kecilnya tentang tanah yang subur, desa dengan lingkungan yang bersih dan udara yang sehat hanya akan menjadi cerita masa lalu.

Sekalipun sederhana, tapi tidak semudah kenyataannya. Tidak semua yang dikerjakan segampang membalikkan telapak tangan. Selama menjalankan aktivitasnya untuk mengelola sampah, banyak sekali tantangan yang dihadapi Dela.

Contohnya, susahnya mendapatkan fasilitas untuk mengelola sampah, besarnya pengeluaran yang dibutuhkan untuk mengelola sampah, belum lagi harga sampah saat ini bisa mengalami penurunan harga yang akan berdampak pada masyarakat.

Pada akhirnya, Dela mendapatkan nasihat spiritual dari temannya bahwa “Agama kita itu memerintahkan untuk menjaga kebersihan. Apa yang ibu lakukan hari ini, dengan mengelola sampah adalah bagian dari ibadah.”

Nasihat tersebut membuat Dela semakin memotivasi dirinya untuk tetap melanjutkan konsep Bank Sampah Bumi Lestari ini. Nasihat itu mengubah pandangan dia mengenai pengelolaan bank sampah. Ia meyakini, bank sampah bukan hanya bentuk kepedulian manusia terhadap lingkungan, tapi bila diniati dengan sungguh, jadi sarana ibadah dan ladang pahala.

Bank Sampah

Bank Sampah Pembawa Berkah Bagi Masyarakat dan Lingkungan. tirto.id/Hanif

Jargon “Ubah Sampah Menjadi Rupiah”

Di tengah teriknya matahari pada siang itu, Dela dengan masih semangat menjelaskan skema tersebut. Menurut dia, menangani sampah rumah tangga secara benar butuh kesadaran, kesabaran, serta sedikit waktu dan tenaga.

Berbagai cara Dela lakukan agar gerakan peduli lingkugan ini bisa mendapatkan dukungan masyarakat. Sampai pada akhirnya ia menemukan jargon “Ubah sampah jadi rupiah.” Melalui jargon ini, secara perlahan nasabah mulai berdatangan. Meskipun harus dengan iming-iming uang.

Proses memilah sampah penjadi kunci penting dalam pengelolaan sampah agar menjadi rupiah. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos dengan beragam cara. Bisa menggunakan katakura, bisa pula ditimbun ke dalam lubang biopori.

“Kalau mau agak modern dan mengeluarkan modal, bisa menggunakan biodigester. Kemudian sampah kering bisa dijual ke bank sampah. Masyarakat tinggal membawa sampah ke bank sampah,” kata dia.

Hal tersebut mengacu pada Pergub Provinsi DKI Jakarta Nomor 77 tahun 2020, bahwasannya sampah yang diberikan kepada bank sampah harus terlebih dahulu dipilah dari rumah masyarakat.

Karena itu, kata Dela, bank sampah yang dikelolanya hanya menerima sampah bersih atau kering. Hal ini dilakukan agar lebih memudahkan proses pengelolaannya dibandingkan dengan sampah basah.

Prosesnya, pertama petugas bank sampah akan menimbangnya. Untuk sampah plastik dihargai berkisar Rp1.500 – Rp3.000 per kilogramnya, dan untuk sampah kertas berkisar Rp300 – Rp700 per kg.

Selanjutya adalah mencatat tabungan sampah nasabah. Setelah semuanya selesai, nasabah bank sampah bisa langsung membawa pulang uang hasil penjualan sampah. Atau nasabah bisa menabung uangnya di bank sampah.

Dia menekankan, nasabah tak perlu khawatir uangnya akan lenyap. Namanya juga bank, maka uang nasabah akan disimpan dengan aman. Dan, semua tercatat di dalam buku rekening nasabah bank sampah. Dengan demikian, Dela mampu memberi bukti ke masyarakat bahwa “di balik sampah ada rupiah” bukan omong kosong.

Penuh Tantangan

Delapan tahun berjalan, Bank Sampah Bumi Lestari tentu mengalami berbagai rintangan. Namun dengan tekad yang kuat, kata Dela, bank sampah yang dikelolanya mampu bertahan sampai saat ini.

Berbagai dukungan pun mulai berdatangan. Pemprov DKI Jakarta dan perusahaan swasta juga turut mendukung dan membantu dalam perkembangan Bank Sampah Bumi Lestari.

Hingga 2020, gerakan bank sampah yang dimotori Dela bisa menjalin kerja sama dengan Pegadaian dengan program MengEMASkan sampah. Sebuah program yang menjadi salah satu bentuk program BUMN untuk mendukung program pemerintah “Gerakan Indonesia Bersih.”

Dengan adanya program ini, para nasabah tidak lagi menerima uang hasil penjualan sampah dalam bentuk uang. Namun nasabah sampah bisa menginvestasikan tabunganya dalam bentuk emas.

Sampai hari ini, kata Dela, tercatat sudah ada 75 nasabah yang mengikuti program MengEMASkan sampah ini.

Dina (56), salah satu nasabah Bank Sampah Bumi Lestari, mengaku terasa sangat terbantu secara ekonomi dengan lahirnya bank sampah ini. Dina bahkan mengaku akan lebih rajin menabung sampah lagi untuk kebutuhan jangka panjang.

Selain itu, kata Dina, lingkungan rumahnya maupun di sekitaran perumahan tempat tinggalnya, menjadi selalu bersih berkat adanya bank sampah ini. Ia bercerita, ibu-ibu di perumahan menjadi sangat aktif mengumpulkan sampah dan berlomba-lomba membersihkan sampah di sekitar rumah mereka.

“Bank sampah semoga menjadi pionir untuk menjadi penggerak peduli lingkungan, lalu juga semakin maju untuk Bank Sampah Bumi Lestari atau bank sampah lainnya yang ada di sekitaran Jakarta. Mitra kerja dari bank sampah ini diharapkan semakin banyak agar lebih luas lagi cakupan mitra kerjanya,” kata Dina berharap.

Bank Sampah Berdikari

Bank Sampah Berdikari. tirto.id/Hanif

Sampah, Ibadah dan Amanah sebagai Khalifah

Di lokasi kedua, saya mendatangi Bank Sampah Berdikari yang terletak di Jalan Lap. Merah No. 6, RW 3, Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Bangunan Bank Sampah Berdikari lebih dominan kayu, bukan tembok beton. Di sana, saya bertemu Marini (47).

Marini bercerita awal terbentuknya bank sampah yang dikelolanya tersebut. Menurut dia, Bank Sampah Berdikari beridiri atas dorongan warga yang resah karena banyaknya sampah yang berserakan di sekitar perumahan.

Namun, kata dia, alasan utama berdirinya Bank Sampah Berdikari ini bertujuan untuk ibadah dan amanah sebagai khalifah. Marini dengan wajah ceria menyebut dalam ajaran Islam, kita diajarkan untuk membersihkan kotoran dan mensucikan diri, karena kebersihan adalah sebagian dari iman.

Para nasabah Bank Sampah Berdikari ini, hampir setiap tahun menyedekahkan sampahnya. Oleh karena itu, tidak sedikit dari nasabah ini, justru tidak mengambil hasilnya, melainkan diberikan kepada anak yatim melalui Bank Sampah Berdikari.

Marini mengatakan, Bank Sampah Berdikari saat ini sudah menyantuni lebih dari 50 anak yatim setiap tahunnya dari sedekah sampah yang diberikan oleh para nasabahnya. Dana yang terkumpul setiap tahunnya bisa mencapai Rp10 juta dan dibagikan ke beberapa yayasan yang tidak jauh dari lokasi Bank Sampah Berdikari.

Dari sinilah ia kemudian belajar dan mengambil hikmah. Bahwa mengelola sampah bukan hanya memberikan kemanfaatan kepada lingkungan dan kesehatan, kata dia. Lebih dari itu, ternyata sampah juga bisa memberikan dampak positif bagi kemanusiaan dan memberdayakan warga sekitar.

Marini menyadari bahwa ibadah bukan hanya salat dan puasa. Tetapi mengelola sampah juga bagian dari ibadah. Ia sebut, Allah SWT sudah menitipkan bumi ini kepada manusia agar kita bisa menjaga, merawat, mengolah, dan melestarikanya.

“Maka sudah selayaknya kita sebagai manusia untuk senantiasa menjaga amanah yang telah diberikan kepada kita, dan karena itulah kita, manusia, diberi amanah sebagai khalifah,” kata dia.

Marini, pengelola Bank Sampah Berdikari

Bank Sampah Berdikari,” yang dikelola oleh Ibu Marini (47). tirto.id/Hanif

Baca juga artikel terkait PENGELOLAAN SAMPAH atau tulisan lainnya dari Hanif Reyhan Ghifari

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Hanif Reyhan Ghifari
Penulis: Hanif Reyhan Ghifari
Editor: Abdul Aziz