Bali Raup Devisa USD 4,87 Juta dari Ekspor Perhiasan

Reporter: Mutaya Saroh - 9 April 2016
Dibaca Normal 1 menit
tirto.id - [caption id="attachment_99999" align="alignnone" width="1200"]
Seorang pegawai Pegadaian menunjukan sekeping emas PT Antam di Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (8/1). Pemerintah pada tahun ini memberikan suntikan dana kepada PT Antam sekitar Rp7 triliun dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk pembangunan smelter termasuk pengembangan usaha hilir pertambangan. ANTARA FOTO/FB Anggoro/Rei/pd/15.
Ilustrasi perhiasan yang diminati di pasar global. ANTARA FOTO/FB Anggoro.[/caption]

Ekspor berbagai jenis perhiasan dari Bali berhasil meraup devisa sebesar USD 4,87 juta per Februari 2016, mengalami penurunan sebanyak 9,82 persen dibanding Januari 2016 yang berhasil menembus angka USD 5,40 juta.

"Namun perolehan devisa sebesar USD 4,87 juta itu jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya meningkat 17,98 persen, karena Februari 2015 hanya mengapalkan perhiasan senilai 4,13 juta dolar AS," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Ir. Adi Nugroho di Denpasar, Sabtu, (9/4/2016).

Menurut Adi, hasil ekspor dari perhiasan itu mampu memberikan andil sebesar 12,09 persen dari total perolehan ekspor nonmigas Bali, per Februari sebesar USD 40,33. Sementara jika dibandingkan dengan bulan Januari 2016, terjadi peningkatan sebesar 11,44 persen sama dengan USD 36,19 juta.

Perhiasan berupa permata dalam berbagai bentuk untuk wanita yang diekspor tersebut merupakan hasil sentuhan tangan terampil perajin Bali. Permata menjadi favorit pecinta perhiasan di Singapura, sampai bisa menyerap 28,06 persen dari negara tersebut. Menyusul kemudian, Amerika Serikat dengan angka 27,29 persen, Jepang 0,33 persen, Spanyol satu persen, Australia 1,95 persen, Perancis 0,97 persen dan Hong Kong 8,92 persen.

Perhiasan asal Bali juga menembus pasar Italia 6,19 persen, Jerman 3,15 persen, dan 22,15 persen, sisanya menembus berbagai negara lainnya.

“Perhiasan dibuat dalam berbagai bentuk rancang bangun (disain) yang ditekuni perajin Desa Celuk, Batubulan, Kabupaten Gianyar, selain menembus pasaran luar negeri juga sangat diminati wisatawan mancanegara dalam liburannya ke Pulau Dewata,” kata Adi.

Perhiasan-perhiasan untuk perempuan dan cocok untuk semua umur tersedia dalam bentuk cincin, kalung, perhiasan telingan, dan anggota tubuh lainnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar saat ini menjalin kerja sama dengan Direktorat Industri Kecil Menengah (IKM) Wilayah II untuk meningkatkan mutu hasil kerajinan perhiasan. Dalam upaya ini, Kementerian Perindustrian memberikan bantuan alat tes kadar pera kepada perajin perak Desa Celuk, Sukawati, Gianyar.

Adi membeberkan, di Desa Celuk Kabupaten Gianyar ada 497 perajin perak. Adi berharap, dengan bantuan alat canggih dan otomatis tersebut, para perajin itu mampu mencegah manipulasi terhadap kadar perak.

“Kecanggihan alat pendeteksian yakni secara otomatis menampilkan angka dalam satuan karat, ketika dimasukkan benda berupa perak sehingga diketahui kadarnya secara pasti,” papar Adi.

Sebelum para perajin perhiasan di Bali menerima bantuan alat pendeteksian tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Kabupaten Gianyar pada Oktober 2015 telah melaksanakan sosialisasi beserta pelatihan kepada puluhan perajin, termasuk perajin perak di Desa Celuk dengan tata cara "casting", yaitu membuat perak dengan cara dicetak. (ANT)

Baca juga artikel terkait DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN GIANYAR atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Mutaya Saroh

DarkLight