Baku Hantam karena Filsafat dan Hal Abstrak Lainnya, Wajarkah?

Patung Socrates. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Windu Jusuf - 29 Desember 2018
Dibaca Normal 5 menit
Seorang Rusia ditembak setelah berdebat panas tentang filsafat Immanuel Kant.
tirto.id - Berkelahi karena harta adalah hal yang lazim. Saling bacok karena rebutan pasangan juga bukan hal yang sangat luar biasa. Baku hantam karena pilihan politik pun lumrah, apalagi pada musim pemilu.

Namun, bagaimana dengan adu fisik lantaran berdebat soal filsafat? Kenapa pula orang bisa menusuk sahabatnya karena yakin bahwa puisi lebih superior ketimbang prosa? Mengapa hal-hal abstrak bisa memancing pertumpahan darah?

Tiap hari Minggu ketiga pada bulan September, warga kota Rostov-na-Donu di selatan Rusia merayakan ulang tahun kota mereka. Namun, ada yang berbeda di hari jadi Rostov-na-Donu tahun 2013. Pada 17 September 2013, Russia Today memberitakan dua orang laki-laki membeli bir di sebuah toko. Kedua kawan tersebut dikisahkan berdiskusi tentang filsuf Immanuel Kant.

Salah satu gagasan Kant yang sering dibahas di dunia akademik adalah konsep “perdamaian abadi” di mana ia berbicara tentang penghapusan tentara reguler di setiap negara, perlunya menyetop jual-beli teritori negara, dan pemberlakuan konstitusi ala republikan yang menurutnya mampu mencegah peperangan.

Namun, nampaknya kedua pria di Rostov-na-Donu itu tak sedang membicarakan “perdamaian abadi”, apalagi mempraktikkannya. Obrolan filosofis itu tiba-tiba memanas dan memicu adu jotos. Perkelahian baru berakhir ketika salah satu dari mereka menembak yang lainnya. Untungnya peluru meleset dan sang korban hanya menderita luka ringan. Beberapa lama kemudian, si penembak yang kabur dari TKP dicokok polisi dan diancam hukuman 15 tahun penjara.

Sayang, tak ditemukan berita yang menjelaskan bagian mana dari karya Kant yang jadi sumber cekcok kedua laki-laki usia kepala dua itu.

Adu Bacot karena Stalin dan Puisi

Kant adalah filsuf Jerman kelahiran Königsberg, wilayah yang kini masuk wilayah Rusia. Menjelang akhir Perang Dunia II, Stalin mencaplok wilayah paling selatan dari daratan Baltik tersebut dan menamainya Kaliningrad.

Kendati dikenal brutal dan mengirim ribuan orang ke kamp tahanan gulag selama berkuasa, Stalin memang luar biasa populer di dalam negeri, khususnya setelah Soviet memenangkan Perang Dunia II. Pada 2017, Washington Post mengutip survei lembaga think tank Levada Center yang menyatakan mayoritas masyarakat Rusia masih menganggap Stalin sebagai “sosok hebat” (38% responden), menyaingi Presiden Vladimir Putin (34%).

Pada Oktober 2017, sebuah film komedi gelap berjudul The Death of Stalin dirilis. Film ini dijadwalkan diputar di bioskop-bioskop Rusia pada 25 Januari 2018, tetapi dibatalkan izin tayangnya oleh Kementerian Kebudayaan karena dianggap “menghina bangsa Rusia”.


Seminggu kemudian (01/02), radio Komsomolskaya Pravda menggelar bincang-bincang tentang film The Death of Stalin di studionya dan mengundang dua jurnalis terkemuka Nikolai Svanidze dan Maxim Shevchenko. Diberitakan oleh Moscow Times, sepanjang acara keduanya berdebat tentang mana yang lebih pantas menerima penghargaan atas kemenangan Uni Soviet dalam Perang Dunia II: rakyat Rusia atau Stalin.

Singkat cerita, Svanidze pendukung Stalin, sementara Shevchenko mengecamnya.

“Omonganmu itu sama saja dengan meludahi kuburan prajurit Rusia. Berani mendekat, kuhajar kau!” Svanidze yang berusia 62 tahun itu berang.

“Silakan saja, aku di depanmu. Ayo pukul aku sekarang, dasar pengecut!” tukas Shevchenko pada kawannya yang 11 tahun lebih tua itu sebelum keduanya saling tampar secara live. Rekamannya bisa dilihat di YouTube hingga hari ini.

Kantor berita TASS mengabarkan perkelahian tersebut dikutip oleh Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov sebagai alasan mengapa The Death of Stalin tak semestinya diputar di Rusia.

Masih dari negeri beruang merah, koresponden Telegraph di Moskow Tom Parfitt melaporkan sebuah perkelahian sastrawi yang berujung kematian pada Januari 2014. Pelakunya dihukum delapan tahun penjara oleh pengadilan setempat.

“Orang Rusia,” tulis Parfitt, “adalah pembaca yang hebat, dan sering bikin malu orang Inggris atau Amerika dengan pengetahuan mendetail mereka tentang novel John Galsworthy atau cerpen-cerpen O. Henry.”

Cerita bermula saat seorang mantan guru berusia 53 tahun asal Pegunungan Ural menyambangi seorang kawannya di kota Irbit, sekitar 1.900 km dari Moskow. Diselingi beberapa shot vodka, keduanya berbincang hangat. Pembicaraan menjadi tegang ketika masuk ke obrolan tentang mana karya sastra yang lebih superior, puisi atau prosa. Si mantan guru, yang bersikeras bahwa puisi lebih unggul, tiba-tiba mengambil pisau dan menusuk si tuan rumah.

Ironisnya, sang tuan rumah Yury Nikitkin sebetulnya pecinta puisi. “Semua orang di kota ini kenal dia. Dia orang yang sangat emosional. Jika dia ketemu sembarang orang di jalan, dia bisa mendadak berdeklamasi atau menyatakan cinta,” ujar Galina Ufarkina, kepala perpustakaan kota Irbitt, kepada harian Komsomolskaya Pravda.

Permusuhan Para Filsuf

Meski tak banyak direkam sejarah, berkelahi karena gagasan bukan hal baru. Persahabatan dua filsuf Perancis Albert Camus dan Jean-Paul Sartre hancur karena perbedaan politik. Camus menentang otoritarianisme Soviet, sementara Sartre membela Stalin.

Pada akhir 1950-an, Sartre bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Aljazair dari Perancis, sedangkan Camus tak ingin koloni Perancis di Afrika Utara itu lepas karena ibunya tinggal di Aljiers, ibukota Aljazair. Meski berlangsung sengit, perkelahian itu tak sempat memicu saling gebuk, melainkan lewat tulisan dan kenyinyiran sehari-hari belaka.


Filsuf dan ekonom Jerman Karl Marx dikenal sebagai pemberang. Ada banyak anekdot yang menuturkan hobi berkelahi Marx saat muda. Namun, yang lebih sering muncul dalam catatan sejarah adalah polemiknya dengan sesama pemikir dan aktivis kiri pada zamannya, mulai dari Proudhon hingga Bakunin, yang berlangsung keras dan luar biasa sarkastik.

Namun, perkelahian antar-filsuf hampir sungguh-sungguh terjadi pada 25 Oktober 1946. Saat itu, Secretary of the Moral Sciences Club di Universitas Cambridge mengundang filsuf Karl Popper untuk membacakan sebuah makalah tentang “kebingungan filsafat”. Pertemuan tersebut juga juga mengundang Ludwig Wittgenstein, rival filosofis Popper, yang sebelumnya pernah menelurkan tesis bahwa tak pernah ada problem filosofis yang riil, kecuali kebingungan linguistik belaka.

Dalam autobiografi Unended Quest (2002), Popper mengulangi apa yang dia katakan dalam diskusi itu: “Jika problem filsafat memang tidak ada, maka saya takkan jadi filsuf … atau mungkin problem filsafat sekadar diada-adakan sebagai justifikasi untuk jadi filsuf” (hlm. 140).

Mendengar pernyataan tersebut, Wittgenstein bangkit dari kursi dan mulai mendebat Popper sambil mengacung-acungkan tongkat perapipan yang terbuat dari besi. Setelah berdebat panas selama 10 menit, Wittgenstein—yang menyelesaikan mahakaryanya Tractacus Logico Philosophicus saat ikut wajib militer selama Perang Dunia I—membuang tongkatnya, keluar ruangan, dan membanting pintu. Keributan, sayangnya, tak berlanjut.

Jika kedua filsuf asal Austria itu hidup di abad ke-19, barangkali mereka akan berduel dengan pistol.



Duel: dari Elite ke Rakyat

Pada 12 Juli 1804, salah seorang founding father Amerika Serikat Alexander Hamilton tewas setelah tulang rusuknya dihantam peluru Aaron Burr, Wakil Presiden AS (1801-1805) yang saat itu baru saja kalah dalam pemilihan gubernur negara bagian New York, akibat manuver Hamilton. Sehari sebelumnya, Burr menantang Hamilton duel.

Duel Hamilton-Burr tak sekadar dipicu kekalahan elektoral semata. Hamilton memang sering menyerang Burr secara politis. Menulis untuk Jacobin, jurnalis Christian Parenti menyebut duel tersebut sebagai pertarungan dua ideologi yang berseberangan: Burr mewakili kubu Demokratik-Republikan yang pro-petani, mendukung perbudakan, dan tak suka ekonomi diintervensi negara, sementara Hamilton merepresentasikan industri besar, ekonomi terpimpin, serta anti-perbudakan.

Meski demikian, perlu dicatat juga dalam urusan perbudakan, Burr, sebagaimana Hamilton, adalah pengecualian pada zamannya. Mereka berdua ingin menghapuskan praktik perbudakan.

Alexander lainnya, Pushkin, pengarang Rusia abad ke-19, juga pernah berduel dan tewas karenanya. Pada 27 Januari 1836, Alexander Pushkin—yang namanya bersaing dengan Putin di survei Levada Center 2017—duel pistol dengan Georges d'Anthès dan meninggal akibat peluru yang bersarang di pinggangnya.

Namun, duel Pushkin tak ada urusannya dengan ideologi atau gagasan abstrak. D'Anthès, prajurit Perancis yang bekerja untuk Tsar, digosipkan berselingkuh dengan istri Pushkin, Natalya Goncharova. Tak tahan dengan rumor yang berseliweran, Pushkin menantang d'Anthès untuk berduel. Sejarah mencatat Goncharova tak punya afair dengan d'Anthès, melainkan dengan Tsar Nicholas I (1825-55).

Sumber lain menunjukkan duel Pushkin sebagai kepengecutan belaka. Pasalnya, Pushkin sudah tahu Goncharova punya hubungan dengan Nicholas. Namun, karena paham lawannya adalah penguasa tertinggi Tanah Rus, Pushkin memilih target yang menurutnya setara: d'Anthès.

Duel di kalangan elite Eropa punya dimensi sosiologis yang lebih luas ketimbang sebagai sarana resolusi konflik perorangan, khususnya pada abad ke-19. Duel adalah cara bermartabat untuk menyelesaikan masalah dua orang (umumnya bangsawan) ketika salah satu dari mereka merasa kehormatannya dinista.

Dalam Persistence of the Old Regime: Europe to the Great War (1981), sejarawan Arno J. Mayer menyebutkan duel dilarang di Jerman kecuali untuk mahasiswa dan serdadu. Di Austria duel juga dilarang, tapi dibolehkan untuk kaum selain minoritas, Yahudi, dan orang kelas bawah (hlm. 111). Pendeknya, gelut cuma boleh buat elite, termasuk Popper dan Wittgenstein—dua raksasa intelektual dari keluarga keturunan Yahudi yang berhasil sampai ke lapisan atas masyarakat Austria dan mengadopsi gaya hidup aristokrasi Wina zaman itu.


“Antara 1888 dan 1895, konon terjadi sedikitnya 150 duel karena urusan ‘kehormatan’ terkait politik, jurnalisme, atau sastra,” tulis Mayer (hlm. 109). Sejak 1894 hingga 1914, tambah Mayer, tren duel meningkat akibat Skandal Dreyfus.

Sebagai catatan, Alfred Dreyfus adalah seorang perwira Perancis yang dihukum seumur hidup setelah dituduh membocorkan rahasia negara pada 1894. Meski tak terbukti bersalah dan namanya direhabilitasi pada 1906, skandal tersebut memicu demam anti-semitisme di Perancis, termasuk di dalam tubuh angkatan bersenjata. Sejak itu, duel yang melibatkan perwira militer pun marak.

Dalam Fire and Blood: The European Civil War 1914-1945 (2017), sejarawan Enzo Traverso menambahkan, meski kerap berujung kematian, duel pada dasarnya tak diniatkan untuk membunuh. Ia sekadar jalan untuk mengembalikan kehormatan pribadi dengan melukai lawan. Tradisi ini, catat Traverso, berakhir ketika Perang Dunia I meletus (hlm. 68). Sejak perang akbar itu, kaum aristokrat dari negeri-negeri Eropa yang bertikai tak cuma ingin melukai sesamanya, tapi juga berhasrat menghabisi kekuasaan satu sama lain.

Sekitar 16 juta orang tewas dalam rangkaian pertempuran yang berlangsung selama empat tahun itu. Di antara hal-ihwal lainnya, nasionalisme—sebuah konsep kehidupan bersama yang baru diformulasikan Johann Gottfried Herder di Jerman pada akhir abad ke-18 dan mekar di seantero Eropa sejak 1848—dipercaya sebagai pemicunya.

Sejak itu pula ditembak setelah berdebat soal Kant, dibacok lantaran percaya puisi lebih superior, dan baku pukul akibat membela dan mengecam Stalin di ruang siaran radio, kelihatan tidak ada apa-apanya dibanding mati karena ditipu kaum ningrat untuk saling bunuh demi nama "bangsa", sebuah gagasan yang luar biasa abstrak dan tak pernah dikenal oleh buyut mereka sebelumnya.

Baca juga artikel terkait FILSAFAT atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Windu Jusuf
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight