Bagaimana Warga Eropa Memandang Islam

Oleh: Arman Dhani - 15 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Perang tak berkesudahan di Suriah memunculkan gelombang besar-besaran pengungsi ke Eropa. Sebagian besar pengungsi merupakan penganut ajaran islam. Dengan maraknya aksi terorisme yang dilakukan ISIS ditambah dengan gejala xenopobia akut, beberapa negara di Eropa memandang negatif umat muslim yang datang ke benua itu.
tirto.id - Majalah Sayap Kanan Polandia, wSieci atau The Network, Februari lalu menerbitkan edisi kontroversial. Cover majalah tersebut menggambarkan perempuan yang memakai baju Uni Eropa sedang dilecehkan dan akan diperkosa oleh tangan-tangan berbulu halus. Tema majalah itu adalah “The Islamic rape of Europe.” Penerbitan majalah itu dianggap menjadi puncak persepsi negatif warga Eropa terhadap Umat muslim.

Penerbitan edisi ini oleh wSieci mendapatkan kecaman keras dari kelompok pembela hak asasi di Eropa dan dunia. Mereka dianggap melakukan stereotyping, generalisasi, framing, dan tentu saja Islamophobia terhadap imigran muslim yang membanjiri Eropa. Editorial majalah itu malah menyebut bahwa imigran muslim menciptakan neraka dan merupakan invasi dari kebudayaan, tata nilai, dan norma masyarakat Eropa.

Islamophobia bukan hal baru di Eropa. Gejala ini sejak dulu sudah ada, tapi belakangan kebencian itu makin meningkat. Legitimasi ayat dalam Al kitab, argumen kebudayaan, sampai apologis ala ala filsafat juga disertakan untuk membenarkan kebencian kepada Islam. Islam disebut tidak bisa hidup dengan adat istiadat, tata nilai, dan kebudayaan Eropa. Beberapa media dan kelompok sayap kanan menyebut jika imigran muslim mau ke Eropa, mereka yang mesti menyesuaikan diri dengan Eropa dan bukan sebaliknya.

Schweizerische Flüchtlingshilfe kelompok advokasi HAM setempat paling keras memprotes dan mengkritik pemerintah Swiss yang berniat menyita harta para pengungsi untuk biaya hidup mereka selama pengungsian. Kebijakan gila nan rasis ini toh tak diprotes dengan ayat suci atau rasionalisasi ilmiah, tapi dengan argumen kemanusiaan.

Masalah pengungsi di Eropa dijadikan alasan untuk melakukan penindasan dan diskriminasi terhadap para muslim di Eropa. Peledakan bom di Perancis dan Belgia, penyerangan yang terjadi di Inggris dan Denmark, dan insiden pelecehan seksual massal yang terjadi di Jerman semakin mendiskreditkan muslim sebagai individu dan islam sebagai agama.

Berdasarkan European Islamophobia Report (EIR), gejala kebencian dan Islamophobia semakin meningkat di negara Eropa. Laporan tersebut dipresentasikan di parlemen Uni Eropa di Brussels. Laporan ini merupakan bentuk analisa dan rekam jejak segala bentuk Islamopobia di berbagai negara di Eropa sejak 2015 di 25 negara yang menjadi anggota Uni Eropa. Hasilnya mengerikan. Usai insiden Charlie Hebdo, sentimen anti muslim di Prancis naik 500 persen. Korban dari sentimen anti muslim di Perancis 75 persen adalah perempuan karena jilbab mereka, sementara untuk laki-laki tidak terlalu banyak.



Salah satu kelompok paling keras di Jerman yang menolak Islam adalah Pegida. Pegida atau Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West menduga ada upaya sistematis, terukur dan masif untuk mengislamkan Eropa, dan berusaha mengganti nilai nilai luhur kebudayaan Eropa dengan Islam. Islam tentu digambarkan sangat buruk, misalnya berusaha untuk mengubah non muslim jadi muslim. Menariknya, dalam riset yang dirilis oleh Gallup poll pada 2008, disebutkan bahwa 57 persen warga Jerman menganggap agama bukanlah sesuatu yang penting.

Dalam riset yang dilakukan oleh Pew Research bersama Templeton Global Religious Futures Project pada 2010 diketahui beberpa negara yang punya pandangan negatif terhadap umat muslim di Eropa antara lain Hungaria, Itali, Polandia, dan Yunani. Sementara yang berpandangan positif Inggris, Swedia, Prancis, Jerman, dan Belanda. Uni Eropa pada 2010 menyebut bahwa kawasan itu merupakan rumah dari 13 juta imigran muslim. Total populasi muslim di Eropa sendiri saat ini 46 juta orang berdasarkan berita dari New Observer.

Kelompok pembela HAM berusaha keras untuk mendidik publik bersikap adil. Mereka menyebut bahwa perkosaan, pelecehan seksual, atau bahkan tindak kriminal tidak eksklusif milik muslim. Yang bukan muslim juga ada. Kelompok pembela HAM lain berusaha menjelaskan bahwa kriminalitas di komunitas muslim eropa terjadi karena kesenjangan ekonomi, diskriminasi, dan juga akses layanan publik yang relatif susah didapat oleh pengungsi.

Human Rights Watch, melalui Kenneth Roth, menyebut bahwa Eropa mesti berpegang teguh pada nilai-nilai yang mereka percayai dalam demokrasi. Kenneth menyebut bahwa fakta dalam komunitas muslim ada kanker yang menjadi penyebab terorisme. Namun, yang paling banyak menjadi korban dari terorisme itu sendiri adalah umat Islam. Masyarakat Eropa semestinya bisa menjadi pihak yang paling depan membantu umat muslim dalam menghadapi terorisme, bukan malah memojokkan dan memusuhi mereka.

Bantuan terhadap pengungsi muslim atau kelompok muslim juga dicurigai. Bantuan lembaga donor terhadap lembaga-lembaga kemanusiaan dituduh “mendanai teroris”, “mendanai radikalisasi” dan “melakukan islamisasi” ? Kemanusiaan dianggap agenda settingan. Kelompok Pembela HAM ini pula yang berulang kali membantah bahwa Islam adalah agama kekerasan dan ISIS adalah representasi dari Islam. Majalah konservatif Polandia wSieci juga mencari alasan otak atik gatuk kebencian historis Islam dan barat telah terjadi 14 abad. Ada wacana besar yang disusun oleh komunitas Islam untuk mengganti kebudayaan, keyakinan, dan tradisi besar Eropa menjadi budaya padang pasir.

Kelompok anti Islam menyebut agama ini sebagai agama misoginis yang merendahkan perempuan, gemar berperang, dan haus darah. Seberapa keras intelektual Islam dan pejuang HAM menjelaskan bahwa HAM dan Islam tidak berseberangan, semua dibantah dengan generalisasi ISIS juga kriminalitas yang dilakukan oleh imigran muslim.

Makin membesarnya Pegida membuat para fasis bigot anti imigran muslim ini makin membesar di Eropa. Wroclaw, sebuah kota di Polandia telah mengumpulkan ribuan pendukung untuk melawan penyakit bernama imigran muslim yang diduga akan memperkosa anak anak Eropa. Mereka berteriak “God, Honor and Fatherland” dan mengintimidasi warga muslim di negara itu. Narasi serupa pernah terjadi pada Negro yang dilakukan oleh Fasis Itali, Yahudi oleh Fasis Nazi, dan kini dirasakan oleh pengungsi muslim.

Baca juga artikel terkait ISLAM atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti