12 Maret 1925

Bagaimana Sun Yat-sen Melahirkan Republik Cina dari Luar Negeri?

Sun Yat-sen. tirto.id/Nauval
Oleh: Felix Nathaniel - 12 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
Sun Yat-sen menghabiskan sebagian besar masa perjuangan sebagai pelarian di luar negeri. Ia lalu berhasil membebaskan Cina.
Waktu lahir ia bernama Sun Wen, tapi orang-orang marga Sun mengenalnya sebagai Sun Deming. Kadang-kadang ia kerap dipanggil Dixiang. Waktu pengasingan di Jepang dia memakai nama Zhong Shang Qiao kemudian juga dikenal sebagai Zhong Shan. Saat dibaptis, pria ini mendapat nama Rixin yang berarti “baru setiap hari” kemudian berganti ke Yixian. Entah berapa nama lagi yang ia punya, tetapi dunia paling akrab mengenalnya dengan nama Sun Yat-sen—pendiri Republik Cina dan orang yang paling ditakuti Dinasti Qing.

Qing adalah dinasti terakhir di Cina sebelum terbentuknya negara modern. Setidaknya ada dua peristiwa yang memicu kejatuhannya. Pertama adalah Pemberontakan Wuchang dan Revolusi Xinhai. Keduanya terjadi di tahun 1911, setahun sebelum berakhirnya Dinasti Qing pada 1912.

Sun adalah salah satu tokoh yang diwaspadai oleh Qing. Dia beberapa kali harus mengasingkan diri ke Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang untuk menyelamatkan diri. Nama yang dipakai juga bukan sekadar gaya, tapi untuk menyamarkan dirinya. Di Jepang, dia menamai diri Nakayama Kikori dan Takano Nagao. Nama Nakayama itu kemudian disebut Zhong San dalam pelafalan Cina. Nama ini kemudian menjadi populer dan kota kelahirannya, Xiangshan, mengubah nama kota tersebut menjadi Zhongshan.

Awal pelarian Sun dimulai saat dia mendirikan organisasi untuk reformasi Cina, Xingzhonghui atau Revive Cina Society, pada 1894. Usaha menyalakan api revolusi adalah dengan melakukan pemberontakan di Guangzhou pada 1895. Tapi usaha ini akhirnya gagal.

Keterlambatan pengiriman senjata membuat Sun memutuskan serangan harus ditunda. Dia mengirim telegram ke Hong Kong yang seharusnya diterima segera oleh pemimpin pasukan di Hong Kong, Yang Quyun. Namun Quyun yang terlambat mendapat kiriman itu tetap melaksanakan serangan yang akhirnya dapat dihentikan pemerintahan Qing. Sejak itu Sun menjadi buronan.

Sun berhasil menyepi sementara di Hong Kong, tetapi pemerintahan Hong Kong kemudian berjanji memberikan hadiah uang kepada siapapun yang berhasil menangkap atau membunuhnya. Xingzhonghui akhirnya bubar karena kurangnya kucuran dana dan sulit untuk merencanakan pemberontakan. Pada Oktober 1895 Sun memutuskan berlayar ke Jepang.

Lahirnya Revolusi

Tiada yang menyangka kepergian Sun ke Jepang adalah momen yang menjadikannya tokoh pembebasan Cina. Di Jepang, Sun membulatkan tekad bahwa Cina tidak hanya memerlukan reformasi, tapi juga mengganti sistem dinasti. Artinya, Cina memerlukan revolusi.

Setelah mendirikan kembali Revive Cina Society yang hanya beranggotakan 13 orang, Sun memutuskan pergi lagi ke Hawaii, di mana dia pernah dibaptis dan mengenyam pendidikan tentang kekristenan. Dari Hawaii dia kemudian bertolak ke London. Di sana lah Sun dibuntuti dan diculik oleh kekaisaran Cina atas bantuan Inggris.

Pada Oktober 1896 Sun tiba-tiba menghilang. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi. Ada yang bilang dia tiba-tiba dibekap di jalan, ada pula yang mengaku melihat Sun mendatangi sendiri kantor Kedutaan Cina di Inggris dan menyerahkan diri. Yang jelas, ketika sadar, Sun berada di penjara Kedutaan Cina. Ketakutan terbesarnya saat itu adalah dia akan dideportasi langsung ke Cina dan dihukum di sana karena usaha perlawanan pada pemerintah. Sun sendiri mendeskripsikan pemulangannya ke Cina tidak akan menjadi ekstradisi, tapi “penyelundupan”.

Teman Sun di Inggris, James Cantlie, segera mengambil tindakan mengumpulkan awak media dan menyebarkan penculikan tersebut. Hasilnya mujarab, kapal yang berangkat ke Cina diawasi dengan ketat dan Cantlie meminta kedutaan Inggris Sir Halliday Macartney yang membantu penculikan Sun agar membujuk Cina melepaskan tahanannya.

Dengan serbuan dari wartawan, masyarakat, dan Scotland Yard, kedutaan Cina akhirnya melepaskan Sun. Pembebasan dirinya dimanfaatkan dengan baik. Sun memberikan konferensi pers pada wartawan termasuk sejumlah wawancara. Sejarawan Perancis Marie-Claire Bergère dan Janet Lloyd dalam Sun Yat-sen (2000) menilai saat itulah media membuat “gambaran kepahlawanan” Sun Yat-sen.

Sun kemudian kembali ke Jepang dan bertemu dengan Toten Miyazaki yang kemudian membantunya agar pemerintah Jepang memberikan dana untuk perlawanan kepada Dinasti Qing. Dengan begini, Sun membangun ulang Revive Cina Society di Hong Kong.

Di tahun 1900, Sun juga pergi ke Taiwan untuk menambah bala bantuan jelang pemberontakan Huizhou. Sun bekerja sama dengan Triad di Hong Kong sebagai pasukan. Pada 9 Oktober pemberontakan berjalan. Sun siap mengirim senjata dari Taiwan ke Xiamen, titik kumpul pasukan tersebut. Hanya saja 10 hari kemudian, Dinasti Qing melarang Taiwan untuk melakukan kontak apapun dengan para revolusioner.

Usaha Sun lagi-lagi gagal dan pasukannya harus luntang-lantung di Xiamen menghadapi sergapan aparat Qing.

Tapi Sun tak menyerah. Lima tahun kemudian, dia membentuk aliansi Tongmenghui atau Aliansi Revolusioner Cina. Anggotanya terdiri dari berbagai pasukan revolusi, termasuk kelompok anti pemerintahan Qing, termasuk juga bekasan Revive Cina Society dan Guangfuhui yang dipimpin Cai Yuanpei.

Enam tahun Sun mengumpulkan sumber dana, persenjataan, menambah pasukan, dan beberapa kali mengarahkan pemberontakan, tiba-tiba saja satu kecelakaan menjadi pembuka jalan baginya dan pasukan revolusi. Bom yang sedang dirakit di sebuah rumah di Wuchang meledak dan menarik perhatian pihak keamanan Dinasti Qing. Momen ini memicu bentrokan dengan pasukan revolusi, padahal Sun saat itu sedang berada di Amerika, sibuk menggalang dana.

Hasilnya ternyata di luar dugaan. Pasukan revolusi malah berhasil menguasai Wuchang dan merebut dua kota lainnya di Wuhan. Inilah awal mulai kehancuran Dinasti Qing. Pemberontakan menjalar ke berbagai daerah dan pada Desember 1911, setelah 16 tahun lamanya, Sun berhasil kembali ke negerinya.

Sun Yat-sen terpilih menjadi pemimpin pemerintahan sementara Republik Cina untuk pertama kali. Namun dia sadar, kemenangan ini tidak akan ada tanpa jasa kawan-kawannya yang lain. Dia akhirnya memilih mundur pada 10 Maret 1912 dan menyerahkan jabatannya kepada Yuan Shikai.

Mungkin bagi Sun, yang penting adalah satu mimpi besarnya sudah tercapai lebih cepat dari dugaannya. Ketika dia di Inggris, satu kawan dari Rusia bertanya kepadanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menggulingkan Dinasti Qing, dia menjawab “30 tahun.”


Menyelamatkan Cina

Ketika berada dalam pengasingan, Sun Yat-sen sudah tak lagi berpenampilan layaknya orang Cina atau Manchurian. Dia memotong rambutnya yang panjang, menumbuhkan kumis dan jenggotnya, menyisir rambutnya secara rapi ke belakang dengan pomade. Dengan memakai setelan jas, dia kian tampak seperti orang Barat.

Sun sangat dihormati tidak hanya di Cina, tetapi juga di Hong Kong. Memang, dia menghabiskan sebagian besar usaha perlawanannya dari bekas wilayah koloni Inggris itu. Sun mengenyam pendidikan sekolah menengah dan kuliah di Hong Kong.

Pemerintah Hong Kong kemudian mengenang Sun dengan meresmikan dan membangun “Jejak Sejarah Sun Yat-sen.” Ada 13 tempat di mana pemerintah meletakkan papan informasi tentang Sun Yat-sen. Peresmian ini dilakukan pada November 1996 untuk memperingati 130 tahun hidup Sun. Mereka yang mengikuti peta Jejak Sejarah ini akan melihat penghargaan Hong Kong bagi Sun Yat-sen dari Universitas Hong Kong hingga toko buah di kawasan He Ji Zhan.

Padahal, selain mengusir secara tidak langsung Sun, Hong Kong juga pernah melarang Bapak Cina Modern itu untuk melakukan praktik kedokteran hanya karena pendidikan yang ditempuh di kampusnya tidak sesuai dengan kurikulum Inggris.

Sun akhirnya melakukan praktik kedokteran di Macau. Dia berhasil menggabungkan obat-obatan Barat dengan teknik pengobatan tradisional Cina. Salah satu kisah kesuksesannya adalah ketika mengobati pasien yang menderita penyakit ambeien. Pasien yang menderita penyakit selama 20 tahun itu hanya butuh tujuh hari untuk disembuhkan Sun.

Kan-wen Ma, seorang guru besar sejarah medis, menggambarkan Sun sebagai tokoh penyelamat dalam Sun Yat Sen (1866-1925), a Man to Cure Patiens and the Nation-his Early Years and Medical Career (1966). Menurut Kan-wen, Sun bukan hanya menyelamatkan pasiennya, tapi juga negeri Cina. Pada 12 Maret 1925, tepat hari ini 95 tahun lalu, Cina kehilangan seorang dokter sekaligus pendiri bangsa.

Baca juga artikel terkait CINA atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight