Misbar

Bagaimana Rosemary's Baby Memulai Tren Satanisme di Bioskop

Poster Film Rosemarys Baby. FOTO/Paramount Pictures
Oleh: Indira Ardanareswari - 1 Agustus 2020
Dibaca Normal 3 menit
Rosemary's Baby mengangkat satanisme ke layar perak. Sempat dituduh penistaan agama.
Film horor tentang sekte pemuja setan semakin banyak ditemui belakangan ini. Sebut saja The Babysitter (2017), Hereditary (2018), Midsommar (2019), dan yang teranyar Ready or Not (2019). Di Indonesia tema satanisme dibawakan dengan cukup meyakinkan mealui Pengabdi Setan (2017) yang diangkat oleh sutradara Joko Anwar dari film berjudul sama yang rilis tahun 1980.

Judul-judul yang telah disebutkan belum termasuk film-film kultus berbiaya rendah yang mengeksploitasi darah dan tubuh perempuan. Sejak dekade 1960-an, satanisme sudah diakui kekhasannya hingga terus direproduksi hingga kini. Film yang dianggap paling berpengaruh memulai tren semacam ini ialah Rosemary’s Baby arahan sutradara asal Polandia, Roman Polanski.


Kala pertama kali ditayangkan di New York City sekitar awal 1968, Rosemary’s Baby, langsung menarik beragam reaksi. Sebagian orang menilai film yang diangkat dari novel laris karya Ira Levin ini memuat gebrakan artistik dalam genre horor yang sebelumnya dianggap film murahan. Lainnya menganggap film ini sebagai bentuk penistaan agama. Dalam kata penutup terbitan ulang novelnya tahun 2003 yang dimuat di The Criterion Collection, Levin mengaku sempat mendapat protes dan teguran keras dari sebuah lembaga agama Katolik.

Horor Sosial yang Bikin Gelisah

Rosemary’s Baby menceritakan sepasang pengantin baru bernama Rosemary Woodhouse (Mia Farrow) dan suaminya Guy Woodhouse (John Cassavetes) yang baru saja pindah ke apartemen di sebuah kawasan elite di Kota New York. Rosemary adalah tipikal perempuan lembut, pemalu, dan sangat sensitif. Sementara, suaminya yang bekerja sebagai aktor terlihat lebih mengkhawatirkan karirnya yang mulai surut ketimbang kehidupan rumah tangganya.

Di sebelah unit apartemen Rosemary tinggal pasangan lansia bernama Minnie Castevet (Ruth Gordon) and suaminya, Roman Castevet (Sidney Blackmer). Minnie digambarkan sebagai nenek nyentrik yang cerewet tetapi sangat perhatian, sedangkan Roman terlihat perlente dan beperangai tenang. Keduanya sempat mengundang tetangga baru mereka menghadiri jamuan makan malam yang cukup membuat Rosemary kikuk semalaman.

Berbeda dari istrinya, Guy terlihat lebih nyaman berkomunikasi dengan Roman Castevet. Semenjak saat itu pula karir Guy menanjak drastis. Dia bahkan berhasil mendapatkan peran utama menggantikan aktor aslinya yang mendadak buta. Di tengah karir yang semakin stabil, tiba-tiba saja Guy mendesak Rosemary agar mereka segera memiliki anak.

Ketika Rosemary mengandung, serangkaian mimpi dan kejadian aneh yang serba kebetulan mulai menghantuinya. Perilaku ganjil yang ditunjukan suami, tetangga, dan dokter kandungan barunya yang bernama Abraham Sapirstein (Ralph Bellamy) serta-merta membuat Rosemary mencurigai semua orang. Dia pun mulai mengalami paranoia hingga mengira mereka sengaja bersekongkol hendak menumbalkan si jabang bayi dalam ritual penyembah setan.

Ira Levin pernah menulis bahwa “bagian paling menegangkan dari cerita horor adalah sebelum, bukan setelah ketakutan itu muncul.” Rosemary’s Baby hasil adaptasi Polanski pun nampaknya tetap meyakini gagasan asli Levin. Demi mendapatkan kesan nyata akan asal muasal rasa takut sang tokoh utama, Polanski dengan percaya diri mengawinkan horor dengan realisme.

Alih-alih memanfaatkan efek khusus untuk menghasilkan jumpscare atau adegan pengumbar darah, Polanski mencoba mengeksploitasi kegelisahan calon ibu muda di tengah kehidupan sosial daerah padat penduduk. Dalam sebuah adegan Rosemary digambarkan bermimpi tentang hal-hal aneh diiringi suara Minnie yang tengah mengomel kencang dari balik dinding apartemen yang sangat tipis. Dari sini, mimpi yang berkombinasi dengan rasa khawatir saat beradaptasi dengan lingkungan baru itu berubah menjadi ketakutan yang nyata.

Horor sosial bukanlah genre baru dalam perfilman Hollywood. Pada tahun 1954, Alfred Hitchcock pertama kali mengangkat manifestasi dari mimpi buruk para introvert ini ke dalam filmnya yang berjudul Rear Window. Lebih dari enam puluh tahun kemudian, sutradara Jordan Peele kembali mempopulerkannya lewat Get Out (2017) dan Us (2019) yang diganjar banyak penghargaan.


Bagi Rosemary, batas antara mimpi dengan kenyataan itu semakin kabur ketika ia melihat sesosok hitam bermata merah memperkosanya dalam tidur sambil disaksikan tetangga-tetangganya. Sosok yang digambarkan menyerupai iblis itu kemudian memainkan peran penting dalam memperburuk kondisi psikologis serta hubungannya dengan sang suami.

Dalam ketidakberdayaan Rosemary perlahan-lahan mulai kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Saat ia mulai berani memberontak tatkala mendapati kenyataan bahwa Roman Castevet adalah keturunan penyembah iblis, semua orang justru menganggapnya histeris. Bahkan, Guy dengan dinginnya menuduh sang istri terlalu banyak membaca buku tentang ilmu sihir.

Polanski secara efektif memperlihatkan kesan bahwa perasaan tidak aman justru bisa timbul dari lingkungan yang terlihat baik-baik saja. Dia dengan penuh percaya diri menyebut Rosemary's Baby mampu memberi kesan teror yang realistis karena kemalangan yang sama bisa terjadi kepada siapa saja.

“Film ini sangat realistis. Tidak ada hal-hal supranatural dan apapun yang terjadi di dalamnya bisa terjadi di kehidupan nyata,” kata Polanski kepada Vice dalam "Conversations Inside The Criterion Collection" (2014).

Roh Jahat sebagai Kenyataan Hidup

Menurut konteks zamannya, Rosemary’s Baby mencerminkan rasa takut akan dekandensi moral dan hilangnya fungsi agama dalam masyarakat tahun 1960-an. Rosemary sendiri pada awalnya mengaku sebagai penganut Katolik yang taat. Namun, seiring pergaulannya dengan keluarga Castevet, lama kelamaan dia menjauhi agamanya bahkan bersedia menyimpan jimat kalung pemberian Minnie.

Saat film ini dirilis, satanisme memang tengah menjadi perbincangan hangat di negara-negara Barat. Para musisi dengan semangat menulis lagu yang bertutur tentang kebangkitan iblis. Lainnya berusaha memperdebatkan gambaran paling akurat tentang ritual dan aktivitas sekte pemuja setan lewat film. Perayaan kebangkitan tema satanisme semakin lengkap dengan dibangunnya gereja pemuja setan di San Francisco tahun 1966.



Rosemary’s Baby pulalah yang di tahun-tahun berikutnya mengilhami pembuatan The Exorcist (1973) dan The Omen (1976). Keduanya sama-sama bertutur tentang kehadiran setan di tengah kehidupan manusia. Alih-alih membawakannya dalam wujud roh jahat, gambaran tentang setan itu dibawakan secara realistis lewat sosok manusia.

Nampaknya, hal ini pulalah yang menghantui Ira Levin di akhir hayatnya. Dalam kata penutup novelnya di tahun 2003, penulis Rosemary’s Baby ini bertutur seolah tengah memendam sesal. Dia bilang kemunculan tren film-film satanisme membuatnya punya kekhawatiran baru.

“Dua generasi anak muda telah tumbuh menjadi dewasa menyaksikan penggambaran setan sebagai kenyataan hidup […] jika saya tidak menuruti keinginan untuk menulis novel menegangkan hampir empat puluh tahun yang lalu, akankah ada cukup banyak fundamentalis agama di sekitar hari ini?” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Windu Jusuf
DarkLight