Bacha Bazi, Prostitusi Anak Terselubung di Afghanistan

Reporter: Akhmad Muawal Hasan, tirto.id - 13 Jul 2017 07:02 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Afghanistan punya tradisi menikmati tarian yang dibawakan oleh anak atau remaja laki-laki. Usai pertunjukan, mereka dibawa pemiliknya ke ruang privasi untuk melakukan hubungan yang bersifat seksual.
tirto.id - Sekitar 20 laki-laki paruh baya berkumpul di sebuah rumah di distrik Karte-Char, Kabul, yang dikenal sebagai lingkungan tempat tinggal kelas menengah Afghanistan. Ada yang minum minuman beralkohol, lainnya asyik menghisap ganja. Seorang lelaki terlihat gelisah saat memandang ke jalanan melalui jendela yang terbuka. Ia menunggu kedatangan remaja laki-laki yang akan menari dan menghibur mereka malam itu.

Mereka menunggu Hazara remaja penghibur yang usianya baru 16 tahun. Ia dijuluki “Si Cina” sesuai dengan wajahnya yang oriental. Para lelaki itu sudah beberapa kali menonton penampilannya di pesta lain. Sehari-hari diperlakukan bak artis dengan penjagaan lumayan ketat dari orang-orang suruhan pebisnis kaya yang memiliki Hazara bak sebentuk properti.

Ponsel salah satu penonton tiba-tiba berbunyi. Dari arah seberang seorang lain mengabarkan bahwa polisi telah menangkap Hazara saat sedang menari di sebuah pesta pernikahan. Apakah mereka sedih? Tidak. Mereka justru bercanda bagaimana remaja berparas menarik seperti Hazara akan diperlakukan oleh penghuni penjara lain.

Sebagaimana laporan Will Everett untuk Newsweek yang diterbitkan pada pertengahan awal 2015 lalu, mencari pengganti Hazara tak terlalu susah. Jelang tengah malam, tuan rumah mendatangkan penari baru, meski usianya tak semuda Hazara. Usianya terlihat jauh lebih tua, sekitar 40-an.

Para penonton tak terlalu mempermasalahkannya. Sang penari, yang kemudian diketahui bernama Kamal, menutup wajahnya dengan selembar kain. Ia memakai pakaian perempuan berwarna biru yang permukaannya dipenuhi lonceng kecil dan manik-manik gemerlap. Musik ditabuh, Kamal mulai menggerakkan tubuhnya. Penonton yang diam lambat laun mulai menepukkan tangannya sesuai irama lagu. Minuman beredar lagi, ganja dibakar kembali.

Usai pertunjukkan Kamal bercerita pada Everett bahwa ayahnya meninggal di kala usianya menginjak 14 tahun dan tinggal bersama teman keluarganya. Teman keluarganya itu adalah pria yang pada akhirnya memiliki diri Kamal dan menyeretnya ke dalam praktik bacha bazi.

“Aku adalah pangeran kecilnya. Tanganku dipegang saat kami di jalanan. Ia bilang ke orang-orang kalau aku adalah anak adopsinya,” ujarnya.

Perempuan Dilarang Menari

Secara etimologis, "bacha bazi" adalah istilah slang ini terdiri dari kata bacha (بچه ) yang berarti anak-anak dan bazi (بازی) yang berarti permainan, sehingga artinya kurang lebih "bermain bersama anak lelaki". Selain menari, tugas mereka adalah menemani si pemilik dalam aktivitas yang bersifat seksual.

Pada akhirnya, praktik ini kerap dijadikan sebagai ajang prostitusi anak terselubung yang berkaitan dengan praktik pornografi anak serta perbudakan seksual. Meski tak seluruhnya, dalam beberapa kasus ada remaja korban bacha bazi yang dijadikan kanal penyalur hasrat homoseksual sang pemilik, sementara yang lain bercampur dengan hasrat pedofilia.

Praktik bacha bachi dianggap sebagai rahasia umum. Aktivitas yang orang-orang tak pamerkan di muka umum namun sesungguhnya diketahui secara diam-diam, dan tak banyak yang mempermasalahkannya. Penyebabnya adalah anak-anak remaja seperti Kamal dan Hazara mendapat kehidupan yang layak bersama sang pemilik.

Sejak jatuh ke dalam konflik berkepanjangan, ekonomi Afghanistan juga remuk redam. Anak-anak dari keluarga miskin tumbuh di jalanan, dan mau bekerja apapun demi sesuap nasi. Kondisi inilah yang dimanfaatkan para pembesar dan pecinta bacha basi untuk merekrut penari-penari baru. Caranya dengan berkeliling kota dan menawarkan profesi tersebut ke para remaja pengangguran yang nongkrong di tepi jalan.

Anak lelaki dipilih sebab ada aturan yang melarang perempuan untuk terlibat dalam aktivitas menari atau ekspresi kesenian lain di ruang publik. Sejumlah literatur mencatat praktik ini sesungguhnya telah merentang jauh dalam peradaban masyarakat Afghanistan, sebagian Pakistan, dan wilayah-wilayah di Asia Tengah.

Negara sebenarnya melarang praktik bacha bazi baik secara hukum sipil maupun hukum syariah. Namun penegakannya di lapangan bisa dikatakan nol besar. Ini dikarenakan para penikmat maupun orang-orang yang memiliki remaja-remaja itu banyak yang merupakan pejabat pemerintahan lokal dan juga anggota kepolisian. Organisasi kemanusiaan lokal dibuat pusing olehnya.

Infografik Bacha Bazi


Diminati Para Mantan Komandan Perang

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan Digital Journal, praktik bacha bazi tumbuh subur di wilayah utara Afghanistan. Para pelakunya yakni para mantan komandan milisi Aliansi Utara (Northern Alliance) yang (merasa) masih berkuasa dengan menenteng senjata yang dulu dibawa ke medan perang.

Salah seorang mantan komandan mujahidin yang bertanggung jawab untuk wilayah Kunduz berkata bahwa cara perekrutan penari bacha bazi kerap dibumbui penipuan. Iming-iming uang dan kehidupan yang layak membuat korban menurut dibawa pelaku, dan mereka tak bisa lepas dari cengkeraman si pelaku meskipun diberi tahu akan dijadikan penari. Jika mereka ngotot tak mau menari, si pemilik akan memukulinya dengan tongkat panjang.

“Kami mesti melakukannya, kan kami sudah mengeluarkan banyak uang untuk mereka. Mereka wajib menari,” imbuhnya.

Seorang narasumber anonim lain yang juga mantan komandan Aliansi Utara berkata pada IRIN News bahwa dirinya menyimpan seorang anak sejak usia 14 tahun selama dua tahun lebih. Ia tak menggajinya namun memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya yang kurang lebih di kisaran $300-400 per bulan.

“Ada dua jenis anak laki-laki: mereka yang bisa menari bagus dan disimpan untuk kepentingan hiburan, dan mereka yang tak bisa menari dan disimpan hanya untuk hubungan seksual. Kalau aku sih nyimpan buat seks,” katanya.

Memiliki remaja penari sering dijadikan ukuran prestise bagi pemiliknya. Saat sedang ada acara kumpul-kumpul, sang pemilik akan membawa anak-anak penarinya dengan dandanan semenarik mungkin. Kadang mereka juga dibawa saat si pemilik pergi ke luar rumah. Digandeng dan diperlakukan layaknya properti, seakan ingin menunjukkan ke dunia betapa si pemilik sangat beruntung mempunyai si anak tersebut.

Ada usia-usia tertentu saat si anak akan dilepas. Ada yang dilepas saat memasuki usia 20-an, ada juga yang berpatokan ketika si remaja mulai tumbuh bulu kumis atau bulu jenggot. Nasib ke depannya tak selalu jelas. Ada yang ditelantarkan begitu saja, ada yang dapat pekerjaan baru, ada juga yang menjadi pemilik remaja-remaja penari baru, sebagaimana mantan pemiliknya dulu.

Kasus Kamal memang istimewa. Ia masih diberi kesempatan untuk menjadi penari karena memang ia punya keahlian menari yang cemerlang, sesuatu yang tak dimiliki penari remaja lain yang kadang hanya menjual tampang dan usia muda. Bisnis bacha bazi selalu cerah di Afghanistan. Ia boleh jadi punya bayaran lebih rendah dibanding para penari remaja, namun soal kualitas tarian ia masih bisa diandalkan.

Tak semua pria dewasa mampu untuk memiliki remaja penari, dalam laporan The Guardian, masyarakat biasa sering membeli CD maupun DVD yang berisi tarian-tarian dalam ritual bacha bazi. CD/DVD bajakan, tentu saja, yang banyak dijual di pinggiran jalanan Kabul. Di warung-warung para pria duduk menikmati isi CD/DVD yang diputar di televisi sambil menikmati segelas teh. Pemandangan yang biasa dijumpai sehari-hari.

Taliban Menentang Paling Keras

Rezim Taliban paling keras dalam melarang praktik bacha bazi atas dasar pelanggaran syariat Islam sebab mengandung unsur homoseksualitas. Para pelanggarnya bahkan diancam hukuman mati.

Usai kekuasaan Taliban berakhir, merujuk laporan Pusat Informasi Regional untuk Eropa Barat PBB (UNRIC), praktik bacha bazi yang dulunya hanya dilaksanakan di beberapa daerah kini meluas ke lebih banyak tempat. Dua tahun lalu, misalnya, bacha bazi kian mudah ditemukan di Provinsi Takhar dan sisa wilayah utara Afghanistan, demikian kata komisioner hak anak di Afghanistan Independent Human Rights Commission (AIHRC), Suraya Subhrang.

Pada 2009 PBB mencoba untuk menyadarkan orang-orang atas isu ini. Sayangnya, upaya ini menghadapi kendala dalam penerapannya di Afghanistan. Di satu sisi masyarakatnya sangat konservatif di mana hubungan heteroseksual sangat dikontrol melalui perkawinan dan homoseksual dianggap tabu, akan tetapi di sisi lain praktik bacha bazi telah mengakar kuat dalam tradisinya.

Isu ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Afghanistan sebab berkaitan dengan masa depan anak-anak Afghanistan. Apalagi ada stigma yang melekat bagi korban kekerasan seksual yang akan membuat mereka tak mampu menjalani kehidupan selanjutnya dengan layak. Dalam beberapa kasus, yang ditangkap justru para korban, bukan pelaku.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN TERHADAP ANAK atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight