tirto.id - Teknologi automatic landing system atau autoland sudah dipasang di sejumlah pesawat. Sistem ini memungkinkan pesawat untuk bisa mendarat sendiri tanpa pilot alias melakukan pendaratan secara otomatis.
Sistem autoland sepenuhnya mengotomatiskan fase pendaratan penerbangan pesawat. Namun, sistem ini juga mengharuskan awak untuk mengawasi proses tersebut.
Seorang pilot, mengutip laman SKYbrary, berperan sebagai pengawas selama tahap akhir pendekatan. Ia hanya akan campur tangan jika terjadi kegagalan sistem atau keadaan darurat. Setelah mendarat, pilot mengarahkan pesawat keluar dari landasan pacu ke lokasi parkir.
Sistem dirancang untuk memungkinkan pendaratan dalam kondisi meteorologi yang terlalu buruk sehingga bisa melakukan pendaratan visual (visual landing) dalam bentuk apa pun.
Memahami Autoland & Perkembangan Teknologinya
Sistem autoland menggabungkan berbagai komponen dan sistem pesawat terbang. Di antaranya mencakup autopilot, autothrust, altimeter radio, dan kemudi roda depan. Sistem ini memungkinkan pesawat melakukan pendaratan otomatis.
Sebagaimana dijelaskan di laman Deffort Airfield Heritage Group (DAHG), pendaratan otomatis atau automatic landing merupakan kemampuan pesawat untuk terbang menuju lapangan terbang, melakukan pendekatan akhir, dan mendarat di landasan pacu, tanpa campur tangan manusia. Dengan kata lain, pilot tidak perlu mengendalikan pesawat.
Sistem automatic landing memungkinkan pesawat untuk mendarat dengan aman dalam kondisi jarak pandang buruk atau cuaca buruk, meski sistem ini sebetulnya dapat digunakan dalam kondisi apa pun. Kondisi cuaca buruk lebih berbahaya bagi pilot untuk melakukan pendaratan manual.

Teknologi autoland bukan hal baru. Tercatat, pendaratan otomatis secara penuh pertama kali dilakukan pada 16 Januari 1945 di Royal Air Force (RAF) Defford dengan menggunakan Boeing 247-D, DZ203. Saat itu, sistem pendaratan tengah dikembangkan selama tahun 1940-an.
Sistem yang dikembangkan bertujuan membantu pilot dalam melakukan pendekatan pendaratan dengan kondisi buruk, yakni Beam Approach Beacon System (BABS). Tahun 1945, pengembangan sistem pendaratan otomatis dialihkan ke Blind Landing Experimental Group (BLEU) di RAF Woodbridge
Tanggal 4 November 1964, sistem pendaratan otomatis digunakan untuk pertama kali pada penerbangan komersial. Tepatnya ketika Kapten Eric Poole mendaratkan pesawat British European Airways Trident di Bandara Heathrow, dengan jarak pandang 40 meter.

Cara Kerja Sistem Autoland Pesawat
Otomatisasi bisa mengurangi beban kerja pilot dan meningkatkan keselamatan penerbangan, sebagaimana dijelaskan di laman Australian Transport Safety Bureau (ATSB). Kendati begitu, awak penerbangan perlu selalu memperhatikan kinerja sistem penerbangan otomatis.
Ketika berada di bawah kendali otomatisasi, awak penerbangan harus memantau jalur penerbangan dan memverifikasi bahwa perilaku pesawat konsisten dengan mode dan parameter otomatisasi yang dipilih. Apabila ada ketidaksesuaian, otomatisasi harus dimatikan atau tingkat otomatisasi dikurangi hingga kendali dipulihkan.
Mengutip jurnal karya Mickaël Causse, dkk. (2025) berjudul “Impact of Automation Level on Airline Pilots’ Flying Performance and Visual Scanning Strategies: A Full Flight Simulator Study”, pesawat modern menawarkan fleksibilitas kepada pilot untuk memilih tingkat otomatisasi yang sesuai dengan preferensi mereka.

Sistem penerbangan otomatis mengintegrasikan pengarah penerbangan (sistem panduan untuk pilot pada penerbangan manual atau autopilot), autopilot (sistem otomatis yang mengontrol permukaan kontrol penerbangan untuk mengikuti pengarah penerbangan), serta autothrust (sistem yang mengatur daya dorong mesin secara otomatis).
Saat sistem penerbangan otomatis diaktifkan sepenuhnya, pesawat bisa mengambil alih seluruh jalur penerbangan. Maka, pilot hanya bertugas memantau parameter penerbangan.
Sesuai dengan penjelasan di laman SKYbrary, pilot harus memprogram sistem manajemen penerbangan alias flight management system (FMS), atau menyetel alat bantu radio yang sesuai. Kemudian, pilot juga perlu mengkonfigurasi pesawat untuk pendaratan dan mengaktifkan sistem autopilot dan autothrust.
Sistem autoland kemudian memberikan input ke kontrol penerbangan pesawat dan menyesuaikan pengaturan daya mesin guna mempertahankan profil pendekatan yang dibutuhkan. Lalu, mendaratkan pesawat dengan aman tanpa intervensi pilot.

Apa yang Dilakukan Pilot saat Autoland Bekerja?
Dalam penerbangan otomatis, pilot hanya bertugas memantau parameter penerbangan. Sesuai dengan penjelasan ditulis Causse, dkk. (2025), pilot mengambil peran pengawasan. Sistem penerbangan otomatis menangani tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan oleh pilot manusia.
Meski begitu, pilot masih dapat mengambil kendali manual pesawat. Mereka juga bertanggung jawab secara aktif memanipulasi kontrol penerbangan untuk mengelola jalur penerbangan pesawat.
Dalam situasi kendali manual, pilot memiliki kemungkinan untuk mengaktifkan beberapa tingkat panduan penerbangan, baik dengan pengarah penerbangan, otomatisasi atau autopilot, maupun autothrust.

Ketika melakukan operasi pendaratan otomatis, melansir laman Federal Aviation Administration (FAA), pilot harus memastikan bahwa landasan pacu, prosedur terkait, sumber navigasi, dan infrastruktur lainnya tidak memiliki Notice to Airmen (NOTAM) atau catatan peta yang belum terselesaikan dan berpotensi menghalangi operasi autoland.
Selanjutnya, pilot harus memberitahu Air Traffic Controller (ATC) atau Pengatur Lalu Lintas Udara bahwa akan melakukan pendaratan otomatis. Pilot juga harus tetap waspada terhadap kinerja sistem yang tidak sesuai dan siap menonaktifkan sistem pendaratan otomatis jika perlu.
Namun, tingkat otomatisasi autoland berkaitan dengan kewaspadaan pilot. Studi yang dilakukan Causse, dkk. (2025) menyebut, tingkat otomatisasi yang lebih tinggi meningkatkan kinerja penerbangan dan mengurangi beban kerja mental, tapi dikaitkan dengan penurunan kewaspadaan terhadap instrumen utama.
Tanpa kesadaran yang tepat tentang parameter penerbangan utama, pilot sulit mengambil alih kendali dari otomatisasi jika diperlukan saat menghadapi situasi bahaya atau malfungsi sistem.
Pemantauan pilot merupakan elemen kunci keselamatan penerbangan. Mereka jauh lebih sedikit terpengaruh oleh tingkat otomatisasi dan mempertahankan tingkat perhatian yang lebih tinggi pada instrumen utama penerbangan.
Artinya, pilot harus tetap waspada untuk tahu kapan harus menonaktifkan otomatisasi dan mengambil alih kendali jika menghadapi situasi berbahaya. Meski dimudahkan dengan pendaratan otomatis, pilot harus tetap memantau instrumen utama dalam penerbangan.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id
































