Asal Bapak Senang, dari Band Cakrabirawa hingga Mental Penjilat

Presiden Indonesia Sukarno, kiri, dan Letnan Jenderal Suharto, kanan, ditunjukkan bersama ketika mereka menghadiri upacara militer di Jakarta pada pertengahan Oktober 1965. FOTO/AP
Oleh: Petrik Matanasi - 14 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Resimen Cakrabirawa membentuk band bernama Asal Bapak Senang (ABS) untuk mengiringi pesta yang kerap digelar Sukarno di istana.
Sukarno suka musik dan menari. Ia pernah punya ajudan bernama Nelson Tobing yang pandai bernyanyi, saudara dari penyanyi Gordon Tobing. Tari kesukaan Sukarno adalah tari lenso yang merupakan tarian muda-mudi dari daerah Maluku dan Minahasa.

“Ia (Sukarno) memilih tari lenso sebagai saluran pergaulan,” kata salah satu mantan ajudannya, Bambang S. Widjanarko dalam Sewindu Dekat Bung Karno (1988:83). Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Haword Jones, pernah ikut tari lenso bersama Sukarno beserta istrinya.

Untuk mengiringi tarian kesukaan Sukarno yang sering digelar di istana, Resimen Cakrabirawa pengawal Sukarno membentuk sebuah band bernama Asal Bapak Senang (ABS).

“Istilah tersebut suci murni, tidak mengandung muatan politik sedikit pun. Band kami menjadi tersohor karena singkatan ini. Satu-satunya band yang dapat mengikuti kehendak Bung Karno hanya band polisi pengawal pribadi Sukarno,” kata Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian tentang Bung Karno, 1945-1967 (1999:133).

Setelah peristiwa G30S, kekuasaan Sukarno mulai goyah, nasib ABS dan Cakrabirawa pun redup. Nama "Asal Bapak Senang" kemudian dijadikan istilah untuk menggambarkan sikap menjilat, mental bawahan yang doyan menyenangkan atasan dengan pamrih. Mahasiswa angkatan '66 yang ikut menjatuhkan Sukarno kerap menuduhkan mentalitas seperti itu kepada era Orde Lama.

Soe Hok Gie misalnya, seperti dicatat John Maxwell dalam Mengenang Seorang Demonstran (1999) dan dalam Soe Hok Gie Sekali Lagi (2009), mahasiswa Fakultas Sastra UI itu menilai orang-orang di sekeliling Sukarno sebagai korup dan culas. Sementara politisi terkemuka dan pimpinan partai dianggap tidak lebih dari penjilat bermental ABS yang suka yes men.

Meski istilah ABS mulai populer setelah 1960-an, namun sikap ABS bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Sikap ABS yang feodal ini menurut Mochtar Lubis dalam Situasi dan Kondisi Manusia Indonesia Kini (1977:19), “telah berakar jauh ke zaman dahulu, ketika tuan feodal Indonesia merajalela di negeri ini, menindas rakyat dan memperkosa nilai-nilai manusia Indonesia.”

Tuan feodal ini bisa berupa tuan tanah atau raja-raja. Di masa lalu, para tuan feodal selalu dibisiki kabar baik--yang benar terjadi atau hanya dibuat-buat--agar si abdi terhindar dari kemarahan. Mereka juga kerap dilayani sebagus-bagusnya agar abdi-abdi yang melayaninya disayangi si tuan feodal.

“Bung Karno, jatuh antara lain: karena sanjungan orang-orang di sekitarnya yang membuat laporan asal bapak senang,” kata Probosutedjo, adik daripada mantan presiden Soeharto, dalam Kesaksian Sejarah H. Probosutedjo: Runtuhnya Pemerintahan Bung Karno-Pak Harto, B.J. Habibie-Gus Dur (2001).


ABS Gaya Orde Baru

Sikap ABS nyatanya bukan hanya terjadi di era Orde Lama seperti yang ditudingkan para mahasiswa angkatan '66. Mental penjilat ini seperti ditulis Mubyarto dalam Politik Pertanian dan Pembangunan Pedesaan (1983:19) adalah sesuatu yang “tidak pernah pudar di Indonesia, baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru.”

Hartono Rekso Dharsono, mantan Panglima Kodam Siliwangi yang dimusuhi Orde Baru tapi disegani banyak perwira kritis, mengatakan dalam Menuntut Janji Orde Baru: Pleidooi Terdakwa H.R. Dharsono (1986:25), bahwa mental ABS sudah membudaya di Indonesia.


Di era Orde Baru, sosok yang paling banyak mendapat cap ABS adalah Harmoko. Mantan Menteri Penerangan ini ikut membangun citra pemerintahan Soeharto dengan pelbagai acara legendaris seperti Klompencapir dan Safari Ramadan. Dalam buku Golkar Retak? (1999:40) Harmoko disebut sebagai orang yang targetnya hanya ABS dan sangat tergantung ke atas.

Membuat senang atasan, dengan atau tanpa cap ABS, sejatinya tak hanya dipraktikkan oleh Harmoko, tapi dilakukan juga oleh banyak pejabat Orde Baru. Dengan caranya caranya masing-masing, mereka berusaha membuat senang Soeharto. Jika tidak, karier mereka bisa gawat.


Saking sudah begitu lumrah, menurut catatan Kees Bertens dalam Sketsa-sketsa Moral: 50 Esai tentang Masalah Actual (2004:35) singkatan ABS sudah masuk dalam daftar akronim Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sejak edisi 1988.

Baca juga artikel terkait CAKRABIRAWA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight