Aprindo: Penutupan Toko Ritel akan Berlanjut Hingga 2020

Oleh: Antara - 5 Desember 2019
Hampir semua perusahaan ritel, terutama anggota Aprindo, tengah melakukan daur ulang bisnis mereka agar bisa mengikuti perkembangan zaman.
tirto.id - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan sejumlah peritel masih akan melakukan penutupan toko atau relokasi sebagai upaya efisiensi hingga tahun 2020. Para peritel masih harus melakukan penyesuaian terkait anomali di industri ritel.

“Masih akan ada pengaturan-pengaturan, efisiensi. Jadi penutupan toko itu lebih kepada efisiensi karena mengikuti perubahan anomali yang sedang dilakukan perusahaan ritel itu, relokasi dan sebagainya,” kata Ketua Umum Aprindo Roy Mandey di Jakarta, Rabu (4/12/2019), seperti dilansir dari Antara.

Roy menuturkan anomali bisnis masih terjadi di sektor tersebut. Ia menyebut hampir semua perusahaan ritel, terutama anggota Aprindo, tengah melakukan daur ulang bisnis mereka agar bisa mengikuti perkembangan zaman.

Akibat anomali ini, Roy mengaku pertumbuhan bisnis ritel pun mengalami perlambatan menjadi hanya sekitar 5,07 persen tahun ini, jauh di bawah level yang seharusnya bisa mencapai 12-14 persen.

“Dengan pengaturan-pengaturan bisnis model atau juga menjadikan toko ritel ukurannya jadi lebih kecil, pemilihan produk yang sesuai kemauan konsumen, itu semua bagian dari anomali itu,” katanya.

Roy menuturkan pertumbuhan bisnis ritel yang rendah itu berasal dari perlambatan konsumsi, bukan daya beli. Ia menilai masyarakat masih memiliki daya beli tinggi, terlebih jika dilihat dari masih ramainya pusat perbelanjaan atau kuliner.

“Masyarakat masih punya uang, membelanjakan uang masih kuat, tapi mereka memindahkan uang yang tadinya untuk berbelanja ke kuliner, gaya hidup atau leisure (hiburan),” katanya.

Roy berharap, momentum libur akhir tahun, yakni Natal dan Tahun Baru akan dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan bisnis ritel. Peritel juga akan memanfaatkan momentum tersebut dengan memberikan penawaran berupa diskon agar animo belanja masyarakat bisa ditingkatkan.

“Natal dan Tahun Baru itu biasanya berkontribusi sekitar 35-40 persen dari target kami, karena akhir tahun identik dengan bonus tahunan, liburan, kumpul keluarga jadi tentu ada peningkatan konsumsi. Kita akan maksimalkan (momentum) ini,” katanya.


Baca juga artikel terkait RITEL atau tulisan menarik lainnya Antara
(tirto.id - Bisnis)

Sumber: Antara
Penulis: Antara
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight