Anime Dr. Stone: Ketika Manusia Membatu, Apakah Kata Sains?

Poster anime Dr. Stone. FOTO/cdjapan.co.jp/product/TBR-29210D
Oleh: Ahmad Zaenudin - 25 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Bisakah manusia hibernasi?
Cinta bagai ular tangga. Langkah yang benar membawanya pada kebahagiaan. Sebaliknya, langkah yang salah sanggup mengubah cinta menjadi benci. Siswa SMA pecinta sains bernama Taiju Oki mengamininya. Karena tidak mau sang pujaan hati (Yuzuriha Ogawa) membencinya, Taiju memilih memendam rasa. Bertahun-tahun lamanya.

Tapi, suatu ketika keberanian itu muncul. Selepas berdiskusi dengan temannya sesama pecinta sains, Senku Ishigami, Taiju mendatangi Yuzuriha.

“Dengarkan aku,” kata Taiju sembari memandang paras Yuzuriha.

Sialnya, belum sempat kalimat “selama lima tahun aku selalu … “ selesai diucap Taiju, cahaya berwarna hijau datang menyelimuti. Seketika, si pujaan hatinya, Senku, dan semua orang yang ada di dunia, tidak bisa bergerak. Tubuh manusia yang dilapisi kulit entah berwarna putih, hitam, atau sawo matang, membatu.

Pada 5 Oktober 5738, atau lebih dari 3.700 tahun berlalu, tubuh Taiju kembali bergerak setelah kotoran Kelelawar yang mengandung asam nitrat merontokkan batu yang menyelimuti tubuhnya. Versi Taiju, rasa batin ingin mengucap cinta pada Yuzuriha-lah yang membangunkannya. Sedihnya, ketika dapat kembali bergerak, hanya Senku sebagai sosok lain satu-satunya yang terbebas dari belenggu batu.

Taiju dan Senku lalu berjanji mengembalikan semua orang, khususnya Yuzuriha, juga dunia yang telah membantu, kembali ke keadaan semula.

Dr. Stone, seri anime yang menaungi kisah Taiju dan Senku, diadaptasi dari komik berjudul serupa karya Riichiro Inagaki. Kisah berjudul lain Dokutā Sutōn ini kali pertama muncul pada edisi ke-14 majalah komik mingguan Shōnen Jump, 6 Maret 2017. Lantas, melalui sutradara Shinya Lino, TMS Entertainment membawanya ke dunia animasi untuk ditayangkan pertama kali pada 5 Juli 2019. Di Jepang, Dr. Stone dapat disaksikan melalui Netflix dan menjadi tontonan anime nomor delapan terpopuler. Untuk pasar global, ia dapat disaksikan secara legal melalui Crunchyroll.

Dr. Stone merupakan kisah fiksi ilmiah, mencampur-baurkan khayalan dengan sains. Jauh sebelum populer di medium film, kisah-kisah fiksi ilmiah populer awalnya muncul di novel-novel Jules Verne. Di ranah anime, selain Dr. Stone, tema ini dibawakan secara apik melalui Doraemon.

Fiksi ilmiah memang sering disepelekan dan dianggap mengada-ada. Tengok “Pintu Kemana Saja” milik Doraemon. Ketika Fujiko Fujio membawa mimpi soal pintu ajaib berwarna pink itu ke khalayak pada 1969 (tahun pertama kali Doraemon muncul dalam bentuk manga), tidak akan ada manusia di dunia yang percaya ada alat yang bisa melakukan teleportasi begitu mudahnya. Namun, kini, sebagaimana dilaporkan Science Alert, fisikawan dari University of Bristol, Inggris, sukses melakukan teleportasi informasi dari dua chip berbeda yang berjarak berjauhan.

Capaian fisikawan itu bukan tentang, katakanlah, file .pdf di komputer A diunduh via internet oleh komputer B. Perpindahan terjadi berkat fenomena kuantum bernama “quantum entanglement” alias “keterkaitan kuantum.” Sederhananya, ketika benda A dimodifikasi, seketika benda B, yang terhubung dengan fenomena ini, akan ikut berubah meskipun jarak antara A dan B sangat jauh.

Bingung? Santai saja. Toh Albert Einstein, yang pernah dicap sebagai orang paling jenius di dunia, bingung juga dan menyebut fenomena kuantum ini “spooky at a distance”.

Lantas, bagaimana dengan Dr. Stone dengan kisah membatunya semua manusia di muka bumi yang kembali normal ribuan tahun kemudian?

Hibernasi

Tentu saja kisah manusia membatu dan hidup lagi selepas ribuan tahun berlalu belum pernah terjadi di dunia nyata. Kecuali, jika Anda percaya dongeng Malin Kundang.

Namun, kisah yang mirip betul-betul ada, yakni tentang tikus, kolibri, landak, lemur kerdil, dan terutama beruang yang mengalami tidur panjang alias hibernasi. Fenomena ini dapat terjadi manakala tubuh masuk dalam fase torpor atau mati suri.

A. Chouker, dalam “Hibernating Astronauts: Science or Fiction?” (2018) yang terbit pada European Journal of Physiology, menyebut bahwa torpor, yang berasal dari “torpeo” alias “kaku”, merupakan pondasi utama bagi hibernasi. Torpor terjadi manakala aktivitas fisiologi tubuh tereduksi, hingga menyebabkan metabolisme yang menurun, suhu tubuh yang menurun, hingga detak jantung yang menurun.

Vladyslav Vyazovskiy, dosen neurosains di Universitas Oxford, menyebut hewan mengalami torpor dengan cara mengurangi fungsi tubuh seminimal mungkin dan menggunakan simpanan lemak dalam tubuh untuk tetap menghasilkan energi. Beberapa hewan, seperti tikus dan burung kolibri, memasuki keadaan torpor setiap hari, ketika mereka perlu menghemat energi. Yang lain, seperti landak dan beruang, melakukannya dalam waktu yang panjang, biasanya selama musim dingin.

Lebih jauh, selama hibernasi, detak jantung anjlok, kandungan nitrogen dalam darah meningkat drastis, dan tubuh sangat sensitif pada insulin. Dilaporkan The New York Times, jika terjadi pada manusia, hibernasi akan berakhir dengan diabetes, obesitas, keropos tulang, hingga terhentinya perkembangan otot.



Masalahnya, Vyazovskiy menulis, “Mamalia besar seperti beruang dan bahkan primata seperti lemur kerdil berekor dari Madagaskar, dapat berhibernasi. Secara teoritis manusia seharusnya bisa.”

Secara umum, hibernasi dan fenomena klinis hipotermia tidak terlalu jauh berbeda. Chouker menyatakan bahwa untuk membuat manusia berhibernasi, salah satu cara yang bisa ditempuh adalah menurunkan suhu tubuh dan memancing hipotermia secara terukur. Rata-rata, suhu tubuh manusia berada di angka 37 derajat Celcius. Dengan menurunkan ke angka 35 atau bahkan 32 derajat Celcius misalnya, orang dapat menurunkan metabolisme dan menambah ketersediaan homeostasis dalam tubuh.

Proses membuat hibernasi pada manusia dilakukan dengan mengurangi kadar Ca2+ atau ion kalsium pada tubuh. Ca2+, penting untuk kontraksi otot, aktivasi oosit, membangun tulang dan gigi yang kuat, pembekuan darah, impuls saraf, transmisi, mengatur detak jantung dan keseimbangan cairan dalam sel.

Hipotermia terkontrol sudah banyak digunakan dalam praktik klinis, seperti selama operasi jantung, untuk melindungi jaringan dari kerusakan ketika aliran darah berkurang, seperti setelah stroke. Namun, hipotermia terkontrol yang mengarah pada hibernasi pada manusia belum pernah ada. Padahal, di tengah impian manusia untuk dapat menginjak kaki di Mars dan melakukan perjalanan ala film Interstellar, hibernasi penting dilakukan.

Selain hibernasi, kisah yang mirip-mirip Dr. Stone di dunia nyata dilaporkan Vice, 13 Januari lalu. Dalam laporan itu, ilmuwan dari Amerika Serikat dan Cina sukses menemukan virus kuno yang terperangkap dalam es gletser, yang menutupi Dataram Tibetan 15.000 tahun lalu. Ketika es menjebak, banyak bentuk kehidupan mungil mati, dan genomnya perlahan-lahan menurun.

Penemuan virus yang terperangkap dalam lapisan es sangat mengkhawatirkan di tengah-tengah perubahan iklim. Pada 2016, misalnya, lebih dari 2.000 rusa mati dan sekitar 96 manusia harus dirawat disebabkan oleh permafrost, tanah yang berada di titik beku, menghangat dan menyebabkan spora anthrax hidup kembali.

Fiksi ilmiah tetaplah fiksi. Namun, jika dilihat lebih jauh, fiksi ilmiah mempengaruhi dua entitas berbeda; fiksi dan sains. Terkadang, temuan-temuan sains dijadikan rujukan menciptakan karya fiksi. Di lain waktu, karangan-karangan fiksi menginspirasi temuan-temuan sains. Misalnya, Robert H. Goddard, seorang penemu roket berbahan bakar cair, menciptakan barang temuannya karena terinspirasi oleh novel karangan H.G. Wells berjudul War of the World (1898).


Begitu pula dengan Kinect yang menurut laporan The Guardian terinspirasi oleh film 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubrick (1968). Bahkan “The Communicator” yang digunakan Captain Kirk dalam serial Star Trek (1966) bisa dianggap sebagai “cikal bakal” sebuah perangkat yang hari ini kita kenal dengan sebutan telepon seluler.

Sebagaimana dikutip dari laman Smithsonian, peneliti Sophia Brueckner mengatakan, “Pengarang fiksi menjajaki tema-tema sains dengan kedalaman yang luar biasa. Membaca karya-karya itu terasa sama pentingnya seperti membaca makalah riset.”

Baca juga artikel terkait ANIME atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight