Menuju konten utama

Ahmad Dhani: Yang Tidak Datang Reuni 212, Bisa Didikte Pemerintah

Ahmad Dhani menyebut orang yang tidak datang di Reuni 212 termasuk golongan yang bisa didikte pemerintah. " Ini prediksi saya," terang Dhani.

Ahmad Dhani: Yang Tidak Datang Reuni 212, Bisa Didikte Pemerintah
Tersangka kasus ujaran kebencian, Ahmad Dhani, didampingi penasehat hukumnya Ali Lubis tiba untuk menjalani pemeriksaan di Polres Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (30/11/2017). ANTARA FOTO/Reno Esnir

tirto.id - Musisi Ahmad Dhani menyebut gerakan persatuan umat Islam belakangan ini akan membuat masyarakat terbelah antara yang pro dan kontra pemerintah. Menurut dia, sikap pro dan kontra pemerintah itu bisa tergambar dari keikutsertaan dalam acara peringatan satu tahun aksi 2 Desember 2016 lalu saat menuntut Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dituntut dalam kasus penistaan agama.

"Kalau saya sih (berpendapat) pasti terbelah. Ini umat Islam yang tidak bisa didikte oleh penguasa. Yang tidak datang ini yang bisa didikte. Ini prediksi saya," terang Dhani usai menghadiri Reuni 212 di Monas Jakarta pada Sabtu (2/11/2017) siang.

Dhani berharap Reuni 212 bisa menjadi acara tahunan bagi umat Islam untuk urun andil dalam suara politik. "Dan saya rasa ini adalah reaksi. Kalau dibilang aksi ini kurang setuju. Ini reaksi dari apa yang dialami umat Islam dua tahun terakhir," kata Dhani.

Dalam acara Reuni 212 yang dimulai pada dini hari dengan bershalawat bersama sejak pukul 03.00 WIB ini, Dhani terlihat berpartisipasi di atas panggung dengan menyanyikan mars Aksi Bela Islam. Namun, Dhani tidak memberikan pidato orasi seperti para ulama atau pun politikus lainnya, seperti Slamet Maarif, Fahri Hamzah, Amien Rais, dan Fadli Zon.

Untuk datang ke acara ini, Dhani mengungkapkan sempat ada rasa traumatik lantaran pada aksi 411 saat dirinya memberikan pidato dirinya diadukan dengan tuduhan menyebarkan ujaran kebencian.

"Sempat traumatik juga, rasanya kayak tahun lalu. Mudah-mudahan enggaklah. Saya kan pernah 411, seperti orang naik haji umroh rasanya biasanya pengen balik lagi. 411 lalu ada 212, Alhamdulilah setelahnya ada reuni ini. Menurut saya, ini bukan reuni, tapi ini bisa annual," ucapnya.

Saat aksi 411 Dhani dilaporkan sebagai karena orasinya dinilai menyebarkan kebencian terhadap Presiden Joko Widodo. Kemudian, oleh organisasi masyarakat Pro Jokowi dan Laskar Rakyat Jokowi, ia diadukan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya, Minggu (6/11).

GNPF Ingin 212 Jadi Acara Tahunan

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia Bachtiar Nasir juga mengatakan bahwa acara 212 diharapkan dapat menjadi acara tahunan. "Saya belum berani katakan itu kita lihat perkembangannya, tapi kalau bisa setiap tahun lebih baik," ucap Bachtiar.

Bachtiar menilai bahwa aksi ini tidak menimbulkan masalah dan berjalan dengan damai. Walaupun di tahun lalu menimbulkan polemik tersendiri.

"Aparat jamin tidak ada kerusuhan, dan saya dengar ini semata-mata ingin reuni, ingin Maulid, saya kira janganlah disalahpahami kalaupun ada masa lalu saya kira sudahilah. Ini waktunya bangun kebersamaan," ujarnya.

Kemudian, ia berharap agar tidak ada lagi sekat-sekat baik secara intra umat Islam maupun inter umat Islam dan non Islam, begitu juga antara kelompok ini dengan kelompok lain yang kemarin sempat bersitegang. Misalnya rombongan peserta 212 dengan Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

"Saya tidak mau itu ada lagi, kemudian antara kita dan rezim pemerintah, saya tidak mau ada lagi gontok-gontokan. Mari bangun bangsa bersama ini waktunya bangun peradaban," kata Bachtiar.

Baca juga artikel terkait AKSI 212 atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Politik
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Agung DH