STOP PRESS! Hasil Pembicaraan Menlu & Kedubes AS Soal Penolakan Jenderal Gatot

Ahli Ungkapkan Alasan Ketatnya Persaingan di Gerbong Wanita

Ahli Ungkapkan Alasan Ketatnya Persaingan di Gerbong Wanita
Gerbong Kereta Api khusus wanita. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
19 Mei, 2017 dibaca normal 1:30 menit
Mengingat seluruh penumpang adalah sesama perempuan, kadang timbul perasaan setara yang bisa meningkatkan kemungkinan friksi karena tidak ada yang mau mengalah.
tirto.id - Beberapa waktu lalu, perjalanan kereta api di gerbong khusus wanita pada jam sibuk diwarnai pertengkaran saling jambak yang viral

Psikolog Ajeng Raviando mengungkapkan, mengingat seluruh penumpang adalah sesama perempuan, kadang timbul perasaan setara yang bisa meningkatkan kemungkinan friksi karena tidak ada yang mau mengalah.

Setiap orang merasa mempunyai hak sama untuk bisa duduk nyaman di gerbong itu, tak peduli apakah ada orang lain yang punya kebutuhan khusus seperti hamil, membawa anak, lanjut usia atau sakit dan tidak kuat berdiri lama.

Ketika pergi dan pulang dengan kereta penuh perjuangan di mana jumlah penumpang dan gerbong tidak sebanding, setiap orang pasti merasa lelah dan stres, apalagi bila terhimpit di gerbong padat yang sumpek itu terjadi setiap hari.

"Karena sudah terjadi rutin, pada akhirnya mengikis empati individu," kata Ajeng kepada Antara, Kamis (18/5/2017).

Ketika perempuan hamil, membawa anak atau sudah lanjut usia yang berdiri, mereka yang duduk mungkin tetap cuek meski menempati kursi prioritas.

Salah seorang penumpang, Sekar (27) pernah meminta haknya duduk di kursi prioritas karena dia sedang hamil, tapi ditolak mentah-mentah.

"Padahal dia tidak hamil, tapi dia bilang 'Tidak mau, saya kan sudah duluan'," kata Sekar yang mengalah dan mencari kursi prioritas di tempat lain.

Sementara itu, Juneman Abraham, psikolog sosial dari Universitas Bina Nusantara, menjelaskan fenomena perilaku agresif di gerbong wanita disebabkan oleh persaingan antarperempuan.

Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa hubungan antarperempuan sesungguhnya penuh persaingan.

"Persaingan dalam konteks ini bermakna perjuangan untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas, baik sumber daya fisik (makanan, tempat) maupun sumber daya psikologis atau emosional (cinta) dan sosial (status, kedudukan),' tulisnya melalui surel kepada Antara.

Berdasarkan penelitian lintas budaya, sejak zaman purba hingga sekarang perempuan jarang membentuk kelompok dengan perempuan lain yang tidak punya hubungan sama sekali dengannya.

Hubungan yang dia maksud adalah hubungan darah atau persahabatan, sebaliknya rata-rata lelaki lebih bisa berkelompok dengan orang yang tak ada hubungan erat, tapi mereka disatukan atas dasar lain, misalnya keahlian.

Ini membuat perempuan menganggap perempuan lain yang tidak berhubungan dengannya sebagai "saingan".

Juneman mengatakan sesama perempuan merasa perlu bersaing keras satu sama lain karena saat ini pada masyarakat status dan posisi perempuan masih lebih rendah dari laki-laki. 

"Itu membuat perempuan seringkali membentuk kelompok ekslusif," katanya, menambahkan anggotanya adalah orang yang dianggap bisa memberikan bantuan dan dukungan.

Di dalam kelompok sendiri, perempuan tidak mengizinkan ada persaingan karena mereka mementingkan kerja sama. 
Tetapi di luar kelompoknya, perempuan bisa jadi lebih agresif untuk meneguhkan posisi dirinya di atas perempuan lain yang tidak berhubungan.

"Hal tersebut adalah hal pertama yang yang menjelaskan mengapa perempuan (umumnya tidak saling kenal) bisa jambak-jambakan di gerbong wanita."

Di sisi lain, mayoritas perempuan bersaing secara tersamar agar mereka tidak terlihat sangat kompetitif. Perempuan ingin tujuannya tercapai, tapi jangan sampai ada pembalasan terutama fisik.

"Peneguhan posisi diri perempuan secara tersamar itu juga yang menjadi sebab mengapa perempuan bisa pura-pura tidak melihat atau tidur meskipun ada perempuan hamil di sekitarnya sedang membutuhkan tempat duduk di KRL."

Sosiolog Nia Elvina berpendapat akar masalah dari fenomena ini adalah pelayanan transportasi publik yang masih buruk. Jumlah gerbong yang tidak bisa menampung jumlah penumpang memicu orang bersikap tidak manusiawi.


Baca juga artikel terkait GERBONG PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - rat/rat)

Keyword