Menuju konten utama

7 Fakta Kontroversi Film The Assassin(s) yang Gegerkan Korea

Film The Assassin(s) yang baru saja dirilis di Korea Selatan membuat gempar. Cerita politik di dalamnya dinilai bertolak belakang dari sejarah resmi.

7 Fakta Kontroversi Film The Assassin(s) yang Gegerkan Korea
The Assassin(s). youtube/EonTalk
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Film thriller sejarah Korea Selatan, The Assassin(s), memicu kontroversi setelah dirilis pada 23 September 2026. Film yang dibintangi Yoo Hae-jin, Park Hae-il, dan Lee Min-ho ini menuai kritik dari kalangan politikus konservatif dan sejumlah kelompok masyarakat karena dianggap mendistorsi sejarah.

Yang membuat film ini kontroversial adalah penggambaran peristiwa sejarah khususnya segmen percobaan pembunuhan terhadap Presiden Korea Selatan Park Chung-hee pada 1974 yang justru menewaskan istrinya, Yuk Young-soo. Selain dianggap mendistorsi sejarah, film ini juga dinilai menyinggung keluarga mendiang ibu negara.

Tak hanya itu, kelompok konservatif bahkan menggelar aksi protes di luar rumah yang diyakini milik aktor utama Yoo Hae-jin. Kontroversi berlanjut hingga sejumlah agenda promosi The Assassin(s) di Festival Film Internasional Busan dibatalkan.

Fakta-Fakta Kontroversi Film The Assassin(s) di Korea Selatan

Berikut sejumlah fakta-fakta terkait kontroversi yang menyelimuti film Korsel The Assassin(s):

1. Mengangkat percobaan pembunuhan Park Chung-hee pada 1974

The Assassin(s) merupakan film thriller sejarah Korea Selatan yang ceritanya mengambil latar peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Korea Selatan saat itu, Park Chung-hee, pada 1974. Namun, peristiwa tersebut justru berakhir dengan tewasnya istri Park, Yuk Young-soo, yang saat itu menjabat sebagai ibu negara.

Film ini mengembangkan kisah melalui sudut pandang penyelidik fiktif yang mempertanyakan kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam pemerintahan atau badan intelijen Park. Pendekatan tersebut menjadi salah satu sumber kontroversi karena menyentuh peristiwa sejarah yang memiliki arti penting dalam ingatan politik Korea Selatan.

Dalam catatan penyelidikan resmi, pelaku penembakan, Mun Se-gwang, dinyatakan bertindak atas arahan Korea Utara. Namun, alur The Assassin(s) menghadirkan penyelidik fiktif yang mempertanyakan apakah ada tokoh di dalam pemerintahan Korsel atau aparat intelijennya yang mungkin turut terlibat.

Perbedaan antara kesimpulan penyelidikan resmi dengan pertanyaan yang dikembangkan dalam cerita film inilah yang memicu perdebatan. Kelompok konservatif menilai penggambaran tersebut berpotensi mendistorsi sejarah dan menyinggung keluarga Yuk Young-soo yang masih hidup.

2. Kelompok konservatif menuntut film dihentikan dan pihak produksi meminta maaf

Sejumlah politikus dan kelompok konservatif Korea Selatan mengecam The Assassin(s) karena menilai film tersebut memberikan gambaran yang keliru mengenai peristiwa 1974. Mereka juga menuding penggambaran dalam film ini menghina keluarga mendiang Yuk Young-soo.

Kelompok-kelompok tersebut kemudian menyerukan penghentian penayangan film dan meminta produser serta para pemain menyampaikan permintaan maaf.

Di sisi lain, seperti diberitakan The Straits Times (4/10), tim produksi tetap menyatakan bahwa The Assassin(s) adalah karya fiksi. Ceritanya bukan upaya untuk menggantikan hasil penyelidikan resmi atau menetapkan versi baru mengenai siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.

3. Puluhan orang menggelar demo di luar rumah yang diyakini milik Yoo Hae-jin

The Korea Herald melaporkan, pada Minggu (4/10), sekitar 50 orang disebut berkumpul di luar sebuah rumah di Seoul yang diyakini milik Yoo Hae-jin, aktor utama "The Assassin(s)".

Kelompok konservatif yang terlibat dalam aksi tersebut menyerukan agar film dihentikan penayangannya dan menuntut permintaan maaf dari pihak produksi maupun para pemain.

4. Yoo Hae-jin dan Lee Min-ho mundur dari agenda promosi di Festival Film Busan

Tekanan terhadap The Assassin(s) turut memengaruhi kegiatan promosi film. Yoo Hae-jin dan Lee Min-ho dilaporkan menarik diri dari sejumlah agenda yang berkaitan dengan Festival Film Internasional Busan. Acara lain yang berhubungan dengan film tersebut juga dibatalkan karena kekhawatiran mengenai keselamatan.

Festival Film Internasional Busan merupakan salah satu ajang perfilman penting di Asia. Pembatalan agenda promosi membuat kontroversi film ini berdampak langsung terhadap kegiatan publik para pemain dan tim produksi, bukan hanya terhadap respons penonton di bioskop maupun media sosial.

5. Sineas Korea Selatan membela kebebasan penilaian penonton

Dilansir TV Chosun, pada Kamis (8/10), sekitar 20 sineas Korea Selatan menggelar konferensi pers darurat di Haeundae Event Plaza, Busan, untuk menyampaikan sikap mereka terhadap polemik The Assassin(s).

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain sutradara Jeong Ji-young dan Lee Myung-se, mantan kepala Korean Film Archive Kim Hong-joon, pimpinan Korea Film Producers' Association Lee Dong-ha, serta sejumlah perwakilan organisasi dan perusahaan perfilman.

Dalam pernyataan bersama, mereka mengatakan bahwa kritik dan perdebatan mengenai film merupakan hal yang wajar, terlebih ketika sebuah karya mengangkat peristiwa sejarah. Namun, mereka menilai perdebatan tersebut telah berkembang melampaui evaluasi terhadap film dan mulai digunakan sebagai alat pertarungan politik.

Para sineas menegaskan bahwa masyarakat seharusnya memiliki kebebasan untuk menonton karya tersebut dan membentuk penilaian sendiri. Mereka juga mengingatkan pentingnya prinsip yang jelas dalam penggunaan kewenangan publik, termasuk ketika permintaan data dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan oleh Majelis Nasional Korea Selatan.

Wakil Ketua Korea Film Producers' Association, Jeong Sang-min, menyampaikan kekhawatiran bahwa kontroversi tersebut telah mencapai tahap sumber daya publik digunakan untuk mendorong sanksi terhadap sebuah karya.

Menurutnya, jika pola semacam ini terus berulang, kegiatan kreatif di masa depan dapat mengalami pembatasan yang semakin besar.

Sutradara Jeong Ji-young turut mengkritik campur tangan politik dalam polemik tersebut. Ia menyatakan sebuah film tidak mungkin mewakili keseluruhan sejarah secara sempurna.

Namun, menurutnya, mempertanyakan berbagai teka-teki atau persoalan yang masih tertinggal dari suatu peristiwa sejarah merupakan bagian wajar dari tugas seniman, termasuk sutradara film.

Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa seluruh penggambaran sejarah dalam sebuah film harus diterima tanpa kritik. Para sineas justru mengakui bahwa masyarakat memiliki hak untuk tidak setuju dan memperdebatkan isi karya. Hal yang mereka persoalkan adalah ketika kritik berkembang menjadi tekanan politik yang berusaha menentukan apakah sebuah film boleh diputar atau harus dihentikan.

Dalam pernyataan bersama, para sineas juga menegaskan bahwa mereka tidak sedang berusaha menjamin kebenaran atau kesempurnaan The Assassin(s). Mereka tidak meminta masyarakat berhenti menentang film tersebut, tetapi mengingatkan agar politik tidak mengambil alih makna karya seni dan kebebasan penonton dalam menentukan penilaiannya.

6. Pemilihan The Assassin(s) sebagai film pembuka festival di Singapura ikut dipersoalkan

Kontroversi film tersebut turut meluas ke luar Korea Selatan setelah The Assassin(s) dipilih sebagai film pembuka Singapore International Film Festival. Partai konservatif People Power Party sebelumnya mengirimkan surat kepada direktur eksekutif festival untuk meminta agar pemilihan film tersebut dibatalkan.

Namun, pihak festival menyatakan akan tetap menayangkan The Assassin(s) sesuai rencana. Keputusan itu didasarkan pada proses seleksi independen yang menjadi bagian dari penyelenggaraan festival.

7. The Assassin(s) berhasil meraih lebih dari dua juta penonton

Di tengah kontroversi yang terus berkembang, The Assassin(s) mencatat pencapaian komersial dengan melampaui dua juta penonton pada 3 Oktober 2026, yakni hari ke-11 sejak film tersebut dirilis. Angka tersebut merujuk pada data Korean Film Council, lembaga yang mencatat perkembangan industri perfilman Korea Selatan.

Pencapaian itu menunjukkan bahwa film tetap menarik perhatian penonton di tengah kritik politik, polemik mengenai penggambaran sejarah, dan gangguan terhadap kegiatan promosinya.

Baca juga artikel terkait FILM KOREA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar