Menuju konten utama

18 Pekerja Media, Gelar Pameran "Damn, We Love Jogja"

18 orang profesional di bidang artistik media melaksanakan pameran di Bentara Budaya Yogyakarta dengan tema "Damn We Love Jogja." Pameran yang berlangsung hingga 30 Juli 2016 itu sebagai wujud ungkapan rasa cinta para pelukisnya pada Yogyakarta. 

18 Pekerja Media, Gelar Pameran
Pengunjung menyaksikan pameran lukisan "Damn We Love Jogja" oleh kelompok MediArt di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran berlangsung sampai tanggal 30 juli 2016 (28/7).tirto/Aya

tirto.id - Pameran lukis “Damn, We Love Jogja” merupakan pameran karya dari hasil kesan para pelukis yang merasakan kemegahan Yogyakarta sebagai kota pendidikan, wisata, dan budaya. Ada 18 pekerja media dengan 33 karya yang dipamerkan di Bentara Budaya, Yogyakarta.

Barlin Srikaton, sebagai ketua pelaksana pameran mengatakan, “Tema ini sebagai cerminan betapa kami, anggota MediArt, sangat mencintai Yogyakarta sebagai kota wisata, pelajar, kesenian, dan kebudayaaan.”

Pameran yang digelar hingga tanggal 30 Juli 2016 ini diikuti oleh seniman-seniman terkemuka yang juga sekaligus pekerja di media sebagai ilustrator, editor, dan ada pula yang sebagai penulis. Mereka antara lain, Agus salim, Barlin Srikaton, Bima Mantjoloputro, Coosmas Yunianto, Damar Sasongko, Diedie SW, Hadi Susanto, Henry Susilo, Hermanu, Herry Caos, Ika W. Burhan, Joni Hadi, T. Nurdjito, Rahadi Handining, Qibro Pandan, Wiediantoro, dan Yogi S.

Pameran dari para profesional bidang artistik ini secara kuat mengisyaratkan adanya rutinitas dan deadline yang harus mereka patuhi. Hal itu, terlihat jelas pada guratan-guratan dan cara mereka memoles warna dengan tajam di atas kanvas.

Frans Sartono mengatakan para profesional ini tetap mempunyai hasrat jiwa, atau passion di dunia seni rupa. Hasrat jiwa itu menyatukan mereka dalam wadah berkesenian lukis. Dengan hasrat jiwa pula mereka “sowan” ke Yogyakarta melalui Bentara Budaya Yogyakarta.

Melalui ruang pameran, para profesional di bidang ilustrasi media ini berdialog dengan masyarakat Yogyakarta. Jika ditanya mengapa judul meminajm bahasa Inggris. Frans menjawab bahwa judul tersebut mengingatkan pada pop culture yang tertera pada produk pakaian.

“Intinya sama, mengungkapkan rasa cinta tanah air, cinta Yogya dengan segala dinamika dan sejarahnya,” kata Frans.

Baca juga artikel terkait GAYA HIDUP atau tulisan lainnya dari Mutaya Saroh

tirto.id - Gaya hidup
Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh