100 Ribu Meninggal karena COVID, Tak Ada Ucapan Duka dari Jokowi

Oleh: Irwan Syambudi - 16 Agustus 2021
Dibaca Normal 1 menit
Dalam pidato kenegaraan hari ini, Jokowi tidak menyinggung maupun mengucapkan duka dan meminta maaf kepada korban pandemi yang meninggal.
tirto.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan soal penanganan pandemi COVID-19 dalam pidato Sidang Tahunan MPR di Jakarta, Senin (16/8/2021). Namun ia tak menyinggung 100 ribu lebih korban meninggal karena COVID-19, pun tak ada pernyataan duka.

Per 15 Agustus 2021 pemerintah mencatat sudah ada 117.558 orang yang meninggal karena COVID-19. Dalam beberapa pekan terakhir setiap hari penambahan orang yang meninggal karena COVID-19 selalu konsisten di atas 1.000 orang.

Namun itu nyatanya tak menjadi perhatian Jokowi. Ia tak menyinggung sama sekali soal korban pandemi.

Ia justru menjustifikasi kebijakan pemerintah yang kerap berubah dalam penanganan pandemi sebagai bentuk penyesuaian dengan kondisi di lapangan.

"Mungkin hal ini (kebijakan pengetatan tiap minggu) sering dibaca sebagai kebijakan yang berubah-ubah atau sering dibaca sebagai kebijakan yang tidak konsisten. Justru itulah yang harus kita lakukan untuk menemukan kombinasi terbaik antara kepentingan kesehatan dan kepentingan perekonomian masyarakat," kata Jokowi.

Jokowi mengklaim bahwa kesadaran masyarakat terhadap kesehatan semakin tinggi dan gaya hidup sehat menjadi membudaya setelah adanya pandemi COVID-19.

“Kesadaran dan antusiasme masyarakat untuk divaksin, memperoleh layanan kesehatan, memperoleh pengobatan, serta saling peduli juga semakin tinggi. Pandemi telah mengajarkan bahwa kesehatan adalah agenda bersama. Pandemi telah menguatkan institusi sosial di masyarakat, dan semakin memperkuat modal sosial kita. Jika ingin sehat, warga yang lain juga harus sehat,” kata Jokowi.

Presiden juga mengklaim penyediaan layanan kesehatan oleh pemerintah maupun swasta juga mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19. Layanan kesehatan di banyak daerah kata Jokowi bertambah cukup signifikan, baik dalam hal penambahan kapasitas tempat tidur, maupun fasilitas pendukungnya.

“Yang sangat mengharukan dan membanggakan adalah kerja keras dan kerja penuh pengabdian dari para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang lain,” katanya.

Ia menyampaikan apresiasi terhadap tenaga kesehatan, tapi tak menyinggung ratusan ribu nyawa yang meninggal karena COVID-19. Tak ada duka apalagi permintaan maaf seperti yang pernah diungkapkan oleh para pemimpin negara lainnya.

Misalnya, ketika lonjakan penularan COVID-19 bertambah 251 kasus dan 26 orang meninggal dalam sehari pada 12 Juni 2021 di Taiwan, Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen melalui akun Twitter pribadinya mengunggah video permintaan maaf.

“Setiap warga Taiwan yang pernah tertular virus Corona atau bahkan kehilangan nyawa mereka adalah bagian dari komunitas nasional kami. Sebagai Presiden, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan kedukaan dan permohonan maaf,” kata Presiden Tsai.

Atau seperti saat gelombang lonjakan COVID-19 terjadi pada Desember 2020 hingga Januari 2021, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengungkapkan permintaan maaf kepada rakyat karena saat itu, angka kematian akibat COVID-19 di Inggris tembus angka 100.000.

“Saya meminta maaf yang sedalam-dalamnya dan bertanggung jawab penuh atas nyawa-nyawa yang hilang. Sulit untuk menghitung duka yang diakibatkan hilangnya nyawa dengan cara yang tragis dalam setahun terakhir,” ucap Johnson dalam konferensi pers di Downing Street pada 26 Januari 2021 yang dilansir Telegraph.






Baca juga artikel terkait PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight