Menuju konten utama

Website Propaganda Meningkat, BNPT Minta Masyarakat Waspada

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  meminta agar masyarakat waspada terhadap berbagai macam propaganda kelompok teroris yang menyebarkan paham radikalisme melalui dunia maya.

Website Propaganda Meningkat, BNPT Minta Masyarakat Waspada
ilustrasi. [Foto/shutterstock]

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta agar masyarakat waspada terhadap berbagai macam propaganda kelompok teroris yang menyebarkan paham radikalisme melalui dunia maya.

Dari data yang didapat BNPT, pada tahun 1998, jumlah website yang menyebarkan propaganda radikalisme hanya berjumlah 12 buah. Jumlah tersebut meningkat hingga mencapai 2.650 website pada tahun 2003. Sedangkan data pada Januari 2014 menunjukkan bahwa jumlah tersebut meningkat drastis mencapai sekitar 9.800 website.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pengawasan dan Cegah Propaganda Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Kolonel Inf Dadang Hendrayudha, dalam acara bertajuk “Pelatihan Duta Damai Dunia Maya,” di salah satu hotel berbintang di Medan, Selasa, (5/4/2016).

Seperti yang diberitakan Antara, Rabu, (6/4/2016) Kolonel Inf Dadang mengatakan kelompok-kelompok radikal itu telah menggunakan pola baru dalam menyebarkan propagandanya.

“Dengan pasukan cyber yang cukup ahli, kelompok-kelompok radikal itu menggunakan perangkat dunia maya seperti website, media sosial, dan sosial messenger dalam menyebarkan propaganda dan merekrut calon anggota baru,” ungkap Kolonel Inf Dadang.

Menurut Kolonel Inf Dadang, pola baru di dunia maya tersebut berpotensi memunculkan sikap radikalisme di lingkungan remaja, kalangan terdidik, dan ruang terbuka.

“Bangsa Indonesia yang memiliki penduduk sekitar 255 juta jiwa dinilai sebagai salah satu sasaran "empuk" dalam penyebaran propaganda berisi radikalisme tersebut,” kata Kolonel Inf Dadang.

Dari jumlah penduduk sebanyak itu, ia memperkirakan bahwa sekitar 83,1 juta juwa penduduk Indonesia adalah pengguna internet dan 31,17 juta jiwa diantaranya menggunakan internet lebih dari tiga jam.

Sementara itu, data dari hasil survei Setara Institut menyebutkan, sekitar 72 juta jiwa rakyat Indonesia adalah penguna media Facebook dan 32 juta jiwa diantaranya menggunakan sosial media setiap hari. Di sisi lain, sejumlah 50 juta rakyat Indonesia tercatat menggunakan Twitter dengan kicauan hampir tiga juta kali per hari.

Dari jumlah tersebut, internet menjadi sangat potensial untuk dimanfaatkan kelompok-kelompok radikal untuk menyebarkan propagandanya. Kelompok radikal tersebut juga memperbanyak websitenya untuk memperluas propaganda.

"Semuanya berisi konten negatif dan propaganda," tegas Kolonel Inf Dadang.

(ANT)

Baca juga artikel terkait BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME atau tulisan lainnya

Reporter: Mutaya Saroh