Update Tanah Longsor di Ngetos, Nganjuk & Analisis Terbaru PVMBG

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 17 Februari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Secara umum lokasi bencana longsor di Ngetos, Nganjuk diperkirakan merupakan daerah lereng perbukitan dengan kemiringan lereng agak curam sampai curam.
tirto.id - Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati mengatakan hingga Selasa (16/2/2021) terdapat 101 warga Desa Ngetos masih mengungsi di halaman SD Negeri 3 Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Raditya mengatakan, longsor tersebut mengakibatkan 54 KK atau 186 warga terdampak, 12 warga meninggal dunia, 20 luka-luka dan 8 unit rumah warga rusak berat.

"Mereka yang luka mendapatkan perawatan medis di puskesmas setempat. Hingga semalam (16/2/2021), tujuh warga masih dinyatakan hilang. Tim gabungan terus berupaya untuk melakukan pencarian dan evakuasi korban yang diperkirakan tertimbun longsor," kata Raditya.

Raditya menambahkan, saat ini tim gabungan juga telah mengerahkan lima alat berat untuk membantu pencarian korban di lokasi longsoran.

Analisis penyebab longsor di Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk menurut Badan Geologi, PVMBG



Badan Geologi, PVMBG melalui keterangan tertulis mengatakan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan bencana tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Bencana gerakan tanah terjadi pada hari Minggu, 14 Februari 2021, pukul 18.00 WIB.

Penyebab longsor di Ngetos, Nganjuk

Faktor penyebab gerakan tanah atau longsor di Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk di antaranya,

- Kemiringan lereng yang curam.

- Tanah pelapukan dari endapan vulkanik yang gembur, sarang dan mudah luruh kena air.

- Longsoran pada bagian atas terjadi pada tanah pelapukan dan kontak dengan lapisan di bawahnya yang merupakan lapisan kedap air (lava) yang berfungsi sebagai bidang gelincir.

- Sistem penataan air permukaan (drainase) yang kurang baik dan tidak kedap air.

- Hujan yang turun dengan intensitas tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah.

Kondisi daerah bencana

Secara umum lokasi bencana diperkirakan merupakan daerah lereng perbukitan dengan kemiringan lereng agak curam sampai curam. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Madiun, Jawa (U. Hartono, dkk., P3G, 1992), daerah bencana tersusun oleh Morfoset Pawonsewu (Qp) yang terdiri dari breksi gunungapi, tuf aglomerat, dan lava andesit.

Berdasarkan Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah Bulan Februari 2021 di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Ngetos termasuk dalam zona potensi gerakan tanah Menengah - Tinggi.

Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Rekomendasi Badan Geologi, PVMBG

Mengingat curah hujan yang masih tinggi , maka untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda yang lebih besar, direkomendasikan sebagai berikut:

- Warga, aparat maupun tim yang bertugas untuk evakuasi harus mengantisipasi potensi longsoran susulan mengingat daerah tersebut masih rawan longsor serta material longsoran di hulu masih banyak terutama jika turuh hujan.

- Masyarakat di sekitar lokasi bencana/bahaya sebaiknya diungsikan dulu ke tempat yang lebih aman.

- Jika turun hujan sebaiknya aktivitas di sekitar lokasi bencana dihentikan dan penduduk/warga diungsikan untuk sementara.

- Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan dan segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat.

- Masyarakat setempat diimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dalam penangan bencana gerakan tanah.


Baca juga artikel terkait TANAH LONGSOR atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Agung DH
DarkLight