Untung Rugi Gerindra dan Prabowo Pertahankan Ahmad Dhani

Oleh: Gilang Ramadhan - 31 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Cara Gerindra membela Dhani dinilai akan menuai simpati, tapi di sisi lain status Dhani sebagai tervonis juga punya dampak negatif.
tirto.id - Status Ahmad Dhani selaku terdakwa yang sudah divonis dalam kasus ujaran kebencian dan pelanggaran UU ITE tidak mengubah keputusan Partai Gerindra. Dhani tetap dipertahankan sebagai kader partai dan calon anggota legislatif pada Pemilu 2019.

Wakil Ketua Umum Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad mengatakan tidak akan mencoret Dhani sampai ada putusan yang berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

"Kami membicarakan di internal bagaimana, karena, kan, keputusan terakhir partai, kan, ada di ketua dewan pembina nantinya," ujar Dasco di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Menurut Dasco, Dhani saat ini masih terdaftar sebagai calon tetap dan dicatat dalam surat suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Kecuali nanti ada keputusan, ada surat edaran dari KPU. Saya belum pelajari nih, katanya tentang orang yang sedang divonis dan menjalani hukuman penjara," ujarnya.

Dasco yang juga menjabat Direktur Hukum dan Advokasi BPN mengatakan, status Dhani selaku juru kampanye nasional tidak akan dicabut. Bahkan, Gerindra dan BPN Prabowo-Sandiaga tetap memberi bantuan hukum untuk Dhani.

"Kami berkomitmen untuk tetap memberi bantuan hukum kepada kader kami," tegasnya.


Dianggap Sebagai Korban


Di mata Dasco, penahanan terhadap Dhani adalah tindakan yang berlebihan. Pendapat ini dikemukakan Dasco dengan alasan Dhani selalu kooperatif selama proses penyidikan hingga sidang pembacaan putusan.

"Dia selama ini enggak pernah ditahan dari proses awal sampai menjalankan vonis," ujarnya.

Sementara itu, anggota Dewan Penasihat DPP Partai Gerindra, Muhammad Syafi'i berpendapat dirinya tak melihat perbuatan Dhani sebagai tindak pidana. Ia bahkan menuding jika Dhani jadi korban dari penegak hukum yang dijadikan alat penguasa. Oleh karena itu, Syafi'i merasa perlu menjadikan Dhani sebagai ikon Gerindra.

"Kami melihat Ahmad Dhani menjadi korban, matinya demokrasi, matinya kebebasan berpendapat. Dia malah jadi ikon buat kami," kata Syafi'i di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Infografik Ci Terjebak UU ITE WASALAM
Infografik Ci Terjebak UU ITE WASALAM



Pertaruhan Gerindra?


Menurut Pengajar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, dipertahankannya Ahmad Dhani tidak langsung bikin Gerindra rugi. Adi mengatakan, itu bergantung bagaimana Partai Gerindra memainkan simpati agar citra partainya tidak turun akibat kasus yang menyeret Dhani ke penjara.

"Tergantung bagaimana Gerindra mengkonsolidasi isu ke publik. Kalau narasi yang lebih kuat adalah Dhani dikriminalisasi, tentu Gerindra akan makin mendapat simpati," ujar Adi kepada reporter Tirto, Rabu (30/1/2019).

Adi melihat Gerindra akan terus memposisikan Dhani sebagai korban kriminalisasi. "Kesan terdzalimi itulah yang akan terus dikapitalisasi."

Sebaliknya, jika narasi tentang Dhani bersalah lebih kuat di masyarakat, Adi menyebut, itu bakal merugikan citra partai Gerindra dan paslon Prabowo-Sandiaga di Pemilu 2019. Ini karena keputusan Gerindra untuk tidak memecat Dhani akan menjadi blunder.

"Jika yang kuat [narasi] di rakyat Dhani bersalah, tentu sangat merugikan Gerindra karena tidak dipecat," ujarnya.

Saat ini, Adi menilai, Dhani merupakan aset bagi Gerindra dalam meraih suara demi memenangkan Pemilu 2019. Dhani dianggap sebagai pembawa pengaruh karena memiliki banyak penggemar.

Tak hanya bagi Gerindra, Dhani juga merupakan aset penting bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sadiaga Uno. Tak heran jika Dhani didapuk sebagai juru kampanye nasional BPN Prabowo-Sandiaga.

"Dhani populer, banyak penggemarnya yang masih loyal. Dia sangat efektif sebagai influencer yang menarasikan pesan-pesan oposisi," ujar Adi.

Baca juga artikel terkait KASUS AHMAD DHANI atau tulisan menarik lainnya Gilang Ramadhan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Bayu Septianto & Riyan Setiawan
Penulis: Gilang Ramadhan
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight