Advertorial

TikTok Dukung Keamanan Siber di Indonesia

Oleh: Advertorial - 22 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sepanjang semester I-2020, serangan siber yang terdeteksi masuk ke Indonesia lima kali lebih besar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
tirto.id - Pandemi telah memaksa banyak orang untuk berbenah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Di ranah digital, hasil survei JakPat bahkan menyebut Covid-19 sebagai game changer sebab telah menyebabkan perpindahan aktivitas luring ke daring dalam skala besar.

Sebagai gambaran, sebulan setelah penyakit yang disebabkan virus Corona itu dinyatakan Badan Kesehatan Dunia sebagai pandemi, pelanggan Indihome—salah satu jenama penyedia internet dalam negeri—meningkat antara 30-40 persen. Pada saat bersamaan, data McKinsey menunjukkan bahwa selama pandemi, rata-rata orang Indonesia menggunakan perangkat selama 6 jam sehari.

Tentu saja perubahan besar semacam itu kerap dibayangi risiko yang tak kalah besar. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan sepanjang semester I-2020 ada 149.783.617 serangan siber yang terdeteksi masuk ke Indonesia. Angka tersebut lima kali lebih besar dibandingkan serangan siber dalam periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Terkait itu, Onno W. Purbo, ahli teknologi informasi yang giat menyuarakan literasi digital, mendorong kolaborasi antar-pemangku kepentingan sebagai urusan yang perlu terus disuarakan dan diwujudkan. “Serangan siber memiliki dampak yang sangat besar, baik untuk perusahaan maupun pengguna, belum lagi jika urusan pemerintah terlibat,” kata Onno.

Seperti gayung bersambut, bertepatan dengan bulan keamanan siber dunia yang diperingati saban Oktober, Onno Center—lembaga think tank untuk sektor teknologi dan komunikasi yang didirikan Onno—bekerja sama dengan Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada meluncurkan buku putih alias whitepaper tentang keamanan siber di Indonesia.

"Perpindahan aktivitas ke ranah digital yang kemungkinan besar tetap terjadi setelah pandemi ini berakhir menuntut masyarakat untuk semakin meningkatkan literasi digitalnya, terutama dalam hal keamanan," kata Anisa Pratita Kirana Mantovani, Research Manager di CfDS.

Diketahui, buku putih merupakan laporan atau panduan resmi yang menginformasikan pembaca mengenai suatu masalah yang kompleks, dengan cara yang singkat, dan dimaksudkan untuk membantu mereka dalam memahami serta memecahkan masalah tersebut juga membuat keputusan terhadapnya.

Dalam konteks buku putih rilisan CfDS dan Onno Center, Anisa menegaskan bahwa selain sebagai sarana untuk meningkatkan literasi digital, penyusunan whitepaper ini juga dimaksudkan untuk memberdayakan para pengguna dalam mencegah dan menghadapi serangan siber, serta bagaimana para pemangku kepentingan lainnya dapat mengambil perannya.

Komitmen dan Sejumlah Rekomendasi

Keberadaan buku putih itu pun mendapat apresiasi dan dukungan dari TikTok, perusahaan global yang mengedepankan transparansi kepada publik dengan tetap menjunjung tinggi keamanan serta privasi pengguna.

"Kami mendukung kerja sama antara CfDS dan Onno Center dan menyambut rekomendasi untuk berkolaborasi lebih jauh dengan para pemangku kepentingan. Hal ini tentunya untuk meningkatkan keamanan serta memberdayakan pengguna agar lebih aman di internet," kata Donny Eryastha, Head of Public Policy TikTok Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Saat ini, TikTok memasuki tahun ketiga di Indonesia. Lebih dari sekadar platform, aplikasi yang digandrungi banyak kalangan ini telah menjadi semacam rumah bagi kreativitas masyarakat dari Sumatera hingga Papua. Sebab itulah Arjun Narayan, Director of Trust & Safety, TikTok APAC, menegaskan pihaknya berkomitmen untuk membangun lingkungan yang nyaman buat para pengguna, sekaligus melindungi keamanan platform dari tantangan industri.

“Kami ingin pengguna mendapatkan pengalaman internet yang terbaik, yang berarti bisa berkreasi dengan aman. Karena itulah, keamanan pengguna menjadi prioritas kami,” kata Arjun.

Whitepaper berjudul "Pentingnya Kemitraan untuk Memperkuat Keamanan Siber Indonesia" menyorot tren utama yang saat ini dan akan terjadi di dunia keamanan siber, serta memberikan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat keamanan siber, antara lain:
  • Pemerintah melanjutkan kepemimpinan di dalam transformasi digital, menciptakan regulasi yang sejalan dengan industri;
  • Pentingnya transparansi di tingkat perusahaan tentang kebijakan dan praktik keamanan siber, agar dapat memberikan keyakinan kepada pemangku kepentingan;
  • Peningkatan sumber daya melalui riset dan pengembangan, serta mempercepat literasi digital untuk memberdayakan pengguna dalam hal keamanan digital;
  • Kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk bersama-sama melindungi dunia siber.
Kajian "Pentingnya Kemitraan Untuk Memperkuat Keamanan Siber Indonesia" diluncurkan pada 20 Oktober 2020, bertepatan dengan peringatan bulan keamanan siber dunia. Publik dapat mengakses dokumen tersebut secara resmi di laman http://cfds.fisipol.ugm.ac.id/ dan onnocenter.or.id.
DarkLight